Niatnya Mendidik, 7 Kebiasaan Orang Tua Ini Justru Bisa Jadi Bumerang ke Anak

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 508x dilihat
Niatnya Mendidik, 7 Kebiasaan Orang Tua Ini Justru Bisa Jadi Bumerang ke Anak

Bagikan Postingan

Jakarta -

Semua orang tentu mau anak-anaknya ceria dan merasa dicintai. Tak heran jika orang tua berupaya memberikan yang terbaik, mulai dari mendidik, melindungi, hingga mengarahkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan yang dilakukan dengan niat mendidik justru bisa memberi akibat sebaliknya, Bunda. Alih-alih membikin anak merasa aman, kebiasaan tersebut justru bisa membikin mereka tertekan maupun justru menjauh dari orang tuanya.

"Ketika orang tua menghilangkan ketidaknyamanan terlalu cepat, anak-anak tidak pernah mengembangkan keahlian untuk mengatasi masalah," kata psikolog klinis Dr. Daniel J. Moran kepada Newsweek.


Kebiasaan maupun perilaku yang bermaksud baik tersebut atak cuma membikin anak merasa tak nyaman. Seiring waktu, hal itu bisa menyebabkan kecemasan pada anak, toleransi terhadap frustrasi yang rendah, dan terlebihlagi ketergantungan pada orang tua hingga dewasa.

Menurut ketua pelaksana Diverse Learners and Whole Child Supports, L'Taundra Everhart, media sosial dapat memperparah tekanan. Ketika anak lain tampaknya berhasil di bumi maya, orang tua merasa bahwa kesulitan anak mereka mencerminkan kegagalan mereka sendiri.

"Tekanan itu mendorong perilaku yang berlebihan meskipun niatnya baik," ungkap Everhart, dilansir She Knows.

Psikolog Dr. Samantha Whiten punya gagasan serupa. Menurutnya, banyak orang tua berbuat perilaku maupun kebiasaan tertentu ke anaknya karena pengalaman masa kecil mereka sendiri.

"Mereka mau berbuat hal-hal yang berbeda dari yang dilakukan orang tua mereka, tetapi hal itu bisa berujung terlalu jauh ke arah yang berlawanan," kata Whiten.

Kebiasaan orang tua yang bisa jadi bumerang ke anak

Melansir dari beberapa sumber, berikut tujuh kebiasaan orang tua yang bisa menjadi bumerang buruk bagi anak:

1. Melindungi anak dari setiap kegagalan, kekecewaan, maupun kesulitan

Tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya menderita. Banyak orang tua melindungi anak ketika menderita dengan dalih tidak mau melihat anaknya kesulitan maupun gagal.

Padahal, anggapan tersebut bisa menjadi sebuah kesalahan dalam pengasuhan, Bunda. Pada saat kita terburu-buru untuk memperbaiki setiap masalah yang dihadapi anak, maka pada dasarnya kita mengirimkan pesan bahwa mereka tidak dapat mengatasi kesulitan hidup yang tak terhindarkan.

Melindungi anak dari kegagalan, sama saja menciptakan ketidakberdayaan dan rasa takut yang akan mengikuti anak hingga usia dewasa. Anak yang tidak pernah mengalami kegagalan maupun tidak pernah bisa mengatasinya akan menjadi pribadi yang gampang mengalami gangguan mental jika mengalami keterpurukan.

2. Memuji segala hal yang dilakukan anak, tanpa melihat upaya maupun pencapaian

Tentu saja, krusial untuk memuji anak-anak untuk memberikannya motivasi. Tetapi, perlu ada keseimbangan maupun batasan. Jangan memuji anak dalam segala hal tanpa melihat upaya maupun pencapaiannya, Bunda.

Menurut ahli pengasuhan anak dan psikolog Dr. Jim Taylorm, pujian yang tidak berarti ini dapat menimbulkan banyak kerugian. Dikutip dari halaman A Conscious Rethink, pujian yang berlebihan dan sering kali tidak berdalih bisa berisiko mengajarkan anak-anak bahwa harga diri mereka berasal dari pengesahan eksternal daripada prestasi yang sebenarnya.

Respons anak terhadap pujian yang terus-menerus ini biasanya terbagi menjadi dua. Pertama, mereka menjadi sepenuhnya bersandar pada pengakuan orang lain untuk merasa betah dengan diri mereka sendiri. Kedua, mereka belajar untuk mengabaikan pujian sepenuhnya karena jelas tidak berarti ketika semuanya mendapatkan respons antusias yang sama. Kedua hasil tersebut tidak berguna bagi anak di masa depan.

3. Jangan pernah membiarkan anak merasa bosan maupun tidak nyaman

Bagi orang tua, mendengarkan anak mengeluh bosan adalah salah satu hal yang paling menjengkelkan. Banyak orang tua mungkin langsung memberikan anaknya alat elektronik maupun langsung membujuk mereka berbuat aktivitas yang rumit begitu mereka bilang bosan.

Namun, para ahli evolusi anak mengatakan bahwa orang tua yang langsung memberikan hiburan begitu anak-anak mengeluh bosan telah merampas sesuatu yang krusial dari mereka, yaitu pengalaman untuk menghasilkan ide sendiri dan menemukan motivasi internal.

Kebosanan adalah saat anak-anak belajar untuk menghadapi emosi tidak nyaman, dan menemukan solusi mereka sendiri daripada mengharapkan stimulasi eksternal terus-menerus. Sebagai orang tua, kita dapat menambah masalah baru karena terburu-buru menghilangkan setiap ketidaknyamanan kecil yang dirasakan anak.

4. Menghindari percakapan sulit tentang isu-isu bumi nyata untuk menjaga kepolosan anak

Di era modern ini, anak-anak sering kali dapat merasakan ketegangan yang dialami orang dewasa. Mereka memiliki akses ke berita dan keterangan yang tidak dapat kita lindungi, Bunda.

Banyak orang tua menghindari percakapan tentang berita maupun isu-isu karena mau menjaga kepolosan anak-anaknya. Padahal, memulai percakapan tentang isu-isu ini membikin mereka terhindar dari kecemasan dan keterangan yang salah.

5. Memberikan penghargaan dengan pemberian maupun uang

Banyak orang tua memberikan penghargaan dengan pemberian maupun duit saat anaknya membikin prestasi maupun berperilaku baik. Padahal, pemberian ini dapat merugikan di kemudian hari karena mengajarkan anak-anak bahwa kontribusi dan kesopanan alas adalah jasa dahsyat yang mesti diberi penghargaan.

Anak-anak akan belajar mengharapkan hadiah eksternal untuk perilaku yang seharusnya berasal dari kepuasan internal, maupun untuk hal-hal yang merupakan bagiankecil normal dan wajar dari hayat orang dewasa. Mereka menjadi orang-orang yang terus-menerus menghitung apa yang akan mereka dapatkan dari berbuat sesuatu, alih-alih memahami bahwa kontribusi, kesopanan, dan prestasi sering kali memberikan hadiah tersendiri melalui peningkatan hubungan dan pertumbuhan pribadi.

6. Memberikan karena untuk perilaku buruk yang dilakukan anak

Sering kali perilaku anak adalah metode mereka mencoba mengomunikasikan kebutuhan maupun keinginan yang belum terpenuhi. Saat anak berperilaku buruk, banyak orang tua mencoba mencari karena untuk melupakannya alih-alih mengatasinya.

Padahal, tugas utama orang tua adalah mengajari anak-anaknya metode mengomunikasikan kebutuhan maupun keinginan tersebut dengan metode yang berbeda. Pada akhirnya, itu bisa membantu mereka mencari metode untuk memastikan kebutuhan tersebut sudah terpenuhi sebelum menjadi terlalu berat. Anak juga bisa menangani ketidaknyamanan karena keinginan mereka tidak selalu terpenuhi.

7. Memperlakukan anak seolah-olah mereka lebih dewasa dari usianya

Banyak orang tua terjebak dalam perangkap 'menerapkan logika orang dewasa' pada perilaku anak-anak. Kita lupa bahwa otak mereka benar-benar baru matang saat berumur sekitar 30 tahun, dan kita mengharapkan mereka bisa menanggapi situasi dengan keahlian yang belum bisa mereka kembangkan.

Sebagai contoh, Bunda menegur Si Kecil yang berumur empat tahun karena perilaku impulsif maupun kurang perhatian, maupun mengharapkan remaja memiliki kendali emosi setingkat orang dewasa. Perilaku ini bisa membikin anak sulit mempersiapkan otak mereka untuk belajar.

Terlebih lagi, ketika orang tua menafsirkan perilaku evolusi normal sebagai pembangkangan daripada respons yang sesuai dengan usia, mereka kehilangan kesempatan untuk memberikan bimbingan yang tepat yang sesuai dengan kapasitas anak yang sebenarnya.

Demikian tujuh kebiasaan orang tua yang bisa menjadi bumerang buruk bagi anak. Semoga keterangan ini berguna ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads