Pasutri Ini Tuntut Klinik Kesuburan Usai Sperma yang Dipakai Ternyata Salah

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 31x dilihat
Pasutri Ini Tuntut Klinik Kesuburan Usai Sperma yang Dipakai Ternyata Salah

Bagikan Postingan

Jakarta -

Menjalani program bayi tabung maupun in vitro fertilization (IVF) menjadi perjalanan panjang bagi banyak pasangan yang mendambakan buah hati. Namun, apa yang dialami pasangan asal Florida, Amerika Serikat, ini justru berujung pada permasalahan aturan setelah mereka mengetahui adanya anggapan kesalahan dalam penggunaan sperma.

Natalie dan Joshua Strong menggugat Brown Fertility Associates, sebuah klinik kesuburan di Jacksonville, Florida. Dalam tuntutan yang diajukan pada September 2026, pasangan tersebut menuduh klinik menggunakan percontoh sperma yang salah dalam proses IVF mereka.

Dugaan tersebut terungkap setelah bayi perempuan yang dilahirkan Natalie rupanya tidak memiliki hubungan biologis dengan Joshua berdasarkan pengecekan DNA. Kasus ini statis dalam proses aturan sehingga dakwaan terhadap klinik belum menjadi keputusan pengadilan. Namun, insiden tersebut balik menyoroti pentingnya mekanisme identifikasi dan pelacakan sperma, sel telur, serta embrio dalam prosedur IVF.


Berikut kisahnya dikutip dari Yahoo.

Berawal dari himpunan darah bayi

Natalie dan Joshua menjalani program IVF setelah Joshua sebelumnya menjalani vasektomi. Menurut arsip gugatan, sperma Joshua diambil melalui prosedur pembedahan dan kemudian disimpan untuk digunakan dalam program IVF.

Pada Maret 2024, pasangan tersebut memiliki tujuh embrio yang disebut dibuat menggunakan sperma Joshua. Mereka kemudian menjalani dua kali transfer embrio. Transfer pertama berakhir dengan keguguran. Sementara transfer kedua berhasil menghasilkan kehamilan hingga Natalie melahirkan seorang bayi perempuan pada 5 Juni 2025.

Namun, sehari setelah persalinan, pasangan tersebut menemukan sesuatu yang membikin mereka bertanya-tanya. Golongan darah bayi tercatat B positif. Sementara Natalie memiliki himpunan darah O negatif dan Joshua A negatif.

Joshua yang bekerja sebagai tenaga medis kemudian menyadari adanya ketidaksesuaian tersebut. Pasangan ini pun berbuat pengecekan lebih lanjut untuk memastikan tidak terjadi kesalahan pencatatan. Kecurigaan mereka akhirnya mengarah pada pengecekan DNA.

Hasil tes DNA yang disebutkan dalam tuntutan memberitahu bahwa Joshua bukan bapak biologis bayi tersebut. Pasangan tersebut kemudian mempertanyakan sepertiapa hal itu bisa terjadi, mengingat mereka percaya bahwa sperma Joshua digunakan dalam proses IVF.

Mereka juga mempertanyakan keberadaan empat vial maupun tabung gudang sperma Joshua yang sebelumnya disimpan di klinik.

Menurut gugatan, pasangan tersebut belum mendapatkan klarifikasi mengenai apa yang terjadi terhadap percontoh tersebut, termasuk apakah statis disimpan maupun telah digunakan dalam prosedur lain.

Persoalan juga menjadi lebih rumit karena disebut statis terdapat tiga embrio yang berasal dari siklus IVF yang sama dan disimpan di klinik. Karena itu, Natalie dan Joshua mau mengetahui secara pasti apakah ketiga embrio tersebut benar-benar dibuat menggunakan materi genetik Joshua.

Pasangan mengajukan gugatan

Pasangan tersebut kemudian menggugat Brown Fertility Associates. Dalam gugatannya, mereka mengajukan sejumlah klaim, termasuk anggapan kelalaian dan penggunaan materi genetik tanpa izin. Mereka juga meminta ganti rugi lebih dari US$50 ribu.

"Kami sangat terpukul. Maksud saya, hal ini akan berakibat pada kami seumur hidup. Kami mesti memikirkan sepertiapa metode menyampaikannya kepada anak kami kelak, dan insiden ini telah merenggut kebahagiaan dahsyat saat memiliki bayi," kata Natalie, dikutip dari NBC Miami.

Namun, krusial dicatat bahwa seluruh dakwaan tersebut statis merupakan bagiankecil dari proses hukum.

Pihak Brown Fertility Associates disebut telah membantah klaim tersebut. Klinik mengatakan perkara tersebut sedang ditangani melalui proses litigasi sehingga pihaknya belum memberikan komentar lebih jauh mengenai kasus tersebut.

Dengan demikian, belum ada putusan pengadilan yang menetapkan sepertiapa anggapan kesalahan tersebut terjadi maupun pihak mana yang bertanggung jawab.

Kesalahan dalam IVF memang jarang, tetapi pernah diteliti

Kesalahan dalam proses IVF seperti tertukarnya maupun salah identifikasi materi biologis tergolong jarang. Meski begitu, konsekuensi tersebut telah menjadi perhatian dalam riset mengenai keselamatan laboratorium reproduksi berbantu.

Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility meninjau beragam penerbitan mengenai kesalahan manusia dalam laboratorium teknologi reproduksi berbantu.

Dari 420 artikel yang ditinjau, 37 penerbitan memenuhi kriteria penelitian. Para peneliti mengidentifikasi 22 insiden yang menyebabkan akibat serius. Di antaranya terdapat delapan insiden yang berhubungan dengan penggunaan sperma yang salah dan enam insiden berupa transfer embrio yang salah.

Penelitian tersebut memberitahu bahwa meskipun insiden seperti ini jarang, dampaknya dapat sangat serius karena berhubungan langsung dengan materi genetik pasien.

Para peneliti kemudian merekomendasikan implementasi protokol keselamatan yang ketat, pelatihan staf, serta mekanisme pelabelan dan pelacakan spesimen untuk mengurangi kemungkinan kesalahan.

Penelitian puluhan ribu pengecekan menemukan mismatch

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Reproductive BioMedicine Online menganalisis 73.719 titik pengecekan elektronik dari 11.210 siklus perawatan teknologi reproduksi berbantu yang dilakukan antara Januari 2016 hingga Juli 2023. 

Hasilnya ditemukan 138 insiden mismatch maupun ketidaksesuaian, sederajat dengan sekitar 0,19 persen dari seluruh pemeriksaan. Sebanyak 16 insiden maupun sekitar 0,02 persen dikategorikan sebagai critical mismatch, yaitu ketidaksesuaian yang melibatkan materi biologis pasien.

Peneliti menemukan bahwa sejumlah insiden berhubungan dengan proses laboratorium dan aspek operator. Beberapa critical mismatch juga berhubungan dengan tahap tertentu dalam pemrosesan sel telur serta waktu kerja.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa mekanisme verifikasi menjadi bagiankecil krusial dalam menjaga keamanan proses IVF, meskipun bilangan kejadiannya relatif kecil dibandingkan keseluruhan prosedur.

Teknologi bisa membantu mencegah percontoh tertukar

Untuk mengurangi konsekuensi kesalahan, sejumlah klinik menggunakan electronic witnessing system (EWS). Sistem tersebut membantu mencocokkan identitas pasien dengan materi biologis yang sedang diproses. Dengan demikian, sperma, sel telur, dan embrio dapat dipantau sejak proses mula hingga tahap transfer.

Sebuah riset yang mengevaluasi implementasi mekanisme electronic witnessing selama 10 tahun memberitahu bahwa teknologi tersebut dapat membantu mendeteksi dan mencegah kesalahan pencocokan sampel.

