Rahasia Al-fatihah Dalam Tafsir Tarjuman Al-mustafid

Apr 17, 2026 09:05 PM - 10 jam yang lalu 524
Rahasia Al-Fatihah dalam Tafsir Tarjuman al-MustafidRahasia Al-Fatihah dalam Tafsir Tarjuman al-Mustafid

Kincai Media – Kitab Tafsir Tarjuman Mustafid adalah kitab yang ditulis oleh seorang ustadz terkemuka yang hidup sekitar abad 17 M yang berkecimpung di Nusantara, yang berjulukan ‘Abdurrauf ibn ‘Ali ibn Al-Fanshuri As-Singkili. Kitab ini digadang sebagai karya tafsir pertama yang berkata melayu dan ditulis dengan huruf Arab-Melayu. 

Tafsir yang ditulisnya itu komplit dengan penafsiran 30 Juz secara tartibi. Belum ditemukan informasi yang sah mengenai musabab alias latar belakang dari penulisan karya tafsir ini. Tetapi, jika menilik kondisi masyarakat kala itu, bisa dimaklumi kenapa tafsir ini perlu hadir.

Ketika itu tentu saja banget dibutuhkan rujukan yang dapat menjembatani khazanah keilmuan Islam klasik dengan masyarakat pada masanya. Kekaliberan ‘Abdurrauf As-Singkili dalam keilmuan kepercayaan tentunya sudah tidak perlu disangsikan lagi.

Namanya bisa dikatakan sangat kokoh, merepresentasikan baik itu kalangan fuqahâ’ maupun kalangan mutashawwifîn. Beberapa karyanya yang lain pula turut membuktikan itu, seperti Mir’at Ath-Thullab fî Tashil Ma’rifah Ahkam Asy-Syar’iyyah li Al-Malik Al-Wahhab, yang merupakan kitab fiqih ajaran Syâfi’î. 

Dalam bagian tasawuf dikenal karya beliau ialah ‘Umdat Al-Muhtajin ila Suluk Maslak Al-Mufridin, Kifayat Al-Muhtajin ila Masyrab Al-Muwahhidin Al-Qailin bi Waḥdah Al-Wujud, dan tetap banyak yang lainnya.

Dalam bagian tafsir adalah Tarjuman Al-Mustafid ini yang menjadi di antara magnum opus yang ditulisnya. Dengan kedalaman keilmuan yang beliau punya, menjadi menarik untuk mengulas perihal style maupun sistematika penafsiran beliau. Kali ini kita bakal mulai dari surah pembuka, ialah Surah Al-Fatihah.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwa secara metode penafsiran, Tarjuman Al-Mustafid yang ditulis ‘Abdurrauf As-Singkili ini terkategorisasi sebagai metode ijmali. Metode ini pula yang terlihat pada penafsiran Surah Al-Fatihah di tafsir ini. 

Ia memulai penafsirannya dengan menjelaskan pengelompokkan Surah Al-Fatihah yang merupakan Surah Makiyyah dan jumlah ayatnya yang berjumlah tujuh ayat. Kemudian beliau menuliskan keistimewaan Surah ini, dengan menukil pendapat Al-Baydhawi serta Manafi’ Al-Qur’an, sebagai berikut:

…مك ترسبت ددالم بيضاوى بهوا فاتحة ايت فناور بݢي تيف٢ فپاكيت دان ترسبت ددالم منافع القرآن بر ڠسیاف ممباچدی اداله بݢيڽ درفد فهلاڽ يڠ تیاد دافت مڠݢندائی دی کتاب دان ممبرى منفعة اكن بربايك٢ أورڠ دان فركاسيه، والله أعلم.

Artinya; …maka tersebut di dalam Baydhawi bahwa Fatihah itu penawar bagi tiap-tiap penyakit dan tersebut dalam Manafi’ Al-Qur’an, peralatan siapa membaca dia adalah baginya daripada pahalanya yang tiada dapat menggandai dia kitab dan memberi faedah bakal berbanyak-banyak orang dan perkasih, Wa Allahu A’lam.

Dengan merujuk pada dua sumber tersebut, secara tidak langsung Ia menjelaskan beberapa keistimewaan dari Surah ini.

Pertama, penawar bagi setiap penyakit. Kedua, pembacanya bakal memperoleh ganjaran yang tidak dapat ditandingi nilainya dengan kitab lainnya.

Ketiga, tidak hanya mendatangkan akibat baik bagi pembacanya, tetapi turut meluas bagi orang banyak di sekitarnya. Dan keempat, menjadi sarana menumbuhkan cinta dan kasih sayang orang lain. 

Sistematika ataupun style yang sama bakal ditemui pada penafsiran surah-surah selanjutnya. Ini menunjukkan gimana Tarjuman Al-Mustafid tidak ditujukan sebagai karya akademis yang rigid pun gersang, melainkan memosisikan dirinya sebagai rujukan yang memberikan pedoman dengan tujuan menjadikan Al-Qur’an terasa dekat dan relevan. 

