Menjadi Seperti Mereka: Belajar Dari Para Wanita Terbaik Umat Ini

Jul 06, 2026 11:00 AM - 15 jam yang lalu 726

Di tengah derasnya arus zaman, muslimah hari ini dihadapkan pada beragam macam figur yang dijadikan teladan. Media sosial menghadirkan sosok-sosok yang dipuja lantaran kecantikan, popularitas, style hidup, alias pencapaian duniawi. Namun, seorang muslimah yang menginginkan kemuliaan sejati tentu bakal bertanya: siapakah sosok terbaik yang layak dijadikan panutan?

Islam telah memberikan jawaban yang jelas. Bukan artis, influencer, alias figur viral yang semestinya menjadi role model utama, melainkan para wanita terbaik yang telah Allah pilih untuk hidup di generasi terbaik umat ini: para sahabiyah, wanita-wanita mulia yang hidup berbareng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, belajar langsung dari beliau, berjuang berbareng dakwah Islam, dan meninggalkan jejak keteladanan yang tak lekang oleh zaman.

Mengapa kudu meneladani para sahabiyah?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji generasi sahabat secara umum dalam Al-Qur’an. Tentunya, kemuliaan itu juga mencakup para wanita di kalangan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Donasi Kincai Media

Ayat ini menunjukkan bahwa jalan keselamatan adalah mengikuti generasi pertama Islam, termasuk wanita-wanita mulia di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jika generasi terbaik adalah generasi sahabat, maka para wanita terbaik tentu adalah para sahabiyah.

Krisis panutan muslimah di era modern

Salah satu problem besar yang dihadapi muslimah pada era ini adalah berubahnya standar dalam menentukan sosok yang dijadikan teladan. Perkembangan media sosial membikin banyak orang lebih mengenal artis, selebritas, alias influencer dibanding mengenal para sahabiyah. Tidak sedikit muslimah yang akhirnya menjadikan figur bumi sebagai panutan dalam berpakaian, berbicara, hingga menjalani kehidupan, sementara kisah wanita-wanita mulia dalam Islam justru semakin terlupakan.

Perubahan panutan ini perlahan mengubah langkah pandang terhadap kesuksesan. Kecantikan dianggap sebagai ukuran utama, ketenaran dipandang sebagai prestasi, jumlah pengikut di media sosial menjadi simbol keberhasilan, dan pengesahan manusia sering kali dijadikan tujuan hidup. Akibatnya, banyak yang rela mengejar pengakuan orang lain meskipun kudu mengorbankan waktu, prinsip, apalagi nilai-nilai agama.

Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwa seseorang bakal mengikuti siapa yang dia cintai dan kagumi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المرء مع من أحب

“Seseorang bakal berbareng dengan orang yang dia cintai.” (HR. Al-Bukhari no. 6168, Muslim no. 2640)

Hadis ini mengajarkan bahwa kekaguman dapat membentuk arah hidup seseorang. Oleh lantaran itu, muslimah perlu kembali memperbaiki orientasinya dan memilih teladan terbaik. Sosok yang paling layak dikagumi bukanlah figur yang terkenal di dunia, tetapi mereka yang telah Allah muliakan, ialah para sahabiyah, wanita-wanita terbaik yang hidupnya dipenuhi iman, ilmu, akhlak, dan perjuangan di jalan Allah.

Belajar ketaatan dari Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها

Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang memeluk Islam. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau pulang dalam keadaan gemetar. Khadijah tidak meragukan sedikit pun kebenaran suaminya. Khadijah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا

“Sekali-kali tidak. Demi Allah, Allah tidak bakal menghinakanmu selamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 4953)

Dari Khadijah kita belajar bahwa muslimah sejati adalah sosok yang menguatkan kepercayaan Allah, mendukung kebenaran, dan menjadi penopang dakwah.

Hari ini, banyak muslimah sibuk mencari pasangan ideal, tetapi lupa menyiapkan diri menjadi pendamping yang membantu perjuangan agama.

Belajar pengetahuan dari Aisyah رضي الله عنها

Aisyah binti Abu Bakar dikenal sebagai salah satu wanita paling berilmu dalam sejarah Islam. Beliau menempati posisi keempat sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat senior pun sering bertanya kepada beliau mengenai hukum-hukum agama.

Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَا أَشْكَلَ عَلَيْنَا أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ حَدِيثٌ قَطُّ فَسَأَلْنَا عَائِشَةَ إِلَّا وَجَدْنَا عِنْدَهَا مِنْهُ عِلْمًا

“Kami (para sahabat) tidak pernah merasa kesulitan dalam memahami suatu hadis, lampau kami bertanya kepada Aisyah, selain kami mendapatkan pengetahuan tentang perihal itu darinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3883)

Pelajaran besar dari Aisyah adalah muslimah tidak boleh puas hanya menjadi konsumen hiburan. Ia kudu mencintai pengetahuan syar’i dan menjadikan belajar kepercayaan sebagai prioritas hidup. Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Belajar kesabaran dari Sumayyah رضي الله عنها

Sumayyah binti Khayyat adalah wanita pertama yang meninggal syahid dalam Islam. Ia disiksa oleh kaum Quraisy lantaran mempertahankan keimanannya. Namun, dia tetap teguh hingga akhirnya dibunuh oleh Abu Jahal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara kepada keluarganya,

صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

“Bersabarlah wahai family Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga.” (HR. Ath-Thabrani dan Hakim, sabda hasan shahih)

Bandingkan dengan kondisi hari ini. Banyak orang meninggalkan prinsip kepercayaan hanya lantaran takut komentar manusia. Sumayyah mengajarkan bahwa mempertahankan ketaatan terkadang memerlukan pengorbanan besar, apalagi nyawa sebagai pengorbanannya.

Belajar kedermawanan dari Asma binti Abu Bakar رضي الله عنها

Asma binti Abu Bakar dikenal sangat murah hati dan pemberani. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman kepada Asma,

أنفقي و لا تُحصي ، فيُحصي اللهُ عليك ، و لا تُوعي فيُوعي اللهُ عليك

“Berinfaklah dan janganlah engkau menghitung-hitung (terlalu menahan harta), maka Allah bakal membatasi rezeki kepadamu. Dan janganlah engkau menyimpan (menahan pemberian), maka Allah pun bakal menahan karunia-Nya darimu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Di era sekarang, banyak orang takut bersedekah lantaran merasa hartanya bakal berkurang. Padahal Allah berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

“Apa saja yang kalian infakkan, Allah bakal menggantinya.” (QS. Saba’: 39)

Belajar menjaga kehormatan dari Fatimah رضي الله عنها

Fatimah az-Zahra adalah contoh wanita yang menjaga rasa malu dan kehormatan diri. Ketika menjelang wafat, beliau pernah menyampaikan ketidaksukaannya andaikan jasad wanita terlihat corak tubuhnya ketika dikafani. Hal itu menunjukkan sungguh besar perhatian wanita salehah terhadap penjagaan aurat dan kehormatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

“Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim no. 35)

Di era sekarang, rasa malu sering dianggap kuno, tidak gaul dan lain sebagainya. Padahal, justru itulah mahkota seorang muslimah.

Muslimah hari ini butuh role model yang benar

Realitas hari ini menunjukkan banyak muslimah lebih mengenal artis, selebriti internet, dan tokoh bumi intermezo dibanding mengenal para sahabiyah.

Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Dan tentu orang-orang terdekat yang mencontoh beliau dengan sempurna adalah para sahabat dan sahabiyah.

Ketika seorang muslimah lebih mengenal perjalanan hidup para sahabiyah daripada tren dunia, maka itu adalah tanda baiknya arah hidupnya.

Menjadi seperti mereka bukan berfaedah hidup di masa lampau. Menjadi seperti mereka berfaedah mengambil nilai-nilai yang mereka perjuangkan: ketaatan yang kokoh, pengetahuan yang luas, rasa malu, pengorbanan, kesabaran, dan kecintaan terhadap agama.

Mari bertanya kepada diri kita:

Sudahkah saya menjadikan para wanita terbaik umat ini sebagai panutan hidupku?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

“Jika mereka beragama sebagaimana kalian beriman, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Semoga Allah menjadikan muslimah-muslimah hari ini tumbuh menjadi generasi yang meneladani wanita terbaik umat ini. Aamiin.

Baca juga: Tiga Kriteria Manusia yang Tidak Layak Menjadi Teladan

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Kincai Media

Selengkapnya