Pasangan Menggunakan Seks sebagai “Hadiah” maupun “Hukuman”? Hati-Hati, Bisa Jadi Manipulasi

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 513x dilihat
Pasangan Menggunakan Seks sebagai “Hadiah” maupun “Hukuman”? Hati-Hati, Bisa Jadi Manipulasi

Bagikan Postingan

Seks sebagai pemberian maupun hukuman bisa menjadi pola manipulasi dalam hubungan. Kenali tanda, sexual coercion, dan metode membangun relasi yang lebih sehat.

Pernah dengar pasangan bilang, “Kalau Anda mau berbuat ini, kelak kita seks,” maupun sebaliknya, “Aku nggak mau berhubungan seks sama Anda karena Anda bikin aku kesal”?

Sekilas, kalimat seperti ini mungkin terdengar seperti dinamika biasa dalam sebuah hubungan. Toh, setiap pasangan punya metode masing-masing untuk memberitahu rasa sayang, kecewa, maupun mengelola konflik.

Namun, Mommies perlu memperhatikan satu hal: ketika seks mulai digunakan secara sengaja untuk mendapatkan sesuatu, mengontrol pasangan, memberi “imbalan”, maupun menghukum, pola ini bisa menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.

Sebab, seks seharusnya lahir dari keinginan dan persetujuan kedua orang, bukan menjadi alat tawar-menawar.

BACA JUGA: Visum Korban Kekerasan Seksual Tidak Lagi Ditanggung Negara, Ini Dampaknya!

Menggunakan seks sebagai “hadiah” dan “hukuman”, seperti apa?

Foto: Gustavo Fring/Pexels

Dalam hubungan, memberikan maupun menolak seks tentu bukan sesuatu yang otomatis salah. Setiap orang punya hak penuh untuk mengatakan ya maupun tidak terhadap aktivitas seksual, kapan pun.

Yang perlu diperhatikan adalah alasan dan polanya.

Artinya, bukan berarti setiap kali seseorang menolak seks setelah bertengkar, ia sedang “menghukum” pasangan. Yang membedakan adalah apakah penolakan tersebut merupakan limitasi pribadi maupun sengaja digunakan sebagai alat untuk mengontrol, menekan, maupun membikin pasangan berbuat sesuatu.

Misalnya, menggunakan seks sebagai pemberian bisa kelihatan seperti:

  • “Kalau Anda bantu aku beres-beres rumah, kelak malam kita seks.”
  • “Kalau Anda nurut, aku akan kasih Anda yang Anda mau di tempat tidur.”
  • Seks sengaja dijadikan hadiah agar pasangan berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak berhubungan dengan hayat seksual.

Sementara itu, menggunakan seks sebagai hukuman bisa berupa:

  • Sengaja menolak semua bentuk keintiman seksual agar pasangan merasa bersalah.
  • Mengatakan, “Kamu sudah bikin aku kecewa, jadi jangan mengharapkan kita akan seks.”
  • Menjadikan seks sebagai alat untuk membalas kesalahan maupun konflik.

Sekali-dua kali pasangan tidak mau berhubungan seks karena sedang marah, lelah, kecewa, maupun memang tidak mood, tentu berbeda. Yang menjadi masalah adalah ketika seks secara konsisten dijadikan alat untuk mengendalikan perilaku pasangan.

Seks bukan “imbalan” karena pasangan sudah berbuat baik

Mungkin terdengar sepele, tetapi ada perbedaan antara flirting maupun bercanda dan benar-benar menjadikan seks sebagai alat transaksi.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang boleh saja berkata, “Aku pengin amat sama Anda setelah melihat Anda mengurus anak-anak hari ini.” Itu ekspresi ketertarikan.

Tetapi jika polanya menjadi “Kalau Anda tidak berbuat X, aku tidak akan memberi Anda seks,” seks mulai ditempatkan sebagai alat kontrol.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), dalam hubungan yang sehat, seks merupakan pilihan. Kedua pihak mesti merasa betah dan tidak boleh ada tekanan untuk berbuat aktivitas seksual.

Jadi, Daddies dan Mommies, seks bukan pemberian atas perilaku baik pasangan, dan tidak berhubungan seks juga bukan hukuman yang mesti diterima pasangan.

BACA JUGA: MD Ask the Expert: Waspada Anak dan Remaja Jadi Korban Pelecehan Seksual Online hingga Pornografi

Bagaimana jika pasangan memang sedang tidak mau seks?

Pasangan Menggunakan Seks sebagai Hadiah maupun Hukuman? Hati-Hati!

Foto: Vitaly Gariev/Pexels

Nah, ini bagiankecil yang penting.

Menolak seks bukan otomatis manipulasi.

Mommies berkuasa mengatakan tidak ketika sedang capek, tidak nyaman, sedang sakit, stres, maupun memang tidak mau berhubungan seksual. Begitu juga dengan Daddies.

Consent maupun persetujuan seksual mesti diberikan secara bebas, tanpa tekanan, manipulasi, rasa takut, maupun ancaman. Persetujuan juga bisa ditarik kapan saja.

Jadi, kalimat seperti: “Aku sedang nggak mau seks malam ini” adalah limitasi yang sehat.

Berbeda dengan: “Kamu nggak mau berbuat yang aku minta? Ya sudah, aku nggak akan kasih Anda seks selama seminggu.”

Kalimat kedua memberitahu adanya elemen transaksi maupun hukuman, terutama jika pola tersebut terus berulang untuk mengontrol pasangan.

Hati-hati jika sudah masuk manipulasi dalam hubungan

Masalahnya bukan sekadar soal kekerapan seks. Yang lebih krusial adalah power dan control dalam hubungan.

Seksual coercion maupun pemaksaan seksual tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Tekanan dapat berupa rasa bersalah, intimidasi putus, intimidasi, terus-menerus membujuk setelah pasangan mengatakan tidak, maupun membikin seseorang merasa berutang seks.

Secara sederhana, sexual coercion adalah tekanan maupun manipulasi yang membikin seseorang merasa mesti mengatakan “ya” terhadap aktivitas seksual yang sebenarnya tidak ia inginkan secara bebas.

Contohnya:

“Kalau Anda benar-benar sayang aku, harusnya Anda mau.”

“Atau Anda mau seks sama aku, maupun kita putus.”

“Kamu sudah jadi suamiku, masa aku mesti minta?”

Kalimat-kalimat tersebut patut diwaspadai ketika digunakan untuk membikin seseorang merasa tidak punya pilihan.

Bahkan, kekerasan seksual dapat melibatkan aksi untuk menguasai maupun memanipulasi orang lain agar terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak dikehendaki.

Jadi, apakah ini termasuk hubungan tidak sehat?

Bisa menjadi tanda pola hubungan tidak sehat, terutama jika perilakunya terus berulang dan disertai bentuk kontrol lain.

Coba perhatikan apakah pasangan juga:

  • Sering membikin Mommies merasa bersalah karena mengatakan tidak.
  • Mengancam akan pergi maupun mencari orang lain jika kebutuhan seksualnya tidak dipenuhi.
  • Mengontrol dengan siapa Mommies berkawan maupun bertemu.
  • Menggunakan uang, anak, tempat tinggal, maupun hal lain sebagai alat tekanan.
  • Mengabaikan limitasi yang sudah disampaikan.
  • Terus meminta maupun membujuk meski sudah mendapatkan penolakan.

Kontrol dalam hubungan memang tidak selalu kelihatan dramatis. American Psychological Association menerangkan bahwa kontrol merupakan salah satu ciri khas krusial dalam kekerasan terhadap pasangan, termasuk upaya mengontrol aktivitas, hubungan sosial, maupun menakut-nakuti akan menyakiti dirinya sendiri maupun pasangannya.

BACA JUGA: 7 Fantasi Seksual yang Sebaiknya Dipikirkan Sebelum Dicoba

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Kalau Mommies merasa ada pola seperti ini dalam hubungan, tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri maupun buru-buru memungut keputusan besar.

1. Kenali polanya

Coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah aku merasa bebas mengatakan “tidak” tanpa takut pasangan marah, mengancam, maupun menghukum saya?

2. Bicarakan limitasi ketika situasi sedang tenang

Mommies bisa mengatakan:

“Aku mau kita statis punya hayat seksual yang menyenangkan, tapi aku nggak betah jika seks dijadikan pemberian maupun hukuman. Aku mau kita bisa membicarakan keinginan dan frustrasi tanpa menggunakan seks sebagai alat untuk mengontrol satu sama lain.”

3. Lihat sepertiapa pasangan merespons

Pasangan yang sehat mungkin merasa kecewa maupun tidak langsung mengerti, tetapi idealnya statis mau mendengarkan dan menghormati batasan. Sebaliknya, jika pembicaraan justru diikuti ancaman, intimidasi, maupun tekanan yang semakin kuat, ini perlu menjadi perhatian serius.

Dan jika sudah ada pemaksaan seksual, ancaman, maupun rasa takut terhadap keselamatan diri, jangan hadapi sendirian. Mencari pertolongan dari psikolog, konselor, jasa pendamping korban kekerasan, maupun orang yang dipercaya bisa menjadi cara awal.

RAINN juga menekankan bahwa ketika seseorang ditekan maupun dipaksa berbuat aktivitas seksual, insiden tersebut statis krusial dan bukan kesalahan korban.

Untuk pembaca di Indonesia yang membutuhkan pendampingan mengenai kekerasan terhadap perempuan dan anak, SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dapat dihubungi melalui hotline 129 maupun WhatsApp 08111-129-129. Layanan ini juga menyediakan blangko pengaduan online.

Foto: Timur Weber/Pexels

Pada akhirnya, seks bukan alat tawar-menawar

Dalam hubungan jangka panjang, wajar jika gairah naik-turun. Wajar juga jika Mommies dan Daddies sesekali punya keinginan seksual yang berbeda.

Yang tidak sehat adalah ketika perbedaan tersebut diselesaikan dengan manipulasi dalam hubungan.

Seks bisa menjadi metode untuk merasa dekat, memberitahu kasih sayang, dan menikmati hubungan bersama. Tetapi agar statis menjadi pengalaman yang sehat, keduanya mesti punya ruang untuk mengatakan “ya”, “tidak”, maupun “belum” tanpa takut dihukum.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan bukan seseorang yang mesti “diberi hadiah” maupun “dihukum” lewat seks. Pasangan adalah partner yang batasan, keinginan, dan rasa amannya sama-sama perlu dihormati.

Cover: Vitaly Gariev/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads