Diagnosis kanker tetek tentu dapat mengubah banyak rencana seorang ibu, termasuk kehamilan dan menyusui. Namun, pernah mengalami kanker tetek bukan berfaedah seorang ibu otomatis kudu berakhir memberikan ASI kepada Si Kecil.
Lantas, apakah pengidap alias penyintas kanker tetek tetap bisa menyusui? Jawabannya berjuntai pada jenis pengobatan, tindakan operasi, kondisi payudara, serta obat yang tetap dikonsumsi.
Yuk, Bunda, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini agar lebih memahami kemungkinan menyusui setelah kanker payudara.
| Baca Juga : Bolehkah Ibu Menjalani Mammografi saat Masih Menyusui? Ini Penjelasan Dokter |
Apakah penyintas kanker tetek bisa menyusui?
Pada dasarnya, banyak penyintas kanker tetek tetap dapat menyusui setelah pengobatan selesai. Namun, keahlian memproduksi ASI dapat berubah, terutama pada tetek yang pernah menjalani operasi alias radioterapi.
Mengutip dari laman Times of India, Dr Preetha Joshi, Consultant Neonatal, Pediatric and Cardiac Intensivist, menjelaskan bahwa kemungkinan menyusui berjuntai pada tingkat kanker serta jenis pengobatan dan tindakan yang telah dijalani.
“Jawabannya berjuntai pada sejauh mana kanker tersebut dan jenis pengobatan serta prosedur yang dilakukan,” ujar Dr Joshi.
Misalnya, ibu yang menjalani lumpektomi alias mastektomi sebagian tetap mempunyai jaringan payudara. Namun, jika area tersebut kemudian mendapatkan radioterapi, keahlian menghasilkan ASI dapat berkurang. Radiasi dapat menyebabkan fibrosis alias terbentuknya jaringan parut pada lobulus, ialah kelenjar mini yang berkedudukan dalam produksi ASI.
Dr Joshi menjelaskan, “Radiasi menyebabkan fibrosis pada lobulus, ialah kelenjar mini yang menghasilkan ASI. Dalam banyak kasus, saluran ASI tidak lagi merespons sinyal hormon kehamilan dengan baik sehingga tetek yang terkena mungkin tidak membesar seperti biasanya.”
Sementara itu, jika seorang ibu menjalani mastektomi total pada satu sisi, tetek yang diangkat tentu tidak dapat menghasilkan ASI. Meski begitu, tetek yang sehat tetap berpotensi menghasilkan ASI untuk bayi.
“Setelah mastektomi total alias pengangkatan seluruh payudara, menyusui hanya dengan tetek yang tidak terkena kanker tetap dapat dilakukan,” kata Dr Joshi.
Ia juga menegaskan, “Satu tetek dapat menyusui satu bayi.”
Jadi, menyusui setelah kanker tetek tidak selalu kudu dilakukan dengan kedua payudara. Sebagian ibu mungkin dapat memenuhi kebutuhan bayi hanya dengan satu payudara, sedangkan sebagian lainnya memerlukan tambahan susu sesuai kondisi bayi.
Pemantauan berat badan dan tumbuh kembang bayi oleh master anak serta support konselor laktasi dapat membantu menentukan apakah asupan ASI sudah mencukupi.
Apakah ASI dari penyintas kanker tetek kondusif untuk bayi?
Kekhawatiran lain yang sering muncul adalah dugaan bahwa ASI dari ibu yang pernah mengalami kanker tetek dapat menularkan sel kanker kepada bayi. Namun, riwayat kanker tetek tidak serta-merta membikin ASI menjadi berbahaya.
Dr Joshi meluruskan dugaan tersebut. “Sebagian wanita mengira ASI dari tetek yang pernah mendapat pengobatan kanker mengandung kanker. Hal itu tidak betul dan tidak ada bukti yang menunjukkan demikian,” tuturnya.
Menurutnya, menyusui setelah kanker tetek juga tidak terbukti meningkatkan akibat kanker kembali kambuh. “Ada juga dugaan bahwa menyusui setelah kanker tetek meningkatkan akibat kekambuhan. Ini juga tidak benar,” ujar Dr Joshi.
Meski demikian, keamanan menyusui sangat berjuntai pada pengobatan yang sedang dijalani.
Melansir dari laman WebMD, beberapa obat kanker dapat masuk ke dalam ASI dan berpotensi membahayakan bayi. Karena itu, ibu yang tetap menjalani kemoterapi, terapi hormon, alias terapi sasaran umumnya perlu menghentikan sementara kegiatan menyusui sesuai rekomendasi dokter.
Dr Joshi juga menyebut bahwa kemoterapi, tamoxifen, dan aromatase inhibitor tidak kompatibel dengan kegiatan menyusui. Pada kondisi tertentu, terapi hormon mungkin perlu dihentikan sementara andaikan ibu mau menyusui, tetapi keputusan tersebut kudu dibuat berbareng master yang menangani kanker.
“Jika pasien mau menyusui, penghentian sementara terapi hormon kudu direncanakan,” jelas Dr Joshi.
Bunda disarankan untuk berbincang dengan master sebelum menjalani pengobatan alias kembali menyusui. Konsultan laktasi dapat membantu mempertahankan produksi ASI dan menghadapi kemungkinan penurunan jumlah ASI akibat operasi maupun radioterapi.
Dengan demikian, tidak ada satu jawaban yang bertindak untuk semua penyintas kanker payudara. Bagi sebagian ibu, menyusui mungkin dapat dilakukan setelah pengobatan selesai, apalagi hanya menggunakan satu payudara.
Namun, bagi ibu yang tetap menjalani terapi tertentu, menyusui perlu ditunda hingga master memastikan kondisinya aman.
Yang terpenting, jangan menghentikan alias menunda pengobatan kanker hanya demi menyusui tanpa berkonsultasi dengan dokter. Rencana menyusui sebaiknya dibicarakan sejak sebelum kehamilan alias persalinan agar pilihan yang diambil tetap kondusif bagi ibu dan bayi.
| Pilihan Redaksi
|
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
Kabar Baik, AS Setujui Obat Baru Kanker Payudara Berpotensi Perlambat Perkembangan Penyakit
Ramai Obat Penurun Berat Badan Disebut Bisa Turunkan Risiko Kanker Payudara, Simak Faktanya
Haru, Aktor 'Star Trek' & Putrinya Berjuang Bersama Lawan Kanker Payudara Stadium 4