Santri Harus Mendunia Tanpa Kehilangan Jati Diri

Intisari Islam oleh Waktu baca 3 menit 473x dilihat
Santri Harus Mendunia Tanpa Kehilangan Jati Diri

Bagikan Postingan

Kincai Media,JAKARTA -- Santri masa kini dituntut tidak cuma memiliki kedalaman ilmu kepercayaan dan kematangan spiritual, tetapi juga menguasai sains, teknologi, bahasa asing, serta keahlian ahli agar bisa bersaing di tingkat nasional maupun global. Meski dituntut adaptif terhadap evolusi zaman, santri mesti statis menjaga tradisi pesantren, ketawadhuan, dan adab sebagai fondasi jati diri.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pesantren, KH Ahmad Fahrur Rozi mengatakan, santri masa kini mesti memiliki kedalaman ilmu agama, keluasan wawasan, dan kapasitas menjawab tantangan zaman. Santri mesti bisa berkecimpung di beragam bidang, mulai dari pendidikan, sains, teknologi, ekonomi, hingga kepemimpinan. 

"Penguasaan bahasa Arab dan Inggris sangat krusial agar santri mampu mendalami khazanah keilmuan Islam sekaligus terhubung dengan bumi internasional. Namun, santri bukan sekadar orang yang pernah belajar di pesantren. Jati diri santri mesti tercermin dalam wirid, tirakat, tawadhu, dan akhlaknya," kata Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang Malang yang dekat disapa Gus Fahrur kepada Republika, Rabu (21/10/2026)

Ia menegaskan, santri mesti cerdas pikirannya, kuat spiritualitasnya, dan nyata pengabdiannya kepada umat dan bangsa.

Menurutnya, pesantren terus berkembang dengan mengintegrasikan pendidikan agama, pendidikan formal, sains, teknologi, bahasa asing, dan keahlian hidup. Perkembangan ini krusial untuk mempersiapkan santri menghadapi tantangan masa depan. 

Namun, Gus Fahrur mengingatkan, modernisasi tidak boleh menghilangkan ruh pesantren. Penguasaan buku kuning, tradisi keilmuan, wirid, tirakat, ketawadhuan, dan keteladanan ulama mesti statis menjadi fondasi. 

"Pesantren bukan sekadar tempat mencetak orang pintar, melainkan tempat membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual," ujarnya.

Gus Fahrur mengatakan, pesantren mesti semakin luas membuka ruang bagi penguasaan sains, teknologi digital, bahasa asing, kewirausahaan, dan keahlian profesional. Bahasa Arab krusial untuk memperdalam khazanah keilmuan Islam, sedangkan bahasa Inggris membuka akses terhadap evolusi ilmu pengetahuan dan pergaulan internasional. 

Ia mengingatkan, santri mesti memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi ilmuwan, profesional, pengusaha, dan imam di tingkat nasional maupun global. Namun, semakin tinggi ilmu dan jabatan seseorang, semakin kuat pula seharusnya tawadhu dan tanggung jawab moralnya. Kemajuan ilmuwan mesti berjalan seiring dengan kematangan spiritual.

Gus Fahrur mengatakan, pesantren memiliki hakikat al-muhafazhah 'alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yaitu menjaga tradisi durasi yang baik dan memungut hal baru yang lebih baik. Teknologi, bahasa, dan metode pembelajaran boleh berkembang, tetapi wirid, tirakat, tawadhu, adab kepada guru, dan keteladanan tidak boleh ditinggalkan. Semua itu merupakan bagiankecil krusial dari pembentukan karakter dan kedalaman spiritual santri. 

"Kita tidak mau melahirkan generasi yang dahsyat secara akademik, tetapi kering secara rohani. Santri mesti maju dalam ilmu pengetahuan dan bisa berkomunikasi dengan bumi internasional, tetapi statis rendah hati, kuat adabnya, dan teguh memegang nilai-nilai Islam," ujarnya.

Menurutnya, santri masa depan mesti memiliki kedalaman ilmu agama, kematangan spiritual, kapasitas berpikir kritis, penguasaan teknologi, kemahiran bahasa Arab dan Inggris, serta keahlian ahli dan kewirausahaan. Semua itu mesti ditopang oleh integritas moral. 

Wirid menjaga hubungan santri dengan Allah, tirakat melatih keseriusan dan pengendalian diri, sedangkan tawadhu menjaga ilmu agar tidak melahirkan kesombongan. Dengan bekal tersebut, santri tidak cuma bisa bersaing di bumi kerja, tetapi juga melanjutkan pendidikan dan membangun jejaring keilmuan internasional. 

"Kita mau santri menguasai ilmu kepercayaan dan ilmu pengetahuan modern, bisa berkomunikasi dengan dunia, serta statis berakar kuat pada tradisi pesantren. Santri mesti bisa mendunia tanpa kehilangan jati diri, menguasai teknologi tanpa kehilangan adab, dan meraih kemajuan bumi tanpa melupakan akhirat," ujar Gus Fahrur.

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads