Psikolog Ungkap 2 Hal yang Diduga Picu Krisis Kesehatan Mental Anak

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 520x dilihat
Psikolog Ungkap 2 Hal yang Diduga Picu Krisis Kesehatan Mental Anak

Bagikan Postingan

Krisis Kesehatan Mental Anak menjadi perhatian banyak orang tua dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya kasus kecemasan dan depresi pada anak hingga remaja kerap dikaitkan dengan penggunaan smartphone dan media sosial.

Namun, seorang psikolog evolusi memiliki pandangan berbeda mengenai aspek yang diduga berpartisipasi dalam meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak.

Peter Gray, guru besar riset ilmu jiwa dan ilmu saraf di Boston College, menilai ada dua aspek lain yang perlu mendapat perhatian lebih, yaitu berkurangnya kemandirian anak dan fluktuasi mekanisme pendidikan.


Menurutnya, kedua hal tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan kejiwaan anak. Lantas, apa saja aspek yang dimaksud? Yuk, Bunda, simak klarifikasi selengkapnya dalam artikel di bawah ini.

2 Hal yang berisiko picu krisis kesehatan mental anak

Melansir dari halaman Yahoo Life, psikolog perkembangan, Peter Gray melalui bukunya yang berjudul Restoring Childhood: How to Set Kids Free in the Age of Anxiety mengungkapkan pandangannya mengenai penyebab meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.

Gray tidak sepakat jika penggunaan smartphone dan media sosial dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya kecemasan pada himpunan usia tersebut. Ia terlebihlagi mengatakan belum ada bukti kuat yang memberitahu hubungan antara penggunaan smartphone dan kesehatan mental anak muda.

"Sebenarnya tidak ada bukti yang memberitahu adanya hubungan antara penggunaan smartphone dan kesehatan mental pada anak muda. Bahkan, tidak ada hubungan yang berarti," ungkap Gray.

Ia juga mengkritisi pandangan yang disampaikan psikolog sosial sekaligus guru besar di New York University, Jonathan Haidt, dalam bukunya The Anxious Generation. Menurut Gray, Haidt lebih banyak mengandalkan sejumlah kecil riset yang mendukung hipotesisnya.

"Jika melihat berapa banyak riset yang dirujuk Haidt dan benar-benar relevan dengan pertanyaan ini, jumlahnya cuma sebagian kecil dari keseluruhan penelitian. Ia tidak mengacu pada studi tinjauan maupun meta-analisis, melainkan cuma segelintir penelitian," jelas Gray.

Gray menilai pandangan tersebut belum menggambarkan keseluruhan hasil riset yang tersedia. Ia justru mengajukan dua aspek lain yang menurutnya lebih perlu diperhatikan.

1. Berkurangnya kemandirian anak akibat pola asuh yang terlalu protektif

Faktor pertama yang disoroti Gray adalah semakin terbatasnya kesempatan anak untuk belajar mandiri. Menurutnya, setiap anak secara alami memiliki desakan untuk berbuat beragam hal sendiri seiring bertambahnya usia.

Namun, pola pengasuhan modern cenderung membikin orang tua merasa mesti selalu melindungi dan mengamati anak, terlebihlagi ketika mereka sedang bermain maupun mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

Gray menerangkan bahwa fluktuasi tersebut sudah berkembang sejak sekitar tahun 1950-an. Orang tua semakin merasa perlu memastikan anak selalu eksis dalam pengawasan orang dewasa demi menghindari beragam kemungkinan bahaya.

Kondisi ini juga membikin orang tua cemas dianggap lalai jika memberikan terlalu banyak kebebasan kepada anak. Padahal, kesempatan untuk bermain, menjelajah, dan memungut keputusan sederhana secara berdikari merupakan bagiankecil krusial dari proses tumbuh kembang.

Gray sepakat dengan Jonathan Haidt dan Lenore Skenazy, seorang advokat pola asuh yang mendorong kemandirian anak, bahwa terbatasnya kesempatan bermain secara bebas dan berdikari dapat memberikan akibat terhadap evolusi anak.

Menurutnya, anak perlu memiliki ruang untuk mengeksplorasi lingkungan dan belajar menghadapi beragam situasi sesuai tahapan usianya, tanpa mesti terus-menerus eksis di bawah kendali orang dewasa.

2. Sistem pendidikan yang semakin membatasi anak

Faktor kedua yang dianggap Gray berkontribusi terhadap meningkatnya masalah kesehatan mental anak adalah mekanisme pendidikan yang semakin membatasi kebebasan dan kreativitas.

Ia secara khusus menyoroti implementasi Common Core State Standards, standar pendidikan yang diadopsi oleh beragam mekanisme sekolah di Amerika Serikat hingga sekitar 2011.

Menurut Gray, fluktuasi tersebut membikin aktivitas belajar lebih berorientasi pada pencapaian harga cobaan dan sasaran akademis. Akibatnya, ruang bagi pendidik untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan serta minat murid menjadi semakin terbatas.

Gray menilai sekolah sejak durasi menjadi salah satu sumber utama stres dan kecemasan bagi anak usia sekolah. Namun, kondisi tersebut semakin bermutu ketika proses belajar terlalu berfokus pada pencapaian harga dan hasil ujian.

Ketika pendidik cuma berfokus menaikkan harga cobaan karena cemas kehilangan pendanaan, proses pembelajaran berisiko kehilangan elemen daya cipta dan keterlibatan yang menyenangkan bagi murid.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Gray menyarankan agar pendidik diberikan balik keleluasaan dalam mengajar. Ia juga mendorong adanya waktu istirahat dan makan siang yang lebih panjang, pengurangan jam pelajaran, serta pemberian pekerjaan rumah yang lebih sedikit.

Pentingnya memperhatikan lingkungan tumbuh bunga anak

Pandangan Peter Gray mengingatkan bahwa kesehatan mental anak tidak bisa dilihat cuma dari satu faktor. Selain penggunaan teknologi, kesempatan untuk mengembangkan kemandirian dan lingkungan pendidikan yang mendukung juga perlu menjadi perhatian orang tua.

Memberikan ruang bagi anak untuk bermain, bereksplorasi, serta belajar sesuai minatnya dapat menjadi bagiankecil dari upaya mendukung tumbuh bunga mereka.

Orang tua dan pihak sekolah juga perlu menciptakan lingkungan yang membikin anak merasa aman, didengar, dan tidak terus-menerus terbebani tuntutan akademis.

Oleh karena itu, Bunda perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar berdikari sekaligus menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan.

Dengan begitu, anak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan emosionalnya.

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads