Persahabatan menjadi salah satu bagiankecil krusial dalam perjalanan hidup perempuan, terutama ketika mereka menghadapi perubahan, ketidakpastian, dan ekspektasi sosial yang memengaruhi pilihan hidup mereka.
Dalam beragam serial televisi, hubungan antartokoh perempuan tidak selalu digambarkan sebagai sesuatu yang harmonis. Ada konflik, perbedaan pandangan, hingga proses saling memahami yang turut membentuk metode mereka melihat diri sendiri dan orang lain.
Melalui kisah perempuan dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, lima serial televisi berikut memfoto hayat dan persahabatan dari perspektif pandang perempuan.
Fleabag

Fleabag (2016-2019)/Foto: IMDb.com
Fleabag menceritakan seorang perempuan yang berupaya menjalani hidup di tengah rasa duka, rasa bersalah, dan trauma masa lalunya. Dikemas dalam corak dark comedy, Fleabag (Phoebe Waller-Bridge) kerap menatap langsung ke arah kamera, seolah membujuk pemirsa terlibat dalam komentar-komentar sarkastiknya tentang hayat yang ia jalani.
Di balik humornya, tersimpan pergulatan batin yang sulit ia ungkapkan secara langsung. Sebagai karakter yang rumit, penuh kontradiksi, dan memiliki kecenderungan merusak diri sendiri, Fleabag terus bergelut dengan pertanyaan tentang sepertiapa menjalani hidup dengan “benar”.
Setelah kehilangan sosok krusial dalam hidupnya, ia perlahan menghadapi duka yang selama ini membayanginya, sekaligus memahami hubungannya dengan sang kakak, Claire (Sian Clifford), ayahnya (Bill Paterson), dan orang-orang yang ia cintai. Melalui perjalanan tersebut, Fleabag menggambarkan sepertiapa rasa kehilangan dan kesulitan memahami diri sendiri dapat memengaruhi metode seseorang menjalin hubungan dengan orang lain.
Girls

Girls (2012-2027)/Foto: IMDb.com
Girls menceritakan sekelompok perempuan yang menjalin pertemanan di tengah carut-marut hayat mereka di usia 20-an. Berlatar di New York, Hannah (Lena Dunham) baru merintis pekerjaan menulis tanpa pertolongan finansial. Di tengah kebingungannya, Hannah menemukan sokongan dalam pertemanannya dengan Marnie (Allison Williams), Jessa Johansson (Jemima Kirke), dan Shoshanna Shapiro (Zosia Mamet).
Hannah dengan kebimbangannya, Marnie dengan karakternya yang perfeksionis dan kaku, Jessa dengan pandangan hidupnya yang sangat bebas, serta Shoshanna yang naif perlahan-lahan membangun persahabatan yang rumit. Mereka menghadapi perselisihan yang terkadang merenggangkan hubungan, tetapi juga menemukan kehangatan dalam solidaritas yang terjalin di antara mereka.
Serial ini menyoroti kebingungan, kegagalan, dan anarki dalam persahabatan maupun pekerjaan dari perspektif pandang perempuan di usia 20-an, yang dikemas secara mentah tanpa dipercantik ataupun diromantisasi.
Sex and The City

Sex and the City (1998-2004)/Foto: IMDb.com
Serial ini bercerita tentang Carrie Bradshaw (Sarah Jessica Parker), seorang penulis kolom percintaan di sebuah surat berita di New York, beserta tiga sahabat perempuannya, yaitu Samantha Jones (Kim Cattrall), Charlotte York (Kristin Davis), dan Miranda Hobbes (Cynthia Nixon).
Carrie mengisi tulisannya dengan kisah percintaan dan persahabatan yang ia dan sahabat-sahabatnya alami. Setiap bagian mengikuti gejolak hayat mereka, mulai dari kisah percintaan hingga dinamika persahabatan yang turut berkembang seiring waktu.
Carrie menghadapi permasalahan percintaannya yang putus-nyambung dengan Mr. Big (Chris Noth), Samantha terbiasa berganti-ganti pasangan tanpa komitmen, Miranda sibuk menyeimbangkan hayat individual dan kariernya, sedangkan Charlotte terobsesi dengan konsep romantis dan pernikahan.
Dengan latar hayat urban Manhattan, Sex and the City menggambarkan perjalanan perempuan di usia 30-an dalam menghadapi hubungan, ambisi, dan ekspektasi sosial. Di tengah naik-turunnya hayat romantis, persahabatan menjadi ruang bagi mereka untuk berbagi pengalaman, menemukan dukungan, dan memahami diri sendiri.
Betty

Betty (2020-2021)/Foto: IMDb.com
Serial ini merupakan spin-off dari sinema Skate Kitchen (2018), yang mengisahkan perkumpulan perempuan skateboarder di New York. Betty bercerita tentang Camille (Rachelle Vinberg), Janay (Dede Lovelace), Kirt (Nina Moran), Indigo (Ajani Russell), dan Honeybear (Moonbear) yang menjalani hayat sehari-hari dalam perjalanan menuju pendewasaan di tengah hayat perkotaan.
Camille, dengan kapasitas skateboard-nya yang mumpuni, mencoba membangun kariernya dengan lebih serius. Janay menghadapi permasalahan mengenai kekerasan yang dialaminya, Kirt bebas mengeksplorasi jati dirinya, Indigo menjalani hayat dengan latar belakang famili yang kaya, sedangkan Honeybear bercita-cita menjadi pembuat film. Di tengah perbedaan tersebut, mereka menemukan solidaritas dalam pertemanan yang terjalin.
Melalui kecintaan yang sama terhadap skateboard, mereka menemukan ruang untuk mengekspresikan diri, membangun kepercayaan diri, dan menjalin persahabatan. Betty memperlihatkan sepertiapa solidaritas dapat tumbuh ketika perempuan menemukan ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa mesti menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.
Anne with an E

Anne with an E (2017-2019)/Foto: IMDb.com
Diadaptasi dari novel klasik karya Lucy Maud Montgomery, serial Anne with an E mengisahkan Anne Shirley (Amybeth McNulty), seorang anak yatim piatu yang kemudian tinggal berbareng Matthew dan Marilla Cuthbert, kakak beradik yang awalnya beriktikad mengadopsi anak lelaki untuk membantu pekerjaan di pertanian mereka.
Dengan imajinasi yang luas dan kepribadian yang penuh semangat, Anne berupaya menemukan tempatnya di lingkungan baru sambil menghadapi beragam praduga terhadap latar belakang dan kepribadiannya.
Mengangkat tema feminisme dan kebebasan berekspresi, Anne kerap mempertanyakan kaidah sosial yang membatasi dirinya dan teman-teman perempuannya. Mulai dari ekspektasi terhadap perilaku perempuan hingga pandangan penduduk mengenai pendidikan, pernikahan, dan peran perempuan, serial ini memperlihatkan sepertiapa limitasi sosial dapat memengaruhi pilihan hidup mereka.
Di tengah beragam tantangan tersebut, famili dan persahabatan menjadi bagiankecil krusial dalam perjalanan Anne untuk mengenali dirinya sendiri. Hubungan yang ia bangun memberinya ruang untuk tumbuh tanpa mesti sepenuhnya menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.
Melalui perjalanan Anne dan perempuan-perempuan di sekitarnya, Anne with an E menggambarkan pentingnya kebebasan untuk berpikir, berekspresi, dan menentukan pilihan hidup sejak usia muda.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)