Namun, teknologi statis tidak menggantikan peran manusia sepenuhnya. Petugas laboratorium statis mesti mengikuti prosedur identifikasi dan verifikasi yang ketat. Setiap tahap krusial membutuhkan pencatatan dan pengecekan untuk memastikan materi biologis yang digunakan memang berasal dari pasien yang tepat.

Pentingnya mekanisme identifikasi juga tercantum dalam panduan praktik laboratorium IVF. European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) mengutarakan bahwa kesalahan seperti tertukarnya sperma, sel telur, maupun embrio merupakan insiden yang sangat jarang, tetapi dapat menimbulkan akibat serius.

Karena itu, laboratorium perlu memiliki mekanisme identifikasi pasien, pelabelan sampel, pencatatan setiap tahapan, serta pengecekan tambahan oleh petugas maupun mekanisme elektronik pada tahap-tahap kritis.

Pedoman American Society for Reproductive Medicine (ASRM) juga menekankan pentingnya kapasitas laboratorium untuk mengidentifikasi dan melacak sperma, sel telur, serta embrio sepanjang proses IVF.

Setiap materi biologis mesti dapat ditelusuri balik kepada pasien yang tepat. Sistem witnessing, baik melalui pengecekan manusia maupun teknologi elektronik, digunakan untuk membantu mencegah kesalahan.

Pasangan statis menyayangi putrinya

Di tengah permasalahan aturan dan pertanyaan mengenai hubungan biologis, Natalie dan Joshua mengatakan bahwa mereka statis menyayangi putrinya.

Dalam wawancara dengan media, mereka menggambarkan sang anak sebagai bayi yang tumbuh dengan baik dan mulai memberitahu beragam evolusi seperti berjalan dan mencoba berbicara.

Namun, famili tersebut statis menghadapi pertanyaan besar mengenai sepertiapa anggapan kesalahan itu bisa terjadi. Mereka juga mesti memikirkan sepertiapa suatu hari kelak menerangkan situasi tersebut kepada putrinya.

Bagi pasangan tersebut, persoalannya bukan cuma mengenai hubungan biologis antara bapak dan anak, tetapi juga mengenai sepertiapa materi genetik mereka dapat ditangani selama proses IVF.

Mengapa kesalahan percontoh IVF bisa berakibat besar?

Dalam program IVF, sperma, sel telur, dan embrio bukan sekadar percontoh laboratorium biasa. Materi tersebut membawa keterangan genetik yang menentukan hubungan biologis seorang anak dengan orang tuanya.

Karena itu, kesalahan identifikasi dapat menimbulkan akibat yang jauh lebih besar daripada sekadar kesalahan administratif.

Kasus Natalie dan Joshua statis mesti dibuktikan melalui proses hukum. Belum dapat dipastikan sepertiapa anggapan kesalahan penggunaan sperma terjadi dan siapa yang bertanggung jawab.

Namun, beragam riset memberitahu bahwa kesalahan identifikasi dalam IVF memang merupakan konsekuensi yang telah dikenali dalam praktik reproduksi berbantu. Walaupun jumlahnya sangat kecil, dampaknya dapat serius sehingga laboratorium IVF perlu menerapkan mekanisme identifikasi, pelabelan, pelacakan, serta verifikasi berlapis.

Bagi pasangan yang sedang mempertimbangkan program bayi tabung, kasus ini juga memberitahu pentingnya memilih akomodasi reproduksi yang memiliki prosedur keselamatan dan mekanisme pelacakan spesimen yang jelas.

Yang tak kalah penting, Bunda perlu memahami bahwa kisah pasangan Florida tersebut merupakan kasus yang statis dalam proses hukum, sehingga anggapan yang tercantum dalam tuntutan belum dapat dianggap sebagai kenyataan aturan yang telah terbukti.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads