Mengenal Ciri-Ciri Pola Asuh Permisif, Apa Bunda Termasuk?

Jul 02, 2026 08:30 PM - 1 bulan yang lalu 32255

Ada beragam jenis pola asuh yang bisa diterapkan orang tua kepada anak. Tentu saja, setiap Bunda dan Ayah memilih style parenting yang sesuai dengan nilai keluarga.

Dalam studinya di tahun 1967, psikolog anak Diana Baumrind mengkategorikan orang tua dan pola asuh mereka ke dalam salah satu dari empat kategori. Kategori pola asuh ini berasas angan mereka terhadap anak-anak dan perhatian terhadap kebutuhan emosional anak-anak.

Keempat kategori pola asuh tersebut adalah otoriter, pola asuh yang sangat menuntut dan minim responsif. Pola asuh permisif yang minim menuntut dan sangat responsif, pola otoritatif yang sangat menuntut dan sangat responsif, dan pola asuh yang mengabaikan, minim menuntut dan minim responsif.


Salah satu pola asuh yang sering dibahas, ialah pola asuh permisif yang merupakan jenis style pengasuhan anak yang suportif dan ramah. Namun pola asuh ini disebut kurang batas dan harapan, baik di rumah maupun di tempat umum. 

Metode pengasuhan ini menempatkan anak-anak sebagai pusat pengambilan keputusan, membiarkan mereka memilih gimana berperilaku dan mengekspresikan diri sepanjang hari dengan sedikit pengarahan dari pengasuh.

Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif condong hangat dan positif. Mereka tidak mendikte pilihan alias perilaku anak-anak mereka tetapi condong turun tangan untuk membantu anak-anak mereka ketika dibutuhkan. Sejak usia dini, anak-anak yang tumbuh di rumah tangga permisif tahu bahwa mereka dicintai dan bahwa mereka dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan dengan sedikit konsekuensi.

Orang tua dengan pola asuh permisif tidak selalu bermaksud demikian dalam pendekatan mereka terhadap pengasuhan. Mereka mungkin memberi anak-anak mereka kelonggaran bukan untuk menumbuhkan kemandirian mereka, tetapi lantaran menetapkan aturan.

Dikutip dari laman Parents, penelitian menunjukkan bahwa motivasi orang tua permisif seringkali egois. Kenapa egois? Karena seperti anak-anak, banyak orang tua yang hanya mau bersenang-senang tanpa memikirkan jangka panjang mereka.

Ciri-ciri pola asuh permisif

Orang tua permisif condong mempunyai ciri-ciri berikut:

  • Menetapkan patokan minimal
  • Bertindak seperti orang kepercayaan alias sekutu bagi anak-anak
  • Menghormati preferensi anak-anak tentang makanan dan kegiatan sehari-hari
  • Mencari masukan anak-anak tentang keputusan besar, mulai dari pilihan sekolah hingga pindah rumah
  • Menekankan kebebasan daripada tanggung jawab
  • Membiarkan akibat alami daripada akibat yang dipaksakan
  • Tidak terlalu cemas tentang keselamatan dan mungkin memandang situasi berisiko sebagai kesempatan belajar

Misalnya, jika seorang anak memukul kerabat kandungnya, orang tua permisif tidak bakal memberikan akibat dan apalagi mungkin tidak membahas perilaku tersebut sama sekali. Demikian pula, jika lantai bilik tidur anak dipenuhi mainan dan pakaian, orang tua dengan pola asuh permisif tidak bakal mempermasalahkannya. Orang tua bakal tetap tak bersuara dan membereskannya sendiri.

Mengapa ada orang tua yang menerapkan pola asuh permisif?

Seringkali, orang tua menerapkan pendekatan permisif dengan niat baik. Mereka mungkin mempunyai begitu banyak cinta dan kasih sayang kepada anak mereka sehingga mereka enggan menetapkan dan menegakkan patokan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan alias kekecewaan.

Mereka mungkin menikmati perhatian positif dari anak-anak yang mendapatkan apa yang mereka inginkan, mulai dari es krim sebelum makan malam hingga jam malam yang lebih larut.

Orang-orang yang paling menikmati "kebahagiaan" jangka pendek berupa pelukan dan rasa terima kasih dari anak-anak mereka mungkin pernah merasa tidak dicintai alias terputus dari orang tua mereka sendiri saat tumbuh dewasa. Hal ini dapat dimengerti lantaran mau menciptakan lebih banyak kehangatan dan rasa senang di rumah tangga, meskipun anak-anak mungkin kurang mempunyai keahlian alias tanda-tanda kedewasaan tertentu tanpa standar dan angan untuk membimbing mereka.

Kelebihan dan kekurangan pola asuh permisif

Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif penuh kasih sayang dan mendukung anak-anak mereka. Gaya pengasuhan ini menawarkan banyak kemandirian dan kesempatan untuk belajar sembari melakukan.

"Pengasuhan permisif dapat berakibat positif pada anak-anak, lantaran orang tua ini peka terhadap kebutuhan anak, menawarkan support emosional, dan memberi anak-anak mereka kesempatan untuk membikin keputusan sendiri," kata Cara Goodwin, Ph.D., seorang psikolog klinis berlisensi di Amerika Serikat, dikutip dari laman BabyCenter.

Sayangnya, kekurangan terbesar dari pengasuhan permisif adalah kurangnya batasan. Dalam jangka pendek, perihal itu dapat berfaedah anak-anak mengembangkan kebiasaan yang tidak sehat seperti terlalu banyak waktu di depan layar, waktu tidur larut malam, dan pola makan yang tidak seimbang, dan menunjukkan perilaku impulsif dan membangkang.

Pengasuhan permisif juga dapat mempunyai akibat jangka panjang. Hal itu menghalangi anak-anak untuk belajar mengatasi stres dan kekecewaan secara efektif.

Anak-anak mempunyai lebih sedikit kesempatan untuk mengembangkan ketahanan dan kepercayaan diri bahwa mereka dapat melewati tantangan yang sulit. Penelitian telah mengaitkan pola pengasuhan permisif dengan akibat negatif tertentu, seperti akibat lebih tinggi terhadap indikasi kekhawatiran dan depresi serta prestasi sekolah yang lebih rendah.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya