Jakarta -
Dalam menjalani peran sebagai orang tua, rasa cemas terhadap anak memang kerap terjadi begitu saja. Mulai dari soal makanan, sekolah, sampai apakah Si Kecil betul-betul menikmati masa kecilnya dengan bahagia.
Saat anak terlihat jenuh di rumah, banyak orang tua langsung merasa kudu mencari kegiatan baru untuk mereka. Tanpa sadar, kita jadi mau terus mengatur nyaris semua perihal dalam keseharian mereka.
Namun belakangan, ada pengasuhan yang mulai banyak dibicarakan, ialah underparenting. Gaya pengasuhan ini membikin banyak orang mulai mempertanyakan, apakah anak memang kudu selalu diarahkan dalam setiap hal?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian orang menilai, sesekali memberi ruang pada anak justru bisa membantu mereka belajar banyak perihal sendiri. Sebenarnya, seperti apa sih underparenting itu, Bunda?
Mengenal underparenting
Dikutip dari laman Parents, underparenting dijelaskan sebagai pengasuhan dengan keterlibatan orang tua yang lebih minim, di mana anak diberi lebih banyak ruang untuk mencoba, mengeksplorasi, hingga belajar dari kesalahan mereka sendiri.
Meski begitu, orang tua kudu tetap datang untuk memberikan support secara emosional dan pengarahan jika memang dibutuhkan.
Seorang psikolog klinis sekaligus asisten guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Duke, Breanna Dede, menjelaskan bahwa konsep ini sejalan dengan pola pengasuhan yang responsif.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya soal menetapkan patokan saja, tetapi juga memberi ruang untuk memandang apa yang sebenarnya dibutuhkan anak.
"Berbeda dengan hanya menetapkan semua aturan, aktivitas, dan angan ini, pendekatannya lebih ke arah menunggu dan memandang alias bersantai, membiarkan anak menunjukkan kepada orang tua apa yang mereka butuhkan," jelasnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh psikolog klinis dari University of Southern California, Darby Saxbe. Ia menyampaikan bahwa underparenting bukan berfaedah membiarkan anak sepenuhnya tanpa pengarahan dari orang tua.
Menurutnya, konsep ini lebih pada keahlian orang tua untuk mengetahui kapan kudu turun tangan dan kapan sebaiknya memberi anak ruang untuk belajar sendiri.
Penerapan underparenting dalam keseharian anak
Menurut Saxbe, underparenting dalam keseharian bisa terlihat dari kegiatan berbareng anak. Seperti membujuk mereka berbelanja, melibatkan dalam pekerjaan rumah, alias memberi anak kesempatan untuk bermain.
Namun, bukan berfaedah orang tua kudu selalu mengisi setiap waktu anak dengan kegiatan. Justru, ada ruang untuk membiarkan anak menikmati waktu tenangnya tanpa kudu selalu diarahkan.
Saxbe juga menyebut konsep ini mirip dengan slow parenting, ialah pola asuh yang lebih fleksibel. Orang tua tetap bisa menyesuaikan keadaan tanpa kudu selalu mengikuti agenda yang padat.
Sementara itu, psikolog Dede mengatakan bahwa underparenting juga memberi ruang bagi anak untuk belajar dari keseharian mereka. Salah satunya ketika anak menghadapi akibat dari pilihan yang mereka ambil.
Dede mencontohkan ketika anak menolak memakai jaket di cuaca yang dingin, orang tua bisa membiarkan mereka merasakan akibat dari keputusan tersebut.
"Orang tua bisa menetapkan akibat seperti mengambil gadget, alias ada akibat seperti, 'Oke, jangan pakai jaket hujan, Anda keluar kelak bakal basah kuyup,'" ujarnya.
Apakah underparenting bermanfaat bagi tumbuh kembang anak?
Dikutip dari laman Parents, pola asuh ini disebut-sebut dapat mendukung kesejahteraan emosional anak dalam beberapa hal, seperti:
1. Membantu anak belajar memecahkan masalah
Underparenting dapat membantu anak lebih terlatih dalam menghadapi masalah sehari-hari, Bunda. Saat mereka dibiarkan belajar dari kesalahan, anak jadi lebih mengerti tentang hubungan antara tindakan dan konsekuensinya.
2. Mengasah produktivitas dan kesadaran diri anak
Waktu bermain tanpa banyak patokan dan tidak selalu diisi kegiatan bisa memberi ruang bagi anak untuk melakukan banyak hal. Sebab itu, anak juga lebih bebas mengenal diri dan mengembangkan kreativitasnya sendiri.
3. Menumbuhkan kemandirian dan rasa percaya diri
Dengan diberi kesempatan untuk mencoba sendiri, anak pun belajar bahwa mereka bisa menyelesaikan hal-hal tanpa selalu dibantu oleh Bunda. Lambat laun, perihal ini bisa membangun rasa percaya diri mereka.
Tips menerapkan underparenting dalam keseharian
Menurut psikolog Dede, menerapkan pola asuh ini sebaiknya dilakukan secara bertahap. Orang tua bisa mulai dengan memandang bagian mana yang selama ini terlalu banyak diatur alias terlalu sering ikut campur.
"Saya bakal mendorong orang tua untuk melakukannya secara bertahap. Orang tua tidak bakal bisa melakukan transisi dalam semalam," jelasnya.
Dalam perihal ini, dia membagikan langkah yang dapat membantu orang tua untuk mulai menerapkan underparenting, seperti:
1. Memberi kelonggaran pada diri sendiri
Dede menyampaikan bahwa orang tua mungkin bakal merasa susah saat mau mengurangi keterlibatan dalam beberapa momen krusial anak. Karena itu, Bunda dan Ayah dianjurkan untuk tidak keras pada diri sendiri ketika ada perihal yang tidak melangkah sempurna.
2. Fokus pada satu perihal terlebih dahulu
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah memilih satu perihal yang mau diperbaiki, misalnya mengurangi kegiatan yang bikin anak terlalu capek alias tertekan.
3. Mendukung dan mengapresiasi perkembangan anak
Selanjutnya, orang tua tetap perlu datang dengan langkah merayakan perihal yang sukses dilakukan anak sendiri, seperti memakai sepatu alias mengambil camilan.
Enggak hanya itu, orang tua juga bisa memberikan support saat anak sedang mengalami kesulitan.
4. Menjelaskan perubahan kepada anak
Sebagai orang tua, kita kudu berbincang dengan anak mengenai perubahan pengasuhan yang dilakukan. Bukan tanpa alasan, perihal ini agar mereka bisa mengerti tujuan di kembali perubahan tersebut, sehingga mereka pun bisa tumbuh berdikari dan percaya diri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·