Orang tua yang sibuk menggunakan ponselnya mungkin terlihat seperti gangguan biasa. Tapi tahu kah, Bunda, jika perilaku tersebut bisa membikin anak merasa diabaikan, disingkirkan, alias apalagi ditolak?
Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai phubbing orang tua. Phubbing sendiri merupakan campuran dari kata phone (ponsel) dan snubbing (mengabaikan). Alih-alih mengurus anak dengan memberikan perhatian penuh, orang tua lebih memilih untuk sibuk dengan ponselnya.
Pengaruh penggunaan ponsel khususnya penggunaan media sosial mempunyai pengaruh signifikan terhadap hubungan antara orang tua dan anak. Menurut studi yang dipresentasikan di Digital Media and Developing Minds International Scientific Congress di Washington, DC, orang tua yang aktif menggunakan media sosial 29 persen berbincang lebih sedikit kepada anak dibanding orang tua yang penggunaan media sosialnya lebih rendah.
Jika ponsel digunakan di waktu yang tepat mungkin tidak bakal menimbulkan masalah, yang rawan adalah ketika penggunaan ponsel tiada henti yang mengganggu komunikasi hingga membikin anak merasa kurang krusial dibanding perangkat tersebut.
Dikutip dari laman Times of India, sebuah studi tahun 2022 terhadap 1.140 remaja menemukan bahwa perilaku orang tua yang mengabaikan anak (phubbing) berangkaian dengan meningkatnya kecenderungan anak untuk dijauhi kawan sebayanya. Perasaan ditolak oleh orang tua menjadi salah satu argumen yang bisa menjelaskan hubungan tersebut.
Orang tua dengan kategori rendah dalam bermedia sosial rata-rata mengaksesnya 21 menit per hari, sedangkan orang tua yang aktif bermedia sosial rata-rata menghabiskan 169 menit per hari.
Dampak phubbing terhadap anak
Anak-anak mengharapkan respons dari orang tua mereka, baik ketika berbicara, mengusulkan pertanyaan, alias mencoba membagikan sesuatu. Ketika anak tidak mendapatkan respons secara berulang kali, memungkinkan anak merasa diabaikan dan menganggap bahwa orang tua mereka tidak tertarik dengan yang mereka katakan.
Studi dari PubMed tahun 2020 menyatakan jika masalahnya bukan keberadaan ponsel, tetapi seberapa banyak perhatian yang diambil dari anak. Anak mungkin bakal lebih gigih dalam mengulangi pertanyaan dan menyela percakapan agar mendapatkan perhatian.
Bagi beberapa orang tua mungkin itu adalah perilaku buruk, tetapi dari perspektif pandang anak, itu mungkin upaya untuk memulai komunikasi alias percakapan yang telah terputus. Jika pola tersebut terus berulang, anak bakal merasa kurang nyaman untuk mendekati orang tua alias apalagi sekedar menyampaikan sesuatu.
Peneliti dalam sebuah studi naturalistik terhadap orang tua dan anak kecil, ketika orang tua enak-enak dengan ponsel mereka, orang tua bakal kurang menanggapi dan tanggapan mereka condong lebih lambat dan kurang terlibat. Selain itu, kebiasaan phubbing bisa menjadi penyebab kurangnya emosi terhubung.
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 56.000 anak menemukan jika kondisi tersebut dapat menjadi tingkat masalah emosional internal dan eksternal, serta membikin anak mempunyai keahlian sosial-emosional yang lebih rendah.
Cara mengurangi kebiasaan mengabaikan anak lantaran ponsel
Komunikasi menjadi suatu perihal yang esensial dalam suatu hubungan. Anak-anak yang umurnya lebih muda lebih memerlukan orang tua mereka untuk datang secara mental saat mereka bermain.
Psikologi menyarankan sesuatu yang lebih praktis, seperti memberikan perhatian yang penuh dan berkepanjangan untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka penting. Selain itu, sampaikan pada anak bahwa kita menyayangi mereka.
Liz Robinson, mahasiswa doktoral di Universitas Alabama di Tuscaloosa dan penulis utama di studi tersebut mengatakan jika orang tua diharapkan berbincang dengan anak sepanjang waktu untuk perkembangan sosial dan emosional anak. Hal ini juga dapat membantu anak mengembangkan kegunaan eksekutif, seperti fokus, pengendalian diri, dan langkah mengatur emosinya.
Berinteraksi dengan orang dewasa dapat menjadi salah satu langkah anak untuk memprioritaskan sesuatu. Anak belajar tentang gimana orang dewasa memandang sesuatu yang penting.
Dengan penjelasan sebelumnya bisa disimpulkan pentingnya bagi orang tua untuk mengurangi gelombang dalam bermedia sosial. Selain itu, pahami akibat penggunaan ponsel serta media sosial bagi diri sendiri dan anak.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)