17 Utusan Muslim Era Umayah Ke Cina Ketika Sriwijaya Jadi Simpul Perdagangan

Jul 07, 2026 03:35 PM - 12 jam yang lalu 610

Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menyebutkan selama sekitar 90 tahun pemerintahan Dinasti Umayah, tidak kurang dari 17 utusan Muslim tercatat mengunjungi Istana Cina. Setelah itu, sekitar 18 utusan lainnya dikirim oleh para penguasa Dinasti Abbasiyah dalam kurun waktu antara 133 H/ 750 M hingga 182 H/ 798 M. Frekuensi kunjungan yang tinggi tersebut mendorong berkembangnya koloni Ta Shih (orang Arab) di Kanfu (Kanton), yang diperkirakan mulai terbentuk pada paruh kedua abad ke-7 M.

Menjelang pertengahan abad ke-8 M, jumlah Muslim Arab dan Persia di Kanton telah berkembang sedemikian besar sehingga mereka bisa melakukan pemberontakan terhadap penguasa Cina. Alasan pasti pemberontakan tersebut tidak diketahui. Namun, tidak lama setelah Kanton kembali dibuka bagi kaum Muslim pada 176 H/ 792 M, pemerintah Cina mengangkat seorang Muslim sebagai pejabat yang bekerja menjaga keamanan dan ketertiban di kalangan masyarakat Muslim sekaligus mengawasi penerapan norma Islam.

Prof. Azyumardi Azra dalam kitab Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menjelaskan, pada tahun 131 H/ 748 M, seorang pendeta Cina berjulukan Kan Shin (Kien Chen) melaporkan keberadaan organisasi Po-sse (sangat mungkin merujuk pada Muslim Persia) dalam jumlah yang cukup besar di Pulau Hainan. Selain itu, terdapat pula pemukiman Muslim yang makmur di kota Yang Chou. Ketika penguasa setempat memberontak, pemerintah pusat Cina mengirim pasukan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Dalam peristiwa itu, beberapa ribu pedagang Arab dan Persia yang bermukim di kota tersebut turut terbunuh, sementara kekayaan barang mereka dirampas.

Melihat tingginya intensitas hubungan antara kaum Muslim di Timur Tengah dengan area Timur Jauh, serta keberadaan beragam pemukiman Muslim di Cina, cukup berdasar untuk mengasumsikan bahwa kaum Muslim Timur Tengah telah mengenal Nusantara, perihal ini disampaikan Prof. Azyumardi Azra dalam bukunya. Demikian pula, dapat diduga bahwa mereka menjadikan sejumlah pelabuhan di Nusantara sebagai tempat persinggahan dalam perjalanan jual beli mereka. Dugaan tersebut diperkuat oleh sejumlah riwayat sejarah.

Selengkapnya