Tujuan utamanya adalah pendidikan dan pengamalan, di mana Al-Qur’an diposisikan sebagai medium pengobatan dan terutamanya sebagai sumber keberkahan.

Orientasi demikian pula tersirat ketika memasuki penafsiran ayat pertama, berikut:

دڠن نام الله يڠ أمة موره ددالم دنیا این لاڬي يڠ أمة مڠاسهاني همباڽ يڠ مؤمن ددالم نڬري آخرة ايت جوا كو مڠامبل برکة فد ممباچ فاتحة اين.

Dengan nama Allah yang banget murah di dalam bumi ini lagi yang banget mengasihani hamba-Nya yang mukmin di dalam negeri alambaka itu jua ku mengambil berkah pada membaca Fatihah ini.

Di sini beliau membedakan Ar-Rahman dengan Ar-Rahim sebagai halnya pula pada penafsiran beliau terhadap ayat ketiga surah ini, berikut: 

لاݢي توهن يڠ أمة موره ددالم دنيا اين لاݢي يڠ أمة مڠسهاني همباڽ يڠ مؤمن ددالم نݢرى آخرة.

Lagi Tuhan yang banget murah di dalam bumi ini, lagi yang banget mengasihani hamba-Nya yang mukmin di dalam negeri akhirat.

Ar-Rahman diidentifikasi sebagai pengasih-Nya Allah kepada seluruh makhluk di dunia, sementara Ar-Rahim sebagai penyayang-Nya Allah bagi kaum mukmin di akhirat.

Pembedaan tersebut sebagai halnya ditemukan dalam tafsir-tafsir klasik. Tetapi yang menarik adalah penggalan pernyataan akhir beliau tersebut, yang memberi maksud tabarruk di sana. 

Dan pada ayat kedua Syekh Abdur Rauf menulis:

“segala puji tsabit bagi Allah Tuhan yang mempunyai segala makhluk.”

Ada yang menarik dari penggunaan kata tsabit di sini, bahwa pujian itu melekat secara absolut hanya pada Allah. Bukanlah sesuatu yang baru dengan ketergantungannya terhadap pemberian pujian oleh makhluk. Pujian itu telah ada dan selalu ada, permanen dan abadi, sejak azali.  

Kemudian pada ayat keempat dia menulis:

“Raja yang memerintahkan pada hari kiamat.”

Terdapat makna dengan penggunaan kata Raja untuk menerjemahkan kata Mâlik pada ayat keempat surah Al-Fatihah ini. Bahwa dia tidak hanya menerjemahkan kata tersebut sebagai Pemilik, dengan memilih menggunakan kata Raja, apalagi beliau menambahkan frasa “yang memerintahkan.” 

Ini menekankan bakal otoritas aktif Allah dan penegasian bakal kekuasaan yang lain. Bahwa segala corak otoritas maupun kekuasaan telah sirna pada hari itu. Dan yang menarik pula pada bagian penafsiran ayat keempat ini, beliau memperlihatkan kepiawaiannya pada bagian pengetahuan qira’at. Pembahasan itu beliau letakkan pada yang beliau tulis sebagai Faidah (فائدة). 

Berikut dia menulis:

…مڽتاكن اختلاف انتارا سڬل قاري يڠ تيڬ فد ممباچ ملك مك أبو عمر دان نافع اتفاق كدواڽ اتس مماچ ملك دڠن تياد ألف دان حفص دڠن الف مك اداله معناڽ تتكال دياچ دڠن الف توهن يڠ ممڤوڽائي شڬل فكرجأن هارى قيمة.

…menyatakan ikhtilaf antara segala Qari yang tiga pada membaca Malik. Maka Abu ‘Amr dan Nafi’ ittifaq keduanya atas membaca Malik dengan tiada alif, dan Hafsh dengan alif. Maka adalah makna-Nya tatkala dibaca dengan alif; Tuhan yang mempunyai segala pekerjaan hari kiamat.

Beliau menjelaskan perbedaan membaca para Qari dalam membaca ayat keempat ini, sekaligus beliau menerangkan implikasi makna dari perbedaan langkah membaca tersebut.

Kemudian, pada ayat selanjuntnya beliau menulis:

“kami tentukan bakal Dikau ibadah dan kami tuntut daripada-Mu tolong atas melakukan ibadat dan yang lainnya.” 

Di sini terkandung makna bahwa untuk dapat melaksanakan ibadah pun, seorang hamba perlu secara absolut pertolongan Allah. Dan pada penafsiran ayat selanjutnya, sampai akhir, terdapat identifikasi golongan yang dimurkai dan golongan yang sesat sebagai halnya penafsiran yang lazim dalam tafsir-tafsir klasik.

Demikian penafsiran ‘Abdrra’uf ibn ‘Ali al-Fanshuri al-Singkili terhadap Surah Al-Fatihah. Semoga uraian ini dapat merepresentasikan karakteristiknya sebagai seorang mufasir, sekaligus memperlihatkan sistematika dan style penafsiran dalam karyanya.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya