NASA Ungkap Kondisi Mengerikan Kebakaran Hutan di Papua

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 3 menit 51x dilihat
NASA Ungkap Kondisi Mengerikan Kebakaran Hutan di Papua

Bagikan Postingan

  1. Home
  2. Life
  3. Be Updates

Dimitrie Hardjo | Beautynesia

Senin, 26 Oct 2026 12:30 WIB

NASA Ungkap Kondisi Mengerikan Kebakaran Hutan di Papua, Jadi Garis Depan Deforestasi

NASA Ungkap Kondisi Mengerikan Kebakaran Hutan di Papua, Jadi Garis Depan Deforestasi/ Foto: Dok. NASA Earth Observatory

Beauties, kebakaran hutan dan tanah statis melanda sejumlah daerah di Indonesia. Luasnya area yang terbakar serta besarnya akibat berhasil menyita perhatian dunia. Kali ini, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) soroti kebakaran hutan dan tanah yang terjadi di Pulau Papua.

Dalam artikel berjudul "Fires Char New Guinea" yang dipublikasi Kamis (22/10/2026) dalam NASA Earth Observatory, peneliti NASA menyampaikan benar-benar mengerikan kondisi kebakaran hutan yang terjadi di Papua. Citra satelit yang direkam instrumen VIIRS pada satelit NOAA-20 pada 11 Oktober 2026 memberitahu kondisi saat pengamatan (bukan real-time), di mana daerah Papua bagiankecil Selatan diselimuti asap yang tebal.

Tingginya Emisi Karbon Akibat Kebakaran Hutan

Emisi karbon kebakaran di Papua

Emisi karbon kebakaran di Papua/ Foto: Dok. NASA Earth Observatory

Menurut Global Fire Emissions Database (GFED), yaitu sebuah mekanisme pemantauan emisi akibat kebakaran, emisi karbon kebakaran hutan dan tanah di daerah Papua melampaui 35 megaton. Angka tersebut menjadi jumlah tertinggi ketiga setelah tahun 2015 dan 1997 yang juga merupakan tahun-tahun terjadinya gejala El Niño dengan kebakaran hebat.

Di sisi lain, kebakaran di Papua Nugini, di bagiankecil timur pulau itu, telah melepaskan hampir 32 megaton karbon hingga 17 Oktober. Guido van der Werf, seorang ahli kebakaran di Wageningen University & Research, menjelaskan, "Emisi saat ini sudah jauh lebih tinggi dibandingkan total emisi sepanjang tahun 2015, dan kemungkinan besar tahun ini akan menjadi tahun dengan tingkat emisi tertinggi yang pernah tercatat di Papua Nugini, terlebihlagi melampaui tahun 1997.”

Ilmuwan peneliti di Goddard Institute for Space Studies milik NASA dan Columbia University, Robert Field, turut menerangkan, "Terkadang, asap yang terbawa ke dalam arus konveksi anginbesar petir di dekatnya bisa tersapu bersih maupun terangkat hingga ke troposfer bagiankecil atas, namun sebagian besar asap statis eksis di dekat permukaan dan menyebabkan masalah kualitas udara.”

"Ini situasi yang mengerikan," lanjutnya.

Penyebab Kebakaran di Pulau Papua

Kebakaran hutan terjadi di daerah Papua Selatan.

Penyebab kebarak hutan di Pulau Papua/ Foto: Pexels.com/Zion Smith

NASA kemudian mengungkapkan sejumlah penyebab kebakaran tersebut, Beauties. Cuaca sangat kering akibat El Nino membikin seluruh ekosistem di pulau Papua rapuh terbakar. Bahkan di Trans-Fly, daerah paling selatan Papua Nugini telah mengalami 90 hari berturut-turut tanpa hujan.

Namun tak cuma itu. Para peneliti juga mengungkapkan bahwa daerah bumi yang biasanya basah ini, sebagian besar kebakaran dipicu oleh ulah manusia. Beberapa karena yang dibeberkan antara lain pembakaran tanah pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, penggundulan hutan, pembukaan lahan, serta perburuan. Dalam kondisi kering, api yang dinyalakan terkadang meluas dan tidak terkendali.

Global Forest Watch mencatat daerah Papua, Indonesia, telah kehilangan 27.000 hektare hutan primer pada tahun 2025. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari total tahun 2024 dan merupakan bilangan tertinggi sejak 2017. Hutan dibuka untuk perkebunan kelapa sawit dan flora industri kayu pulp, yang menggeser praktik pertanian skala kecil, ekspansi area perkotaan, serta aktivitas pertambangan selama dua dasawarsa terakhir.

“Kami melihat tingkat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia bagiankecil Timur, khususnya Papua dan Kalimantan Indonesia, tahun ini dibandingkan dengan Sumatra dan bagiankecil lain di Indonesia bagiankecil Barat,” ucap Yang Chen, seorang peneliti di University of California, Irvine. “Papua telah muncul sebagai garis depan deforestasi baru di Indonesia.”

Bagaimana menurut kamu, Beauties?

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)

Komentar

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads