Jakarta -
Fase menopause rupanya tidak saja dialami kaum hawa lantaran sedianya para laki-laki juga mengalaminya. Yuk, mengenal andropause masa menopause pada pria, mitos alias fakta?
Menopause laki-laki alias disebut andropause merupakan istilah yang kurang familiar di luar sana ya, Bunda. Meskipun tak banyak diketahui, andropause sebenarnya merupakan fase krusial dalam perjalanan kesuburan seorang pria.
Ya, andropause merupakan salah satu tahapan yang dialami kaum Adam dengan ditandai penurunan kadar hormon yang terjadi secara perlahan. Hal ini sangatlah normal dialami dan menjadi bagian alami dari penuaan.
Menopause pada pria, mitos alias fakta?
Istilah menopause laki-laki banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi penurunan kadar testosteron yang berangkaian dengan penuaan. Tetapi perubahan hormon yang berangkaian dengan penuaan berbeda antara wanita dan laki-laki. Pada perempuan, ovulasi berakhir, dan produksi hormon menurun dalam waktu yang relatif singkat. Inilah yang disebut dengan menopause.
Sementara pada laki-laki, produksi testosteron dan hormon lainnya menurun selama bertahun-tahun. Penurunan kadar testosteron secara berjenjang ini disebut hipogonadisme onset lambat dan terkadang disebut testosteron rendah mengenai usia. Dalam kondisi ini, tidak semua orang dengan testosteron rendah mengenai usia mempunyai gejala. Selain itu, pengaruh jangka panjangnya juga belum jelas seperti dikutip dari laman Mayo Clinic.
Mengenali kadar testosteron rendah pada pria
Secara umum, kadar testosteron laki-laki umumnya menurun sekira 1 persen per tahun setelah mereka berumur 40 tahun. Namun sebagian besar laki-laki yang lebih tua tetap mempunyai kadar testosteron dalam kisaran standar. Hanya sekitar 10 persen hingga 25 persen laki-laki yang mempunyai kadar yang dianggap rendah.
Terkait kadar testosteron rendah pada laki-laki yang lebih tua sering kali tidak disadari. Untuk mengeceknya lebih lanjut, diperlukan tes darah yang dapat memeriksa kadar testosteron secara pada orang tersebut. Tetapi, tes ini jarang dilakukan dan banyak laki-laki yang mempunyai kadar testosteron rendah tidak menunjukkan gejala.
Selain itu, tanda dan indikasi yang mengenai dengan testosteron rendah tidak spesifik. Faktor seperti usia seseorang, obat-obatan, alias kondisi lain juga dapat menyebabkan gejala. Misalnya, mempunyai indeks massa tubuh 30 alias lebih tinggi dapat menyebabkan indikasi seperti testosteron rendah.
Adapun indikasi yang dapat menunjukkan testosteron rendah meliputi beberapa perihal berikut:
1. Penurunan gairah dan kegiatan seksual
2. Disfungsi ereksi alias penurunan ereksi
3. Nyeri alias pembengkakan payudara
4. Infertilitas
5. Sensasi panas alias keringat berlebihan
Gejala lain yang mungkin terjadi termasuk berkurangnya energi, motivasi dan kepercayaan diri. Beberapa laki-laki dalam fase ini tampak merasa depresi dan kesulitan fokus. Kemungkinan lainnya juga terjadinya peningkatan rasa kantuk dan gangguan tidur. Gejalanya dapat meliputi anemia ringan yang tidak dapat dijelaskan, penurunan massa dan kekuatan otot, serta peningkatan lemak tubuh.
Para mahir menyarankan untuk melakukan tes testosteron rendah pada laki-laki lanjut usia jika mereka mempunyai gejala. Jika tes pertama menunjukkan testosteron rendah, para mahir menyarankan untuk mengulang tes untuk mengkonfirmasi hasilnya.
Pada rangkaian skrining berikutnya, tim medis juga bakal mencari kondisi yang dapat menyebabkan testosteron rendah seperti obstructive sleep apnea, obesitas, stres akibat penyakit serius, operasi, alias rawat inap di rumah sakit, obat-obatan seperti pereda nyeri opioid, dan lainnya.
Biasanya, laki-laki yang mempunyai testosteron rendah, kemungkinannya juga mereka bakal menjalani lebih banyak tes salah satunya tes kelenjar pituitari. Kelenjar pituitari adalah kelenjar seukuran kacang ginjal yang terletak di dasar otak. Kelenjar ini merupakan bagian dari sistem endokrin tubuh. Sistem ini mencakup semua kelenjar yang memproduksi dan mengendalikan hormon.
Para ahli kesehatan menggunakan pengetesan kelenjar pituitari untuk membantu mengetahui apakah kadar testosteron rendah disebabkan oleh penuaan pada pria. Dalam perihal ini, pengetesan juga dapat menyingkirkan kemungkinan kadar hormon lain yang rendah.
Pada 2020, The American College of Physicians merekomendasikan agar para ahli kesehatan mempertimbangkan untuk memulai pengobatan testosteron pada laki-laki dengan disfungsi seksual yang mau meningkatkan kegunaan seksual mereka, setelah menjelaskan akibat dan manfaatnya. Sebelumnya, pada 2018, Endocrine Society juga telah merekomendasikan terapi testosteron untuk laki-laki dengan testosteron rendah mengenai usia yang mempunyai indikasi mengenai testosteron rendah.
Beberapa mahir juga merekomendasikan untuk menawarkan pengobatan testosteron kepada laki-laki dengan testosteron rendah mengenai usia yang tidak mempunyai gejala. Bagi sebagian pria, terapi testosteron meringankan indikasi yang mengganggu akibat testosteron rendah. Bagi yang lainnya, manfaatnya memang belum jelas dan tetap ada juga kemungkinan risikonya.
Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan, terapi testosteron mungkin dapat meningkatkan akibat kanker prostat dan payudara. Tak hanya itu, terapi testosteron juga telah dikaitkan dengan pembekuan darah di pembuluh darah. Selain itu, terapi ini juga dapat meningkatkan akibat serangan jantung dan stroke, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)