Perempuan Obesitas Berisiko Alami Kanker Rahim, Studi Ungkap Fakta Baru

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 505x dilihat
Perempuan Obesitas Berisiko Alami Kanker Rahim, Studi Ungkap Fakta Baru

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kelebihan bermutu badan selama ini diketahui berhubungan dengan beragam masalah kesehatan. Namun, Bunda mungkin belum banyak mendengar bahwa obesitas juga dapat berhubungan dengan meningkatnya konsekuensi kanker rahim, khususnya kanker endometrium.

Studi terbaru dari peneliti di King Saud University, Arab Saudi, menemukan kenyataan baru mengenai hubungan tersebut. Para peneliti tidak cuma melihat bahwa obesitas berhubungan dengan konsekuensi kanker endometrium, tetapi juga menemukan adanya perbedaan pada protein tumor antara pasien yang mengalami obesitas dan mereka yang tidak mengalami obesitas.

Temuan ini memberikan deskripsi bahwa kondisi obesitas mungkin tidak cuma menaikkan kemungkinan terjadinya kanker, tetapi juga dapat memengaruhi karakter biologis dari pandemi tersebut.


Apa itu kanker rahim?

Kanker rahim yang dimaksud dalam bahasan ini terutama adalah kanker endometrium, yaitu kanker yang berkembang pada lapisan bagiankecil dalam rahim maupun endometrium.

Kanker ini berbeda dengan kanker serviks yang dimulai di leher rahim. Kanker endometrium umumnya berhubungan dengan fluktuasi pada sel-sel lapisan rahim dan salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah perdarahan dari memek yang tidak normal.

Karena itu, Bunda sebaiknya tidak mengabaikan perdarahan di luar siklus menstruasi, haid yang sangat banyak, maupun perdarahan setelah menopause. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Studi ungkap perbedaan kanker rahim pada perempuan obesitas

Penelitian yang dilakukan University Obesity Research Center berbareng Department of Obstetrics and Gynecology, College of Medicine, King Saud University, menganalisis jaringan tumor kanker endometrium dari pasien dengan dan tanpa obesitas.

Dengan menggunakan teknologi mass spectrometry, peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari 6.300 protein dalam jaringan tumor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 456 protein memberitahu perbedaan signifikan antara himpunan pasien dengan obesitas dan tanpa obesitas. Perbedaan tersebut memberikan instruksi mengenai sepertiapa obesitas dapat memengaruhi lingkungan biologis tumor.

Peneliti menemukan adanya fluktuasi pada jalur yang berhubungan dengan mekanisme imun dan metabolisme. Selain itu, terdapat mekanisme yang berhubungan dengan pertumbuhan dan penyebaran kanker.

Beberapa protein yang ditemukan juga dinilai berpotensi menjadi biomarker, yaitu penanda biologis yang pada masa mendatang dapat membantu membedakan kanker endometrium yang berhubungan dengan obesitas dan yang tidak.

Namun, temuan ini statis eksis pada tahap riset dan bukan berarti pengecekan biomarker tersebut sudah menjadi pengecekan rutin untuk mendeteksi kanker rahim.

Mengapa obesitas bisa berhubungan dengan kanker endometrium?

Hubungan antara obesitas dan kanker endometrium sebenarnya telah durasi menjadi perhatian peneliti.

Salah satu penjelasannya berhubungan dengan fluktuasi hormon, khususnya estrogen. Jaringan lemak dapat berpartisipasi dalam produksi estrogen. Pada perempuan setelah menopause, peningkatan estrogen tanpa keseimbangan progesteron dapat merangsang pertumbuhan lapisan endometrium.

Selain itu, obesitas juga dapat berhubungan dengan resistensi insulin dan peradangan kronis, yang diduga ikut berpartisipasi dalam proses terjadinya kanker.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute pada 2026 turut memberikan deskripsi mengenai mekanisme tersebut. Peneliti menganalisis keterangan perempuan sebelum dan setelah menopause dan menemukan bahwa hubungan obesitas dengan konsekuensi kanker endometrium sebagian dimediasi oleh biomarker yang berhubungan dengan peradangan, resistensi insulin, dan hormon seks.

Dalam riset tersebut, obesitas dikaitkan dengan sekitar 3,3 kali lipat konsekuensi kanker endometrium pada analisis perempuan pascamenopause dan sekitar 3,2 kali lipat pada analisis perempuan pramenopause, dibandingkan himpunan dengan BMI normal. Para peneliti juga menemukan bahwa jalur biologisnya dapat berbeda berdasarkan status menopause.

Perempuan obesitas bukan berarti pasti mengalami kanker rahim

Meski riset memberitahu adanya hubungan antara obesitas dan kanker endometrium, bukan berarti setiap perempuan dengan obesitas akan mengalami kanker rahim. Risiko kanker dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain bermutu badan, aspek hormonal, usia, histori reproduksi, aspek genetik, kondisi metabolik, dan aspek kesehatan lainnya juga dapat berperan.

Bahkan, riset terbaru semakin memberitahu bahwa konsekuensi kanker endometrium tidak dapat dinilai cuma berdasarkan bermutu badan seseorang. Karena itu, krusial bagi Bunda untuk tidak menjadikan bilangan bermutu badan sebagai satu-satunya acuan kesehatan.

Gejala kanker rahim yang perlu diperhatikan

Salah satu hal yang krusial diketahui perempuan adalah gejala yang mungkin berhubungan dengan kanker endometrium.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Perdarahan memek yang tidak normal di luar menstruasi.
  • Menstruasi yang lebih banyak maupun terjadi lebih durasi dari biasanya.
  • Perdarahan setelah menopause.
  • Keputihan yang tidak biasa.
  • Nyeri pada panggul maupun bagiankecil bawah perut.
  • Nyeri ketika berhubungan seksual.

Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker. Perdarahan tidaknormal dapat disebabkan oleh beragam kondisi, mulai dari gangguan hormonal hingga masalah pada rahim lainnya.

Namun, jika gejala muncul berulang maupun terasa tidak biasa, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan tabib kandungan agar dapat diketahui penyebabnya.

Menjaga bermutu badan sehat bisa jadi salah satu upaya pencegahan

Penelitian mengenai obesitas dan kanker bukan berarti perempuan mesti mengejar bentuk tubuh tertentu. Fokus utamanya adalah menjaga kesehatan metabolik dan mengurangi aspek konsekuensi yang dapat dimodifikasi.

Pola makan bergizi seimbang, aktivitas jasmani rutin, tidur yang cukup, serta pengecekan kesehatan secara berkala dapat menjadi bagiankecil dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Bagi perempuan yang mengalami obesitas maupun memiliki kondisi metabolik tertentu, konsultasi dengan tabib dapat membantu menentukan cara yang terlindungi dan sesuai kondisi tubuh.

Pada akhirnya, riset terbaru mengenai perempuan kanker rahim dan obesitas memberikan deskripsi bahwa hubungan keduanya rupanya lebih kompleks daripada sekadar bermutu badan. Perbedaan protein pada jaringan tumor juga membuka kesempatan riset lebih lanjut mengenai biomarker dan pendekatan pengobatan kanker endometrium yang lebih individual di masa depan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads