No-Spend Challenge, Cara Sederhana Menghemat Uang In This Economy/Foto: Pexels.com/karola g
Harga kebutuhan sehari-hari yang terus berubah membikin kita kudu pandai dalam mengatur keuangan. Belanja bahan makanan, transportasi, tagihan rumah, hingga kebutuhan pribadi perlu diperhitungkan dengan lebih cermat. Di tengah kondisi seperti ini, ada salah satu metode yang bisa kita coba untuk mengatur pengeluaran, ialah no-spend challenge.
Namanya memang terdengar seperti kita tidak boleh mengeluarkan duit sama sekali. Namun, konsep sebenarnya adalah membikin kita untuk menghentikan sementara pengeluaran yang sifatnya tidak wajib, seperti shopping impulsif, makan di luar, alias membeli peralatan yang sebenarnya belum diperlukan.
Penasaran apakah metode ini hanya bisa menghemat duit dalam waktu singkat alias juga dapat mengubah kebiasaan finansial? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Apa Itu No-Spend Challenge?

Pengertian no-spend challenge/Foto: Pexels.com/karola g
Sederhananya, no-spend challenge adalah tantangan untuk menghentikan sementara pengeluaran non-esensial dalam periode tertentu. Selama menjalankan tantangan, kita tetap bayar kebutuhan dan tanggungjawab yang memang kudu dipenuhi, tetapi menunda pembelian yang belum diperlukan.
Mengutip Fidelity, no-spend challenge merupakan upaya membeli kebutuhan pokok saja selama periode tertentu untuk membantu meningkatkan tabungan dan mengevaluasi kembali kebiasaan belanja.
Durasi tantangan tidak mempunyai patokan baku. Ada yang melakukannya selama beberapa hari, satu minggu, satu bulan, apalagi lebih lama. Begitu pula dengan jenis pengeluaran yang dihentikan.
Kita bisa membikin patokan sesuai kondisi finansial kita. Misalnya, tetap membeli bahan makanan, tetapi menghentikan makan di restoran dan shopping busana baru selama satu bulan. Jadi, inti no-spend challenge bukan betul-betul tidak membelanjakan uang, melainkan lebih sadar terhadap duit yang keluar.
No-Spend Challenge dan Kebiasaan Belanja Gen Z-Milenial

No-spend challenge dan kebiasaan shopping Gen Z/Foto: Pexels.com/Tim Douglas
Bagi sebagian Gen Z dan milenial, keputusan membeli sesuatu tidak selalu berangkaian dengan kebutuhan. Belanja juga bisa menjadi langkah untuk mencari kesenangan sesaat, menghibur diri setelah hari yang melelahkan, alias mengusir rasa bosan. Kebiasaan seperti ini membikin pengeluaran terkadang muncul bukan lantaran peralatan tersebut betul-betul dibutuhkan, melainkan lantaran dorongan emosional.
No-spend challenge bisa menjadi kesempatan untuk berakhir sejenak sebelum membeli sesuatu. Ketika kemauan shopping muncul, kita bisa bertanya kepada diri sendiri apakah peralatan tersebut memang dibutuhkan alias hanya memberikan kepuasan sementara.
Jeda ini bisa membantu mengenali pemicu pengeluaran, seperti bosan, stres, alias kemauan mendapatkan instant gratification. Dengan memahami argumen di kembali keputusan membeli, kita berkesempatan menjadi lebih selektif dalam membelanjakan uang, bukan sekadar mengurangi jumlah transaksi selama challenge berlangsung.
Cara Kerja No-Spend Challenge

Cara kerja no-spend challenge/Foto: Pexels.com/karola g
Prinsip no-spend challenge sebenarnya cukup sederhana. Sebelum memulai, kita menentukan terlebih dulu periode tantangan dan membikin batas mengenai pengeluaran apa saja yang diperbolehkan.
Kebutuhan wajib seperti tempat tinggal, tagihan, bahan makanan, transportasi untuk bekerja, obat-obatan, dan tanggungjawab utang tetap masuk dalam anggaran. Sebaliknya, pengeluaran seperti busana baru, nongkrong, shopping dekorasi, makanan pesan antar, alias peralatan yang belum dibutuhkan bisa ditunda.
Setelah itu, kita menjalani periode yang sudah ditentukan sembari mencatat pengeluaran. Uang yang biasanya digunakan untuk pengeluaran non-esensial bisa dialihkan ke tujuan tertentu, misalnya tabungan, biaya darurat, alias pembayaran utang. Sebagaimana telah dikutip dari PNC Bank, dengan menentukan tujuan, membikin patokan yang jelas, melacak perkembangan, dan mengalihkan duit yang sukses dihemat bisa membantu membikin tantangan lebih terarah.
Manfaat No-Spend Challenge

Manfaat no-spend challenge/Foto: Pexels.com/Towfiqu barbhuiya
Ketika kita menghentikan kebiasaan shopping selama beberapa waktu, kita bisa memandang pengeluaran mana yang sebenarnya hanya muncul lantaran kebiasaan, kenyamanan, alias dorongan sesaat. Tantangan ini juga bisa membantu kita mengevaluasi hubungan dengan uang.
Dengan melakukan no-spend challenge, kita bisa meningkatkan tabungan, pemahaman yang lebih baik mengenai pola pengeluaran, dan kebiasaan finansial yang lebih baik. Sementara itu, sebuah riset dari Consumer Financial Protection Bureau menunjukkan bahwa mempunyai info mengenai pengeluaran secara lebih jelas bisa membantu kita mengendalikan pengeluaran dan membikin keputusan anggaran.
Apakah No-Spend Challenge Efektif untuk Jangka Panjang?

No-spend challenge sebagai langkah awal mengubah kebiasaan finansial/Foto: Pexels.com/olia danilevich
No-spend challenge pada dasarnya merupakan metode jangka pendek untuk membantu mengevaluasi kebiasaan pengeluaran. Manfaat yang didapatkan dari metode ini bukan hanya tabungan yang bertambah selama periode tantangan, tetapi juga perubahan kebiasaan finansial yang dapat dibawa ke kehidupan sehari-hari.
Setelah tantangan selesai, kita bisa menggunakan pengalaman tersebut untuk membikin kebiasaan baru. Dengan begitu, no-spend challenge berfaedah sebagai semacam reset sebelum kita kembali membikin pola pengeluaran yang lebih realistis.
No-Spend Challenge Tidak Harus Dilakukan Secara Ekstrem

No-spend challenge bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan/Foto: Pexels.com/karola g
Jika membatasi semua pengeluaran non-esensial terasa terlalu berat, ada salah satu pengganti yang bisa dicoba, ialah membikin catatan yang lebih spesifik. Beberapa contohnya seperti menghentikan shopping busana selama satu bulan, tidak menggunakan jasa pesan makanan selama dua minggu, alias berakhir membeli kopi dari luar untuk sementara waktu.
Cara seperti ini tetap membawa prinsip no-spend challenge, tetapi dengan ruang yang lebih fleksibel. Tantangan ini bisa dimodifikasi dengan membekukan pengeluaran pada kategori tertentu saja. Hal yang terpenting adalah patokan tersebut tidak membikin kita mengorbankan kebutuhan dasar alias tanggungjawab finansial.
Jika kondisi finansial sedang ketat, membikin anggaran berasas pengeluaran aktual dan menyesuaikannya secara berkala justru lebih krusial daripada memaksakan tantangan yang terlalu ekstrem, lantaran salah satu tanda kita mempunyai finansial yang sehat adalah dengan mempunyai anggaran yang realistis dan diperbarui ketika kondisi alias kebiasaan pengeluaran berubah.
No-spend challenge bisa menjadi langkah sederhana untuk memberi jarak dari kebiasaan shopping dan memandang kembali ke mana duit kita selama ini pergi. Metode ini tidak mengharuskan kita berakhir mengeluarkan duit sepenuhnya, melainkan mengingatkan kita untuk lebih memprioritaskan kebutuhan dasar dan tanggungjawab finansial daripada keinginan.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)