Pemimpin itu mesti gampang diakses
Seorang imam seringkali hidup berjarak dari rakyatnya. Padahal, imam dahsyat seperti Nabi ﷺ tidak memiliki rentang signifikan dengan rakyatnya. Siapa saja bisa menemui Nabi ﷺ, bertanya, dan melaporkan beragam perkara. Hal ini juga ditiru oleh Khulafaur Rasyidin.
Oleh karena itu, Thahir mewasiatkan,
وأكثر الإذن للناس عليك وأبرز لهم وجهك وسكن لهم أحراسك واخفض لهم جناحك وأظهر لهم بشرك ولن لهم في المسألة والمنطق واعطف عليهم بجودك وفضلك
“Biarkan orang sering datang menemuimu, tunjukkan wajahmu kepada mereka (temui langsung). Janganlah penjagamu menghalangi mereka. Rendahkan hatimu kepada mereka. Perlihatkan kepada mereka senyummu. Bersikaplah halus kepada mereka ketika engkau menyampaikan pertanyaan dan berbicara kepada mereka. Kasihi mereka dengan kemurahan hati dan keutamaanmu.”
Mungkin ada yang beralasan, “Kan era Nabi kelompok masyarakatnya statis kecil.” Sebenarnya pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Karena kelompok muslim pada akhir-akhir perjuangan Nabi ﷺ sudah cukup besar, meliputi Madinah, Mekah, dan beberapa kota lain. Namun, pernyataan ini kian terbantahkan ketika kita refleksikan pada kepemimpinan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan setelahnya. Umar radhiyallahu ‘anhu datang di tengah masyarakat, menerima aduan, menjawab persoalan, terlebihlagi menjemput masalah. Salah satunya adalah kisah Umar yang mendengarkan seorang ibu yang sedang memasak batu untuk menenangkan hati anaknya yang kelaparan. Umar terbiasa berkeliling di malam hari dan memanggul sendiri pertolongan kepada kaum muslimin. Ini memberitahu tidak ada rentang yang signifikan antara imam dengan rakyatnya.
Jadilah ramah dan ikhlas melakukannya
Thahir berwasiat,
وإذا أعطيت فأعط بسماحة وطيب نفس والتمس الصنيعة والأجر غير مكدر ولا منان فإن العطية على ذلك تجارة مربحة إن شاء الله
“Jika engkau memberi, lakukanlah dengan ramah dan hati bersih. Lakukan demi mencari kebaikan dan pahala di akhirat. Lakukan tanpa menimbulkan masalah dan tanpa mengungkit-ungkit kepada siapa engkau memberi dengan harapan mendapat imbalan. Sebab, pemberian tersebut akan menjadi transaksi yang menguntungkan, jika Allah ﷻ menghendaki.”
Ini menjadi pengingat bagi siapapun, khususnya imam untuk ikhlas dalam beramal. Banyak kita dapati ketika musim pemilihan, para caleg dan beragam calon petinggi turun ke penduduk memberikan pelbagai pemberian. Mulai dari yang murah-murah sampai hadiah-hadiah besar semisal umroh dan sebagainya. Namun, kita semua mengetahui bahwa tujuan pemberian itu untuk membujuk penduduk memilihnya di bilik suara. Bahkan sebagian lagi melakukannya tidak dengan metode yang halus, tetapi terang-terangan dan menakut-nakuti siapapun yang tidak memilihnya padahal telah diberi. Ini adalah kenyataan yang gampang kita temui. Oleh karena itu, sangat pas wasiat ini untuk kita pelajari dan amalkan di masa kini.
Belajarlah dari imam terdahulu
Kepemimpinan adalah suatu cabang hayat yang teramat kompleks. Bidang ini cuma bisa dijalankan dengan perpaduan ilmu, pengalaman, dan taufik dari Allah ﷻ. Karena ada banyak dimensi kepemimpinan yang tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara logis. Ada seni dalam mengepalai yang cuma dapat diwariskan dari meneladani imam yang telah mendahului kita. Tentu saja sosok yang diteladani adalah yang berhasil menjadi imam bagi masyarakatnya.
واعتبر بما ترى من أمور الدنيا ومن مضى من قبلك من أهل السلطان والرياسة في القرون الخالية والأمم البائدة ثم اعتصم في أحوالك كلها بأمر الله والوقوف عند محبته والعمل بشريعته وسنته وإقامة دينه وكتابه واجتنب ما فارق ذلك وخالفه ودعا إلى سخط الله
“Ambillah pelajaran dari urusan bumi yang engkau amati sendiri, dan dari orang yang berkuasa dan yang mengepalai sebelum Anda pada kurun-kurun dahulu dan di antara bangsa-bangsa yang telah lenyap. Kemudian, dalam segala keadaanmu, carilah perlindungan kepada Allah ﷻ, bersandarlah kepada cinta-Nya, bertindaklah sesuai dengan hukum dan sunah-Nya, serta tegakkanlah kepercayaan dan buku suci-Nya. Hindarilah hal-hal yang berbeda dari itu, maupun yang bertentangan dengannya, dan yang mengundang murka Allah ﷻ.”
Nasihat Thahir ini mengumpulkan ketiga sisi tersebut: ilmu, pengalaman, dan taufik. Ilmu diraih dengan belajar dan menjadikan orang berilmu sebagai sirkel terdekat pemimpin. Pengalaman didapatkan dari memungut keteladanan para imam terdahulu. Sedangkan taufik Allah ﷻ kita harapkan dengan menjaga hukum Allah ﷻ serta memungut mutiara hayat dari wahyu-Nya.
Hati-hati dari harta haram
Masalah kepemimpinan juga sangat erat dengan harta yang terkumpul di tangan seorang pemimpin. Hal yang lebih mengerikan adalah harta tersebut bukanlah miliknya, tetapi ia punya kuasa bebas menggunakannya. Jika seseorang tidak memiliki rambu yang kuat, niscaya ia akan jatuh ke dalam permasalahan besar.
Bukan cuma memasang pembatas pada diri sendiri, tetapi seorang imam wajib menjaga diri para pegawainya. Batas-batas ketat itu wajib ia pasang pula pada tim yang membersamainya. Karena satu maksiat yang dilaksanakan kawan seperjuangan, akan mempengaruhi keseluruhan perjuangan.
واعرف ما تجمع عمالك من الأموال وما ينفقون منها ولا تجمع حراما ولا تنفق إسرافا
“Kenalilah apa saja harta yang dikumpulkan para pegawaimu, dan apa saja di antaranya yang mereka belanjakan. Janganlah engkau kumpulkan harta haram dan jangan engkau pergunakan harta (umat) dengan boros.”
Wasiat Thahir yang begitu elok ini juga mengingatkan kita balik pada sebuah hadis,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ…
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari hariakhir sampai dia ditanya tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya…” (HR. Tirmidzi)
Perkataan Thahir ini perlu kita pajang di instansi sebagai pengingat agar jangan sekali-kali mencoba duit haram. Juga jangan sekali-kali merasa bebas menghamburkan harta milik umat.
لا تجمع حراما ولا تنفق إسرافا
“Janganlah engkau kumpulkan harta haram dan jangan engkau pergunakan harta umat dengan boros.”
Sehingga ketika hendak mark-up anggaran, akan teringat tentang beratnya urusan ini. Ketika hendak membikin program yang tidak efektif, akan teringat bahwa ini bukan sekadar berbagi kenikmatan dunia. Ketika hendak memainkan anggaran untuk masuk ke dalam kantong pribadi, jadi teringat bahwa konsekuensi yang ditanggung amatlah besar. Semoga ini cukup menjadi pengingat bagi batin kita semua.
Perhatikan, siapa yang menjadi sirkel utama?
Masalah ring 1 bagi imam adalah hal yang sangat penting. Mungkin itulah yang menjadi alas Thahir berulang kali mengingatkan hal ini. Beliau balik membujuk seorang imam untuk berjalan berbareng para ahli ilmu.
وأكثر مجالسة العلماء ومشاورتهم ومخالطتهم
“Sering-seringlah duduk berbareng para ulama, berembuk dengan mereka, dan berbaur berbareng mereka.”
Tidak cuma dengan ahli ilmu, tetapi juga hidup berbareng ilmu. Dalam rupa mempelajarinya, menjalankannya, serta mewujudkannya dalam keseharian sehingga menjadi karakter.
وليكن هواك اتباع السنن وإقامتها وإيثار مكارم الأمور ومعاليها
“Jadikan kesenanganmu adalah mengikuti dan menegakkan sunah Nabi, serta lebih mengutamakan karakter adab mulia dan agung.”
Beliau juga memberikan anjuran prioritas dalam sirkel, serta menghargai kawan yang paling jujur dalam memberikan nasihat.
وليكن أكرم دخلائك وخاصتك عليك مَن إذا رأى عيبًا لم تمنعه هيبتُك من إنهاء ذلك إليك في ستر، وإعلامك بما فيه من النقص، فإن أولئك أنصح أوليائك ومظاهريك.
“Hendaklah yang paling engkau hormati di antara sirkel khusus dan ring utamamu adalah orang yang ketika melihat kesalahan pada dirimu, tidak terhalang oleh kewibawaanmu untuk menyampaikan kekurangan itu kepadamu, secara rahasia maupun secara langsung. Orang seperti itulah yang menjadi kawan dan penolong yang paling tulus.”
Baca juga: Persahabatan yang Sampai ke Surga Selamanya
Kerja ampuh dengan fokus pada setiap agenda
Seorang imam pasti sangat sibuk karena yang diurusnya begitu banyak. Apalagi di era modern ini, kompleksitas permasalahan terus meningkat. Oleh karena itu, seorang imam mesti memiliki keahlian bekerja ampuh dan pandai mengatur waktu. Thahir memberikan wasiat yang cukup mendetail di sini:
Pertama, perhatikan para pegawai yang datang di kediamanmu, dan juga pada sekretarismu.
Kedua, tetapkan waktu setiap hari untuk masing-masing mereka, yang memungkinkannya menghadap Anda dengan membawa seluruh dokumen, perintah, kebutuhan semua pejabatmu, serta urusan negara dan rakyatmu, yang dimilikinya.
Ketiga, fokuskan pendengaran dan penglihatanmu, pikiran dan akalmu, terhadap semua yang disampaikannya kepadamu.
Keempat, perhatikan dan pertimbangkan hal itu secara berulang-ulang.
Kelima, jika itu sesuai dengan yang sebenarnya dan meyakinkan, maka laksanakanlah seraya memohon istikharah kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung.
Keenam, jika itu bertentangan dengannya, maka periksalah permasalahannya dan hendaklah engkau menyelidikinya kembali.
Menjadi pribadi multitasking tidaklah menaikkan efektivitas kerja. Justru dengan fokus, masalah yang dapat diurai bisa tuntas satu per satu. Hasilnya juga memuaskan dan konsekuensi kesalahannya rendah. Maka, seorang imam didorong untuk fokus dalam memberikan keputusan eksekutif.
Thahir juga mengingatkan, “Jangan mengungkit-ungkit pada rakyatmu kebaikan yang pernah engkau berikan dengan mengharapkan imbalan. Janganlah engkau menerima pemberian dari seorang pun kecuali kesetiaan, keterusterangan, dan sokongan untuk urusan imam kaum muslimin. Jangan engkau lakukan hal-hal kebaikan kecuali dalam kondisi ini.”
Para imam layak memegang wasiat Thahir
Di akhir suratnya, Thahir beramanat agar anaknya memegang teguh isi suratnya ini. Beliau berkata, “Pahamilah suratku kepadamu ini. Pelajari secara cermat dan selalu beraksi sesuai dengannya. Memohonlah kepada Allah untuk membantu dalam semua urusanmu. Mintalah instruksi kepada-Nya ketika engkau mesti berbuat sesuatu. Allah selalu berbareng kebaikan dan para pelakunya.”
Hendaklah langkahmu yang paling krusial dan keinginanmu yang terbesar dilakukan sesuai dengan yang diridai oleh Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, demi hukum agama-Nya, demi kemuliaan dan keteguhan kepada umat-Nya, serta demi keadilan dan kesejahteraan pada Islam dan ahli dzimmah. Aku memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan dan keberhasilan serta instruksi dan perlindungan bagimu. Wassalam!
Imam At-Thabari dalam Tarikh Al-Umam wal Mulk (5: 156) menerangkan bahwa Abdullah bin Thahir memegang wasiat ini sepenuhnya. Lalu jadilah kepemimpinan Abdullah sebagai kepemimpinan yang luar biasa.
وتوجه عبد الله إلى عمله فسار بسيرته، واتبع أمره، وعمل بما عهد إليه
“Kemudian Abdullah berangkat menuju tempat tugas dan daerah pemerintahannya. Ia menempuh jalan yang telah digariskan ayahnya, mengikuti perintah-perintahnya, dan melaksanakan pesan serta wasiat yang telah dipercayakan kepadanya.”
Mutiara hikmah
Dari panjangnya surat Thahir kepada anaknya, Abdullah, kita bisa memungut beberapa inti pesan kepemimpinan, yakni:
Pertama, menjalankan kepemimpinan dengan penuh ketakwaan kepada Allah ﷻ dan ikhlas mengharapkan wajah-Nya.
Kedua, berlaku fair dan memenuhi hak siapapun.
Ketiga, mengelilingi diri dengan ahli ilmu dan orang berkompeten.
Keempat, menjaga diri dari para penjilat dan orang-orang yang buruk.
Hal menarik dari wasiat Thahir adalah sifatnya yang komprehensif menggabungkan harga kepemimpinan profetik serta relevansinya dengan keadaan lintas zaman. Ia mewasiatkan untuk bertakwa dan memegang teguh sunah. Namun, di saat bersamaan, ia mewasiatkan strategi teknikal dalam pengelolaan tim dan juga kemasyarakatan yang sangat modern.
Semoga Allah memberikan taufik bagi kita untuk menjadi imam yang terbaik. Wallahu waliyut taufiq.
[Selesai]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media