Tata Triavenza Saputri | Beautynesia
Selasa, 15 Sep 2026 11:00 WIB
Bikin capek mental, ini 5 penyebab firendship burnout/Foto: Pexels.com/Liza Summer
Pernahkah Anda merasa social battery-mu langsung drop saat mau ketemu alias sekadar membalas chat dari sahabat sendiri? Kalau iya, bisa jadi Anda sedang mengalami friendship burnout yang bikin capek mental.
Idealnya, pertemanan adalah safe place untuk saling mendukung dan berbagi cerita. Namun saat hubungan di dalamnya malah terasa makin menekan, saatnya Anda mundur sejenak. Supaya Anda bisa menyadari apa yang sebenarnya terjadi dalam pertemananmu, yuk, simak 5 pemicu friendship burnout berikut ini!
1. Nggak Ada Personal Boundaries

Pentingnya batas diri agar nggak kewalahan menuruti orang lain/Foto: Pexels.com/Alex Green
Lupa batas tentang hal-hal pribadi alias terus-terusan memaksa ikut nongkrong saat Anda butuh me time bisa jadi penyebab utama. Tanpa boundaries yang tegas, seseorang bisa melintasi ruang privasimu dengan argumen sudah dekat.
Lama-kelamaan Anda bakal kewalahan sendiri lantaran merasa kudu selalu ada buat orang lain. Ingat, menetapkan batas itu bukan berfaedah Anda jahat alias egois, melainkan langkah krusial untuk saling menghargai.
2. Ketergantungan yang Berlebihan

Ketergantungan yang berlebihan membikin pertemanan terasa mengekang/Foto : Pexels.com/Alena Darmel
Pertemanan yang sehat itu tetap butuh ruang untuk berkembang secara mandiri. Kalau salah satu pihak sampai nggak bisa mengambil keputusan alias melakukan kegiatan tanpa didampingi kawan lainnya, hubungan ini bakal terasa sangat mengekang.
Rasa wajib buat selalu menempel 24/7 ini bakal memicu friendship burnout. Karena kebebasan perseorangan terampas oleh rasa ketergantungan, momen kebersamaan yang tadinya seru malah berubah jadi rutinitas yang melelahkan.
3. Hubungan yang Penuh Konflik Berulang

Konflik yang berkali-kali menyebabkan burnout/Foto : Pexels.com/Liza Summer
Punya kawan yang setiap minggu selalu punya drama baru dengan orang lain, alias apalagi sama Anda sendiri? Menghadapi drama tanpa henti plus menghadapi style komunikasi yang pasif-agresif itu butuh effort emosional yang nggak main-main.
Terseret dalam siklus bentrok berulang tanpa solusi hanya bikin Anda terus-terusan merasa cemas. Pada akhirnya, dinamika yang penuh drama ini perlahan-lahan bakal merenggut kedamaianmu.
4. Mengabaikan Red Flag Karena Durasi Pertemanan

Durasi pertemanan yang lama bukan agunan hubungan tetap sehat/Foto : Pexels.com/Moe Magners
Cuma gara-gara sudah berkawan bertahun-tahun, Anda memilih memendam rasa nggak nyaman dan mengabaikan sinyal toxic setiap kali selesai berinteraksi dengannya. Padahal, lama waktu pertemanan itu bukan agunan kualitas hubungan tetap sehat, lho!
Terus memperkuat di hubungan yang bikin capek hanya atas nama nostalgia justru malah merugikan kesehatan mental. Nggak ada salahnya untuk mengevaluasi ulang circle-mu sekarang, tanpa perlu merasa bersalah atas lama pertemanan yang sudah lewat.
5. Pandangan yang Mulai Berbeda

Memaksakan persepsi saat perspektif pandang mulai berbeda hanya bakal menguras energi/Foto : Pexels.com/Liza Summer
Seiring bertambahnya usia, prioritas hidup dan pemikiran kita tentu bakal berganti. Memaksa diri untuk tetap nyambung alias berpura-pura menikmati topik pembicaraan yang sebenarnya sudah nggak sejalan itu rasanya capek banget!
Menerima jika setiap orang bertumbuh ke arah yang berbeda adalah bagian dari proses pendewasaan. Nggak apa-apa kok, jika Anda memilih untuk memberi jarak jika tujuan kalian memang nggak lagi sama.
Menjaga kesehatan mental adalah prioritas utama, jadi jangan ragu untuk mengambil jarak dan menata kembali pertemananmu, Beauties!
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)
Komentar
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.