Mengenal Emotional Salary, Cara Baru Perusahaan Atasi Karyawan Yang Tidak Semangat Kerja

Apr 24, 2026 09:10 PM - 2 jam yang lalu 107

Banyak tenaga kerja menjadi kurang semangat kerja setelah kehadiran AI. Untuk mengatasinya, tak sedikit perusahaan menerapkan emotional salary. Apa itu? Mari telaah di sini, Bunda.

Fenomena menurunnya semangat kerja tenaga kerja menjadi tantangan yang semakin sering dihadapi perusahaan modern. Tak sedikit pekerja merasa jenuh, kehilangan motivasi, hingga mempertanyakan makna pekerjaannya.

Di tengah kondisi ini, muncul konsep berjulukan emotional salary alias 'gaji emosional', sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada kompensasi finansial, tapi juga pada kepuasan batin, hubungan kerja, dan makna dalam pekerjaan. Pendekatan ini dinilai menjadi solusi efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan produktivitas tenaga kerja di era kerja yang terus berubah.

Bagaimana metode emotional salary bekerja pada karyawan? Mari telaah lebih lanjut, Bunda.

Mengenal emotional salary

Salah satu contoh menarik yang bisa menggambarkan apa itu emotional salary datang dari perjalanan pekerjaan Nick Holmes. Pada usia 21 tahun, dia bekerja di London Aquarium sebagai penjual foto di bagian souvenir.

Tanpa disadari, dia mempunyai talenta alami dalam penjualan hingga sukses memecahkan rekor, dipromosikan, apalagi dipercaya mengembangkan training untuk puluhan karyawan. Berbekal pencarian berdikari melalui internet serta latar belakang akting, Holmes menciptakan metode training yang interaktif dan efektif.

Kesuksesan tersebut mengantarkannya naik hingga posisi Global Head of Learning & Development. Bertahun-tahun kemudian, saat menempuh studi doktoral di bagian SDM dan budaya organisasi, Holmes menyadari bahwa kunci keberhasilannya adalah emotional intelligence (EQ).

“Saat melakukan riset, saya belajar tentang kepintaran emosional dan saya menyadari bahwa inilah keahlian yang membikin saya sukses di usia 21 tahun. Hanya saja, saat itu saya belum tahu istilahnya adalah EQ,” ujar Holmes dilansir dari Forbes.

Penelitian pun menunjukkan bahwa kepintaran emosional mempunyai kaitan erat dengan peningkatan penghasilan dan keahlian kerja. Hal ini menjadi dasar krusial dalam konsep emotional salary, di mana kesejahteraan emosional tenaga kerja dipandang sebagai hadiah yang sama berharganya dengan uang.

Peran EQ dalam kepemimpinan

Menurut Holmes, banyak perusahaan melakukan kesalahan yang sama, ialah mempromosikan tenaga kerja berprestasi tanpa membekali mereka dengan keahlian memimpin. Akibatnya, banyak manajer baru yang hanya meniru style pemimpin sebelumnya tanpa pemahaman mendalam.

“Riset menunjukkan bahwa sebagian besar manajer baru tidak pernah mendapatkan training manajerial yang memadai. Jadi mereka hanya meniru apa yang dilakukan pemimpin mereka, dan itu tidak cukup,” ujar Holmes.

Untuk mengatasi perihal tersebut, dia berbareng timnya merancang Manager Impact Program (MIP), sebuah program berbasis kepintaran emosional. Program ini menekankan bahwa sebelum memimpin orang lain, seorang manajer kudu memahami dirinya sendiri.

“EQ dimulai dari wawasan dan kesadaran diri. Jika Anda tidak memahami gimana Anda datang di hadapan orang lain, Anda tidak bisa membangun hubungan yang efektif,” tambahnya.

Program ini mencakup empat modul utama, mulai dari pemahaman diri, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung performa, komunikasi yang berani namun empatik, hingga penerapan berkepanjangan dalam pertimbangan kerja.

Budaya kerja yang dinamis

Holmes memandang budaya organisasi sebagai sesuatu yang dinamis, bukan statis. Ia mengembangkan kerangka kerja berjulukan Maps, Wires, Patterns, and Sparks untuk membantu perusahaan menciptakan pengalaman belajar yang berkesan.

Menurutnya, training yang efektif kudu bisa membekas secara emosional. Jika tidak ada yang berkesan, maka bakal mudah dilupakan.

Ia menambahkan, “Kita mengingat apa yang kita rasakan. Resonansi emosional itulah yang membikin perilaku baru memperkuat lebih lama.”

Pendekatan ini sejalan dengan konsep emotional salary, di mana pengalaman kerja yang berarti dan hubungan interpersonal yang sehat menjadi aspek krusial dalam mempertahankan karyawan.

Peran AI dan networking

Di era kepintaran buatan (AI), Holmes juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi dan peran manusia dalam memperluas jaringan. Ia menilai AI semestinya digunakan untuk mengurangi beban administratif, bukan menggantikan hubungan sesama manusia.

“Penggunaan AI semestinya membebaskan waktu untuk hubungan satu musuh satu. Banyak orang stres lantaran pekerjaan administratif padahal mereka mau konsentrasi pada perihal yang mereka sukai,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar produktivitas dan proses berpikir tetap menjadi ranah manusia. “Kita tidak boleh membiarkan AI mengambil alih hal-hal yang kita cintai—seperti berpikir dan berkreasi,” tambahnya lagi.

Emotional salary jadi kunci kesuksesan

Konsep emotional salary sekarang semakin relevan, terutama di tengah perubahan pola kerja dan meningkatnya kesadaran bakal kesehatan mental. Perusahaan yang bisa memberikan pengalaman kerja positif, kesempatan berkembang, serta hubungan tim yang suportif condong mempunyai tenaga kerja lebih loyal dan produktif.

Bagi para ketua HR dan SDM, pendekatan ini memberikan pelajaran krusial ialah konsentrasi tidak hanya pada angka, tapi juga pada manusia di baliknya. Pelatihan berbasis pengalaman, penguatan kepintaran emosional, serta pemanfaatan teknologi secara bijak menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.

“Hanya melalui pengalaman, Anda bisa mengembangkan EQ. Dan ketika Anda sudah melihatnya, Anda tidak bakal bisa mengabaikannya lagi," ujar Holmes.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya