Kincai Media , JAKARTA -- Para rasul Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW, melakukan jual-beli di pasar. Dalam perihal ini, mereka seperti layaknya manusia biasa.
Pasar terdiri atas semua pengguna potensial yang mempunyai kebutuhan dan kemauan tertentu yang sama, yang mungkin bersedia dan bisa melaksanakan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan dan kemauan itu. Dahulu, pasar merupakan tempat pembeli dan penjual berkumpul untuk mempertukarkan barang-barang mereka.
Ekonom menggunakan istilah pasar untuk merujuk pada sekumpulan pembeli dan penjual yang melakukan transaksi atas produk alias kelas produk tertentu. Alhasil, muncul istilah pasar kambing, pasar sapi, pasar perumahan, pasar tenaga kerja, dan lain-lain.
Yang dimaksud dengan produk itu dapat berupa barang, jasa, alias informasi. Pelaku upaya menggunakan istilah pasar untuk mengelompokkan pengguna sehingga pasar dapat terdiri atas pasar konsumen, pasar organisasi dan pasar industri. Adapun pemasar memandang penjual sebagai industri dan pembeli sebagai pasar.
Alquran menyebut bahwa para rasul Allah melangkah di pasar-pasar. "Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, 'Mengapa Rasul (Muhammad) ini menyantap makanan dan melangkah di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan berbareng dia'" (QS al-Furqan: 7).
Menurut Ibnu Katsir, ayat tersebut menceritakan sikap kepala batu orang-orang kafir yang mengingkari kenabian Rasulullah SAW dengan argumentasi dan argumen yang sederhana serta menertawakan. Akal dan pikiran mereka tidak bisa menerima bahwa seorang utusan Allah adalah manusia biasa seperti mereka, ialah yang menyantap makanan dan melangkah masuk-keluar pasar untuk mencari nafkah.
Al-Maraghi menafsirkan ayat tersebut bahwa Allah menceritakan kaum musyrikin menyebut sifat-sifat yang menurut mereka menyebabkan Rasulullah SAW tidak dapat menjadi utusan Allah. Seakan-akan mereka berkata, "Apa yang melebihkannya (Muhammad SAW) atas kita dan membuatnya mengaku-aku kenabian, sedangkan dia makan seperti kita makan dan dia minum sebagaimana kita? Dia melangkah di pasar-pasar untuk mencari rezeki, sebagaimana kita melakukannya. Jadi, dia seperti kita juga."
Menurut mereka, seorang rasul tidak makan, tidak minum, dan tidak mencari rezeki. Seakan-akan mereka berkata, ”Mengapa tidak diberi kelebihan (kenabian) atas kita?”
Dalam menafsirkan ayat di atas, Abu Ja’far menyatakan, seakan-akan orang-orang musyrik berkata, dengan nada meledek, "Mengapa tidak dijatuhkan kepadanya (Muhammad SAW) kekayaan dari emas dan perak, sehingga tidak perlu bersusah payah mencari kehidupan?"
Pada intinya, orang-orang kafir nan musyrik itu berbicara demikian tidak lain disebabkan oleh kelemahan dan kepicikan otak. Sebab, perbedaan para rasul dengan manusia lainnya tidak terletak pada perkara-perkawa indrawi, melainkan sifat-sifat ruhaniah dan kejiwaan. Allah membikin jiwa para utusan-Nya bersih.
sumber : Hikmah Republika oleh Prof Dr M Suyanto
English (US) ·
Indonesian (ID) ·