Semakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin kuat tawakalnya, semakin tenang hatinya dalam menghadapi takdir, dan semakin percaya bahwa segala sesuatu berada di bawah pengaturan Allah. Di antara nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan pengaturan-Nya terhadap makhluk adalah Al-Qaabidh Al-Baasith —Yang Maha Menyempitkan lagi Yang Maha Melapangkan— dua nama yang saling berangkaian dan menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah dalam memberi dan menahan.
Dalam tulisan ini, kita bakal mengulas tiga perihal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Qaabidh Al-Baasith merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta akibat krusial yang berangkaian dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.
Dalil nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”
Di antara dalil penetapan nama ini adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
غَلَا السِّعْرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، سَعِّرْ لَنَا
فَقَالَ: «إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّزَّاقُ…
“Harga-harga naik pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, tetapkanlah nilai untuk kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, Yang Menyempitkan (Al-Qaabidh), Yang Melapangkan (Al-Baasith), Yang Maha Memberi rezeki…’” (HR. Abu Dawud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Adapun disebutkan dalam corak fi‘il, maka Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Demikian pula dalam hadis,
إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ…
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang melakukan jelek di siang hari bertobat…” (HR. Muslim) [1]
Banyak dari para ustadz yang memasukkan Al-Qaabidh Al-Baasith ke dalam Al-Asmaul Husna, di antaranya Ibn Mandah, Al-Ashbahani, Ibn Hazm, Ibnul ‘Arabi, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. [2]
Kandungan makna nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith”
Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dulu makna kata “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.
Makna bahasa dari Al-Qaabidh Al-Baasith
Kata Al-Qaabidh merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata (قبض – يقبِض). Tentang makna kata (قَبَضَ), Ibnu Faris rahimahullah mengatakan,
الْقَافُ وَالْبَاءُ وَالضَّادُ أَصْلٌ وَاحِدٌ صَحِيحٌ يَدُلُّ عَلَى شَيْءٍ مَأْخُوذٍ، وَتَجَمُّعٍ فِي شَيْءٍ
“Akar kata qāf, bā’, dan ḍād merupakan satu asal makna yang sahih, yang menunjukkan sesuatu yang diambil serta terkumpul dalam suatu tempat.” [3]
Adapun Al-Baasith merupakan fa’il (pelaku) dari kata (بسط – يبسُط). Tentang makna kata (بَسَطَ), Ibnu Faris mengatakan,
الْبَاءُ وَالسِّينُ وَالطَّاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ امْتِدَادُ الشَّيْءِ، فِي عِرَضٍ أَوْ غَيْرِ عِرَضٍ
“Akar kata bā’, sīn, dan ṭā’ merupakan satu asal makna, ialah membentang alias meluasnya sesuatu, baik pada arah lebar maupun selainnya.” [4]
Penyebutan “Al-Qaabidh Al-Baasith” secara berpasangan
Kedua nama ini sangat dianjurkan untuk disebutkan secara berpasangan, lantaran kesempurnaan maknanya terletak pada penggabungan keduanya.
Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan, “Dalam dua nama seperti ini, adalah baik jika salah satunya disebutkan berbarengan dengan yang lain dan dihubungkan dengannya, lantaran perihal itu lebih menunjukkan kekuasaan dan lebih menampakkan hikmah. Seperti firman Allah Ta’ala (yang artinya), ‘Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.’ (QS. Al-Baqarah: 245)
Apabila engkau menyebut Al-Qaabidh (Yang Menyempitkan) secara terpisah dari Al-Baasith (Yang Melapangkan), seakan-akan engkau membatasi sifat tersebut hanya pada makna menahan dan menghalangi. Namun jika engkau menggabungkan keduanya, maka engkau telah menghimpun dua sifat yang menunjukkan sisi hikmah di dalamnya.” [5]
Makna “Al-Qaabidh Al-Baasith” dalam konteks Allah
Tentang makna kedua nama ini, Al-Khaththabi rahimahullah melanjutkan, “Al-Qaabidh dan Al-Baasith adalah Dzat yang melapangkan rezeki dan juga menyempitkannya. Dia melapangkannya dengan kedermawanan dan rahmat-Nya, serta menyempitkannya dengan hikmah-Nya, dengan mempertimbangkan keadaan hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), ‘Seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka bakal melampaui pemisah di muka bumi, tetapi Dia menurunkannya sesuai kadar yang Dia kehendaki.’ (QS. Asy-Syura: 27).
