Profil Vivi Lin, sosok inspiratif pendiri museum menstruasi bentuk pertama di Asia/ Foto: Social Enterprise World Forum (SEWF)
Beauties, pernahkah Anda merasa canggung saat mau beli pembalut alias mendengar orang memakai kata tukar tertentu untuk menyebut menstruasi? Ternyata, rasa tabu ini adalah masalah global.
Di Amerika Serikat, lebih dari separuh wanita pernah merasa malu lantaran menstruasi, dan di Inggris, nyaris separuh anak wanita pernah bolos sekolah karenanya. Di Taiwan sendiri, diperkirakan ada puluhan kata tukar rahasia agar orang tidak menyebut kata "menstruasi".
Namun, ada satu sosok inspiratif asal Taiwan berjulukan Vivi Lin yang berani melawan tabu ini hingga mendirikan museum menstruasi pertama di Asia! Dirangkum dari laman Forbes, The Diana Award, Taiwan Panorama, dan Taipei Times, yuk, simak kisah perjalanan Vivi Lin yang sangat inspiratif berikut ini!
Berawal dari Duri di Hati

Vivi Lin mengubah pengalaman dibungkam dan rasa sakit menjadi daya positif untuk kesetaraan menstruasi/ Foto: Instagram/vivilin0510
Perjalanan Vivi bermulai dari pengalaman dirinya sendiri. Saat mendapat menstruasi pertamanya di usia 13 alias 14 tahun, ibu, nenek, dan gurunya justru mewanti-wanti agar dia tidak membicarakannya secara terbuka. Alih-alih diedukasi, dia merasa dibungkam.
Vivi mengibaratkan pengalaman tersebut serta perjuangan panjangnya menghadapi masalah kesehatan sistem reproduksi seperti duri yang menancap di hatinya. Namun, dia tidak menyerah, rasa sakit itu diubahnya menjadi daya positif untuk memperjuangkan kesetaraan kelamin dan pandangan positif tentang menstruasi.
Lahirnya With Red sebagai Aksi Nyata

Aksi nyata pendistribusian produk menstruasi cuma-cuma oleh With Red/ Foto: Taiwan Panorama/With Red
Sadar tak bisa bergerak sendiri, Vivi mendirikan organisasi non-profit With Red pada 2019. Gerakan edukasi mereka sangat komprehensif. Mereka telah menjangkau lebih dari 90 lembaga pendidikan, dan sukses membantu National Taiwan University membuka mata kuliah unik menstruasi pertama di tingkat universitas di Asia.
Bersama beragam sektor, mereka memengaruhi lebih dari 20 perubahan kebijakan publik. With Red juga sangat vokal melawan mitos kuno, seperti menolak julukan yang menyiratkan rasa malu terhadap menstruasi.
Riset mereka menemukan 9 persen populasi di Taiwan mengalami period poverty (kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan alias tidak punya akses terhadap produk sanitasi menstruasi). Mengatasi perihal ini, With Red telah mendistribusikan lebih dari 350 ribu produk menstruasi gratis, termasuk di akomodasi publik seperti MRT Taipei hingga support darurat ke Ukraina.
Museum Menstruasi dan Kepingan Sejarah Nenek

Red House Period Museum di Taipei yang menjadi ruang edukasi sekaligus simbol perlawanan terhadap stigma/ Foto: Instagram/vivilin0510
Puncak penemuan Vivi terwujud lewat pembukaan Red House Period Museum di Taipei pada 2023. Bangunan berfasad merah menyala ini didedikasikan sepenuhnya untuk segala perihal tentang menstruasi, sekaligus sebagai simbol perlawanan nyata terhadap stigma.
Di lantai satu, visitor disuguhi instalasi anatomi yang imut dan toko suvenir unik seperti teh celup berbentuk pembalut untuk menormalkan rumor menstruasi. Di lantai dua, suasananya berubah emosional dengan pameran beragam kisah nyata. Mulai dari mitos larangan menyentuh tanaman saat haid, trauma siswi yang diperiksa paksa oleh gurunya untuk membuktikan dia betul-betul haid, hingga kisah kelam wanita yang menahan lapar demi menghemat pembalut.
Selain itu, museum ini juga merawat sejarah lintas generasi melalui proyek The Women (Granny's Period). Uniknya, proyek ini berasal saat Vivi ditegur seorang nenek lantaran membahas menstruasi di ruang publik, yang malah berujung pada curhatan sang nenek tentang pengalaman menstruasi di masa mudanya. Menyadari bahwa sejarah pengelolaan menstruasi wanita lansia Taiwan belum pernah didokumentasikan, Vivi pun menjadikan sejarah lisan ini sebagai pameran permanen agar kepingan kisah wanita tidak hilang.
Bermimpi untuk Membubarkan Diri

Meraih beragam penghargaan internasional, Vivi Lin bermimpi suatu hari kelak organisasinya tidak lagi dibutuhkan/ Foto: Taiwan Panorama/Jimmy Lin
Berkat akibat nyatanya, Vivi masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024 kategori Social Impact dan memenangkan Diana Award 2021. Uniknya, Vivi mempunyai filosofi bahwa organisasinya sejak awal sengaja melangkah menuju misi purna tugas.
Vivi sangat berambisi suatu hari nanti, bumi sudah tidak lagi memerlukan kehadiran organisasi seperti With Red. Ia bermimpi kesetaraan menstruasi sudah betul-betul terwujud dan mengakar di masyarakat, sehingga rumor dan stigma ini hanya bakal tertinggal sebagai catatan di kitab sejarah.
Vivi juga berpesan bahwa perjalanan ini memang panjang, namun yang terpenting adalah langkah bersama. "Menstruasi semestinya tidak pernah menghalangi pilihan, aspirasi, alias kesejahteraan siapa pun," tegasnya.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)