Seni Menyanjung Sesuai Syariat Islam: Seni Memuji Yang Menumbuhkan, Bukan Melalaikan

Jul 06, 2026 11:00 AM - 1 hari yang lalu 1927

Tidak ada manusia yang tidak senang dipuji. Kalimat yang baik dapat menjadi motivasi, penguat hati, apalagi penyubur semangat dalam melakukan kebaikan. Seorang anak merasa dihargai ketika dipuji oleh orang tuanya. Seorang siswa semakin giat belajar ketika mendapatkan apresiasi dari gurunya. Begitu pula seorang muslim bakal semakin termotivasi ketika kebaikannya disupport dan dihargai oleh saudaranya.

Namun, Islam datang dengan pengarahan yang indah. Islam tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi mengajarkan etika dan batasannya. Karena pujian yang tepat dapat menjadi sarana pendidikan, sedangkan pujian yang berlebihan dapat menjadi racun yang merusak hati. Oleh lantaran itu, seorang muslim perlu memahami seni menyanjung sesuai tuntunan hukum agar pujian yang diberikan menjadi jalan kebaikan, bukan karena munculnya kesombongan.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Celaka kamu, Anda telah memenggal leher sahabatmu, Anda telah memenggal leher sahabatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sabda di atas, kita mengetahui bahwa terdapat makna yang sangat dalam kenapa pujian yang berlebihan diibaratkan seperti memenggal leher seseorang. Tatkala seseorang terus-menerus dipuji, bisa jadi hatinya berubah. Yang awalnya tawadhu’ menjadi ujub, yang awalnya rendah hati menjadi merasa hebat. Padahal, kesombongan merupakan dosa yang sangat berbahaya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak bakal masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)

Oleh lantaran itulah, ketika kita mau memuji anak, murid, pasangan, teman, alias siapa pun, hendaknya memperhatikan beberapa etika berikut

Baca juga: Larangan Berlebihan dalam Memuji

Pertama, luruskan niat

Pujian dalam Islam bukanlah perangkat untuk menjilat, mencari muka, alias memperoleh untung duniawi. Pujian hendaknya diberikan dengan niat yang baik, seperti memotivasi seseorang agar semakin semangat dalam beramal saleh, menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat, alias mendorongnya untuk mempertahankan kebaikannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan tujuan memotivasi beliau.

نِعْمَ الرَّجُلُ عبد الله، لو كان يُصلِّي من الليل. قال سالم: فكان عبد الله بعد ذلك لا يَنامُ من الليل إلا قليلًا

“Sebaik-baik orang adalah Abdullah, seandainya dia salat di sebagian malam.” Salim berkata, ‘Sejak saat itu, Abdullah tidak tidur di malam hari selain sedikit.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, pujian Nabi bukanlah pujian kosong. Pujian tersebut menjadi karena Abdullah bin Umar semakin semangat beragama dan semakin dekat kepada Allah Ta’ala.

Kedua, nisbatkan kelebihan itu kepada Allah

Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai terbaik, kita dapat berkata, “Alhamdulillah, Allah memberikan kepadamu kepintaran dan kemudahan belajar. Teruslah berterima kasih kepada-Nya.” Atau “MasyaAllah, itu adalah karunia dari Allah Ta’ala ya, nak.”

Dengan demikian, pujian tidak melahirkan ujub, tetapi justru menumbuhkan rasa syukur. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)

Allah Ta’ala juga mengingatkan,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan selain dengan pertolongan Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika memandang suatu kelebihan dan keberhasilan, hendaknya kita mengembalikannya kepada Allah Ta’ala, bukan semata-mata kepada keahlian manusia.

Ketiga, memuji secara proposional (jangan berlebihan)

Pujian yang terlalu sering dan berlebihan dapat merusak jiwa. Seseorang bisa menjadi ketagihan terhadap pujian, merasa dirinya istimewa, lampau susah menerima nasihat dan kritik.

Pujian itu seperti permen. Dalam jumlah yang cukup dia menyenangkan, tetapi jika berlebihan justru mendatangkan penyakit. Oleh lantaran itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ

“Apabila kalian memandang orang-orang yang doyan melontarkan pujian berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.” (HR. Muslim)

Maksud sabda di atas adalah memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan memuji secara berlebihan dan tanpa kebutuhan. Jika memang perlu memuji, pujilah sesuai kenyataan. Sebutkanlah kelebihan yang betul-betul ada pada dirinya.

Keempat, jangan memastikan kedudukan dan kesalehan seseorang

Kita boleh memuji seseorang berasas apa yang tampak dari kebaikan dan akhlaknya. Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa dia pasti termasuk penunggu surga alias orang yang paling bertakwa di sisi Allah. Karena prinsip hati manusia hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.

Ketika ada seseorang yang dipuji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan bahwa hendaklah dia mengucapkan,

أَحْسِبُ فُلَانًا كَذَا وَكَذَا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا

“Aku mengira si fulan demikian dan demikian, dan Allah-lah yang bakal menghisabnya. Aku tidak berani menyatakan seorang pun suci di hadapan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah etika yang sangat agung. Kita menyebut kebaikan seseorang berasas apa yang kita ketahui, namun tetap menyerahkan penilaian asasi kepada Allah Ta’ala.

Pujian yang sesuai hukum adalah pujian yang mendidik, bukan yang merusak. Ia lahir dari niat yang tulus, mengarahkan hati kepada Allah Ta’ala, disampaikan secara proporsional, dan tidak melampaui pemisah dengan menyucikan manusia.

Betapa banyak hati yang tumbuh lantaran apresiasi yang tepat, dan sungguh banyak pula hati yang rusak lantaran sanjungan yang berlebihan. Oleh lantaran itu, hendaknya kita belajar menyanjung sebagaimana Islam mengajarkannya.

Semoga Allah Ta’ala menjaga lisan kita dalam memuji dan menjaga hati kita ketika dipuji. Aamiin.

Baca juga: Bahagia Dengan Memuji Allah Ta’ala?

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Kincai Media

Selengkapnya