Apabila Allah menambah (rezeki seseorang), maka itu bukan berfaedah Dia menjadikannya berlebih-lebihan dan melampaui batas. Dan andaikan Dia menguranginya, maka bukan berfaedah lantaran ketiadaan alias kebakhilan. Ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qaabidh adalah Dzat yang mencabut ruh-ruh dengan kematian yang telah Dia tetapkan atas para hamba.” [6]
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,
القابض الباسط يقبض الأرزاق والأرواح، ويبسط الأرزاق والقلوب، وذلك تبع لحكمته ورحمته
“Al-Qaabidh Al-Baasith adalah Dzat yang menyempitkan rezeki dan mencabut ruh, serta melapangkan rezeki dan hati, semuanya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.” [7]
Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Telah disebutkan makna melapangkan (al-basth) dan menyempitkan (al-qabdh) yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak nash dari Al-Qur’an dan sunah.” Setelah itu, beliau menyebut contoh ayat-ayat. Kemudian beliau mengatakan,
فدلت هذه النصوص ونظائرها أن القبض والبسط كله بيد الله تبارك وتعالى، وبتصريفه وتدبيره سبحانه يبسط لمن يشاء في ماله أو عافيته أو عمره أو علمه أو حياته، ويقبض وهو الحكيم الخبير
“Nash-nash ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh corak penyempitan dan pelapangan berada di tangan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Dengan pengaturan dan tadbir-Nya, Dia melapangkan bagi siapa yang Dia kehendaki pada hartanya, kesehatannya, umurnya, ilmunya, alias kehidupannya, dan Dia menyempitkannya, sedangkan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [8]
Konsekuensi dari nama Allah “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi hamba
Penetapan nama “Al-Qaabidh Al-Baasith” bagi Allah Ta’ala mempunyai banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:
Beriman bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk bagian dari Al-Asmaul Husna
Seorang hamba meyakini bahwa Al-Qaabidh dan Al-Baasith termasuk nama-nama Allah yang paling baik, berasas dalil-dalil yang telah disebutkan, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ustadz dalam menetapkannya sebagai bagian dari Al-Asmaul Husna. [9]
Menguatkan ketergantungan kepada Allah serta bersungguh-sungguh dalam bermohon dan menempuh karena yang benar
Di antara buah ketaatan terhadap dua nama ini adalah seorang hamba menggantungkan hatinya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, dengan senantiasa memohon agar Allah melapangkan baginya kebaikan, rahmat, dan karunia-Nya, serta melindunginya dari beragam keburukan. Ia tidak hanya berakhir pada doa, tetapi juga menempuh sebab-sebab yang disyariatkan yang menjadi jalan datangnya kelapangan dan terhindarnya dari kesempitan, seperti menjaga ketaatan dan menyambung silaturahim. Dengan demikian, terkumpul pada dirinya antara ketergantungan hati kepada Allah dan upaya yang betul dalam meraih kebaikan. [10]
Bersyukur ketika dilapangkan dan kembali kepada Allah ketika disempitkan
Dalam konteks ini, terdapat peringatan krusial bagi seorang hamba. Ketika Allah melapangkan baginya dalam harta, ilmu, alias kedudukan, maka hendaknya dia menginfakkan dari apa yang Allah berikan kepadanya, serta melakukan baik kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah telah melakukan baik kepadanya. Sebaliknya, jika Allah menyempitkan baginya, maka hendaknya dia kembali kepada Allah semata, memohon pertolongan, karunia, dan keluasan dari-Nya, dengan kepercayaan penuh bahwa tidak ada yang bisa melapangkan apa yang Allah sempitkan, dan tidak ada yang bisa menyempitkan apa yang Allah lapangkan.
Sebagaimana disebutkan dalam angan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللهم لا قابض لما بسطت، ولا باسط لما قبضت، ولا هادي لما أضللت، ولا مضل لمن هديت، ولا معطي لما منعت، ولا مانع لما أعطيت…
“Ya Allah, tidak ada yang dapat menyempitkan apa yang Engkau lapangkan, dan tidak ada yang dapat melapangkan apa yang Engkau sempitkan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk terhadap siapa yang Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan siapa yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan, dan tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau beri…” (HR. Ahmad no. 15492 dan Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 538, dan disahihkan oleh Al-Albani)
Doa ini menunjukkan bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Oleh lantaran itu, seorang hamba hendaknya berterima kasih ketika diberi kelapangan, dan tidak berputus asa ketika diuji dengan kesempitan, lantaran keduanya adalah bagian dari hikmah dan pengaturan Allah yang sempurna. [11]
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rida terhadap setiap ketetapan-Nya, bersabar ketika disempitkan, dan berterima kasih ketika dilapangkan. Aamiin.
***
Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447
Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab
Artikel Kincai Media
Referensi Utama
- Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.
- Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.
- An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.
- Al-Musai’id, Mubarak Abdullah. At-Ta‘liq al-Asna ‘ala Manzhumat Asma’ Allah al-Husna li Ibni ‘Utsaimin wa Mukhtashariha. Cetakan Pertama. Dammam: Dar Ibn al-Jauzi, 1444 H.
Catatan kaki:
[1] Lihat An-Nahjul Asma, hal. 628-629.
[2] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.
[3] Maqāyīs al-Lughah, hal. 759.
[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 92.
[5] Sya’n ad-Du‘ā’ (1: 57). Lihat juga Tawḍīḥ al-Kāfiyah asy-Syāfiyah fī al-Intiṣār li al-Firqah an-Nājiyah karya Ibnu Si’diy, hal. 204-205.
[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 57.
[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 948.
[8] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 332.
[9] Lihat Asma’ullah al-Husna karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 333.
[10] At-Ta‘līq al-Asnā, hal. 226.
[11] Fiqhul Asmaail Husna, hal. 331–332.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·