Merasa Diawasi Allah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, baik ketika dilihat orang lain ataupun ketika bersendirian. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا كَرِهَ اللَّهُ مِنْكَ شَيْئًا، فَلَا تَفْعَلْهُ إِذَا خَلَوْتَ

“Segala perbuatan nan Allah tidak suka dari dirimu untuk dilakukan, maka janganlah Anda lakukan perihal tersebut ketika Anda bersendirian.“ (HR. Ibnu Hibban no. 403 dan Adh–Dhiyaa’ dalam Al–Mukhtarat no. 1393. Al-Albani menyatakan hasan lighairihi. Lihat As–Silsilah As-Shahihah no. 1055)

Hal ini lantaran jiwa manusia itu menjadi lemah ketika dalam kondisi bersendirian, sehingga terdorong serta lebih berani untuk melakukan kemaksiatan ketika itu. Karena pada saat itu, tidak ada orang lain nan melihatnya.

Keyakinan bahwa Allah senantiasa memandang seorang hamba dan juga mengawasi gerak-gerik dirinya merupakan penghalang terbesar dari bermaksiat kepada-Nya. Dia senantiasa ingat bahwa tidak ada sesuatu pun nan tersembunyi dari-Nya. Bahkan, nyaris dalam setiap lembaran mushaf Al-Quran nan mulia terdapat ancaman nan besar dan peringatan nan tegas tentang perihal ini, di antaranya firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيم

“Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)

وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِير

“Allah mengetahui apa nan Anda perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 234)

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَ

“Dan Allah mengetahui apa nan Anda rahasiakan dan apa nan Anda tampakkan.” (QS. An-Nahl: 19)

وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا

“Dan tiada sehelai daun pun nan gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula).” (QS. Al-An’am: 59)

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa nan dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)

وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa nan ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah: 235)

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡن وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَان وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ

“Kamu tidaklah berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan Anda tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu Anda melakukannya.” (QS. Yunus: 61)

Hendaknya seseorang menyadari dan waspada bahwa keadaannya itu seperti orang-orang nan Allah sebutkan dalam firman-Nya,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ

“Mereka berlindung dari manusia, tetapi mereka tidak berlindung dari Allah. Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia nan Allah tidak ridai.” (QS An-Nisaa’: 108)

Sekali lagi, tidak ada seorang pun nan tersembunyi dari Allah. Sesuatu nan tersembunyi di malam hari, baik di tempat nan tersembunyi atapun tampak, semuanya sama saja bagi Allah. Allah Ta’ala berfirman,

يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ

“Dia mengetahui (pandangan) mata nan khianat dan apa nan disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Ibnu Katsir rahimahullah berbicara tentang makna ayat ini, “Allah menginformasikan tentang ilmunya nan sempurna nan meliputi segala sesuatu, baik nan tampak maupun nan tersembunyi, baik nan mini maupun nan besar. Semua Allah ketahui secara rinci dan mendetail agar manusia waspada bahwa Allah mengetahui juga kondisi mereka. Maka milikilah sikap malu kepada Allah dan bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan hendaknya merasa selalu diawasi oleh Allah nan memandang dirinya. Allah Ta’ala mengetahui pandangan khianat dan nan menjaga amanat, dan Allah mengetahui beragam rahasia dan nan tersembunyi di dalam hati.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7: 137)

Betapa banyak kita jumpai ayat Al-Quran nan menyebut suatu kebaikan dan balasannya, kemudian ditutup dengan menyebut bahwa pengetahuan Allah itu senantiasa meliputi semuanya. Hal ini bermaksud agar hati manusia itu waspada dan meletakkan perhatian untuk menyempurnakan dan memperbaiki hatinya, sehingga dia senantiasa mempunyai rasa minta (ar-raja’) dan takut (al-khauf).

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam Az-Zuhud (no. 137), “Dahulu, (materi) dakwah Bakr bin ‘Abdillah al-Muzanny kepada orang nan berjumpa dengannya adalah dengan mengatakan kepada mereka, “Semoga Allah menjadikan kita mempunyai sifat zuhud terhadap perbuatan haram dan dosa ketika bersendirian. Ketahuilah bahwa Allah melihatnya, maka tinggalkanlah.“

Ini adalah kedudukan nan agung dalam sikap zuhud, ialah seseorang meninggalkan dosa dalam keadaan bersendirian lantaran takut kepada balasan dan balasan Allah, bukan lantaran riya’ dan sum’ah. Dia melakukannya hanya lantaran Allah semata. Sehingga perihal ini merupakan di antara corak ibadah paling agung nan dilakukan oleh seorang hamba kepada Rabbnya.

Abu Hatim Al-Busty mengatakan, “Poros ketaatan seseorang di bumi ini adalah memperbaiki hati dan meninggalkan hal-hal nan merusak hati. Wajib bagi orang nan berakal untuk perhatian dan semangat dalam memperbaiki hatinya, baik ketika di hadapan orang lain maupun ketika sendirian, baik ketika bergerak ataupun diam, lantaran hilangnya waktu dan penyebab penderitaan tidaklah terjadi selain dengan rusaknya hati.“ (Raudhatul ‘Uqola’ wa Nazhatu al–Fudholaa, hal. 27)

Malik bin Dinar berkata, “Sesungguhnya hati orang nan baik senantiasa sibuk dengan kebaikan kebaikan. Adapun hati orang fajir itu senantiasa sibuk dengan kebaikan keburukan. Sesungguhnya Allah memandang kemauan nan ada di hati kalian. Maka senantiasa perhatikanlah perihal tersebut, semoga Allah merahmati kalian.“ (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al–Hamm wal Hazn no. 112. Lihat dalam Raudhatul ‘Uqola’ wa Nuzhatu al–Fudholaa’ hal. 27)

Maksudnya, kita kudu senantiasa ingat bahwa Rabbul ‘alaamin senantiasa mengetahui dan mengawasi kemauan hati kita. Oleh lantaran itu, hendaknya seorang hamba berupaya untuk memperbaiki kemauan hatinya dan menjadikan kemauan hatinya hanya satu, ialah untuk mendapatkan kebahagiaan alambaka dengan meraih rida Allah.

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ الْمَعَادِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهِ هَلَكَ

“Barangsiapa menjadikan segala macam keinginannya hanya satu, ialah kemauan tempat kembali (negeri akhirat), niscaya Allah bakal mencukupkan baginya kemauan dunianya. Dan barangsiapa nan keinginannya beraneka ragam pada urusan dunia, maka Allah tidak bakal mempedulikan di manapun dia binasa.” (HR. Ibnu Majah no. 4106)

Baca juga: Penjelasan Isykal Hadits Mengenai Orang nan Bermaksiat Tatkala Sendirian

***

@BA, 20 Syawal 1445/ 29 April 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahaadits Ishlaahil Quluub, bab 35; karya Syekh ‘Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah