Jakarta -
Tidak ada orang tua yang mau menyaksikan anak-anak mereka mengalami kekhawatiran dalam situasi apa pun. Baik saat kudu menghadapi lingkungan baru maupun ketika berjumpa teman-teman baru di sekolahnya.
Dikutip dari laman Huffington Post, para mahir menyebut bahwa ada kebiasaan dalam pengasuhan yang diam-diam bisa meningkatkan kekhawatiran pada anak. Tak hanya itu saja, perihal ini juga berakibat pada kesehatan mental mereka jika terjadi terus-menerus.
Bunda mungkin tidak langsung menyadari perihal tersebut lantaran terlihat seperti kebiasaan yang biasa dilakukan dalam keseharian. Lantas, kebiasaan apa yang tanpa disadari bisa membikin anak mudah merasa cemas?
Kebiasaan orang tua yang membikin anak mudah resah dan mengganggu mentalnya
Dalam keseharian, orang tua sering kali langsung mau melindungi anak saat mereka sedang terlihat cemas, setuju tidak, Bunda? Padahal, respons ini bisa membentuk pola yang kurang tepat bagi mereka, lho.
Seorang terapis family berlisensi di Amerika Serikat, Cheryl Donaldson, sependapat dengan perihal ini. Ia menyampaikan bahwa kesalahan yang sering terjadi adalah kemauan untuk melindungi anak dari rasa tidak nyaman.
"Saya rasa, khususnya mengenai kecemasan, kesalahan terbesar yang kita lakukan sebagai orang tua adalah ketika kita memandang kekhawatiran pada anak-anak kita, kita langsung berpikir, 'Saya mau melindungi anak ini dari pengalaman ini'. Jadi, kita langsung masuk ke mode perlindungan," kata Donaldson.
Menurutnya, langkah tersebut tidak selalu membantu anak menjadi lebih kuat dalam menghadapi situasi yang sulit, Bunda. Justru, mereka bisa kehilangan kesempatannya untuk belajar mengatur kecemasannya sendiri.
Lebih lanjut, Donaldson menuturkan bahwa tujuan orang tua memang mau anak merasa aman. Namun, terlalu sigap mengambil alih masalah bukan langkah yang tepat untuk membantu mereka berkembang.
Hal ini juga dipertegas oleh seorang terapis anak dan family di Self Space, Washington, Hannah Scheuer. Ia mengungkapkan bahwa memandang anak-anak kesulitan memang perihal yang tidak mudah bagi orang tua.
Namun, dia menambahkan bahwa terlalu sering menghindarkan anak dari rasa resah justru bisa memperburuk keadaan. Karena itu, anak menjadi terbiasa menghindari tantangannya, Bunda.
"Saya adalah terapis anak dan family sekaligus seorang ibu dan saya hanya mau mengatakan bahwa menyaksikan anak kita berjuang dan menderita adalah salah satu perihal tersulit," kata Scheuer.
"Jika kita mengakomodasi dan mengalah, kita bakal memperburuk keadaan. Mengakomodasi pada dasarnya berfaedah membiarkan penghindaran, dan penghindaran terasa menyenangkan saat itu juga, apalagi bagi orang dewasa," lanjutnya.
Sebagai contoh, jika anak terus dihindarkan dari situasi yang membuatnya cemas, mereka bakal semakin susah menghadapinya di kemudian hari. Situasi yang semestinya bisa dilatih malah terasa menakutkan bagi mereka.
Tips mendampingi anak saat menghadapi kecemasan
Sebagai orang tua, Bunda sering dihadapkan pada situasi ketika mereka sedang merasa cemas. Di momen seperti ini, anak sebenarnya hanya butuh didengar dan dipahami terlebih dahulu.
Seorang konselor ahli di Thriveworks, New Jersey, Laura Buscemi menjelaskan bahwa anak memerlukan pendekatan tiga langkah dalam menghadapi kecemasan.
"Kita kudu memvalidasi, kita kudu mengatur, dan kita kudu mengurangi dampaknya," katanya.
Validasi di sini berfaedah menerima emosi anak tanpa langsung menghakimi. Sementara itu, Bunda juga bisa membantu mereka untuk tetap tenang dan mengatur perasaannya dengan melakukan latihan pernapasan.
Dari proses ini, anak pun mengerti bahwa situasi yang awalnya menakutkan bisa dihadapi dan dilewati. Misalnya, saat anak sedang merasa resah sebelum pertandingan sepak bola, orang tua bisa memberikan support dengan tenang.
Contohnya dengan mengatakan, "Wah, Bunda mengerti. Bunda tahu Anda merasa sangat takut dan sedih saat ini, tetapi Bunda juga tahu bahwa Anda bisa melakukan hal-hal yang susah dan Anda bakal baik-baik saja".
Lewat langkah ini, anak pun merasa dimengerti tanpa merasa ditinggalkan dalam kecemasannya. Maka dari itu, mereka bakal lebih bisa melewati rasa takut tersebut dengan support dari orang tua.
Itulah kebiasaan orang tua yang rupanya bisa membikin anak mudah resah dan mengganggu kondisi mentalnya. Semoga bisa menjadi pengingat Bunda untuk lebih bijak dalam mendampingi tumbuh kembang Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·