Al-mu‘awwidzatain, Dua Surah Penangkal Sihir

Apr 16, 2026 09:30 AM - 18 jam yang lalu 946

Ilustrasi Alquran.

Kincai Media , JAKARTA -- Secara kebahasaan, sihir berakar kata dari bahasa Arab, as-sihr, yang berfaedah ‘tipu daya’ alias ‘pesona.’ Biasanya, ada niat jahat pelakunya terhadap sasaran-sasaran tertentu. Beberapa praktik sihir mampu mengubah emosi seseorang terhadap pasangannya, misalnya, dari sayang menjadi benci.

Sebaliknya, pemesan dapat meminta tukang sihir agar orang tertentu jatuh cinta kepadanya. Dalam eksesnya, sihir juga dapat menyebabkan korbannya berpisah dengan pasangan, mengalami sakit fisik, alias apalagi mati.

Nabi Muhammad SAW menyejajarkan sihir dengan dosa paling besar ialah syirik. Beliau bersabda, “Barang siapa membuhul tali dan meniupnya berfaedah dia telah melakukan sihir. Barang siapa yang melakukan sihir berfaedah dia telah syirik.”

Nabi Muhammad SAW pernah menjadi sasaran sihir dari seorang Yahudi berjulukan Labid bin A’sam. Motif si pelaku adalah menyimpan dendam dan hasud kepada Rasulullah SAW.

Untuk menangkal sihir, Nabi SAW membaca surah al-Falaq dan an-Nas. Bahkan, karena turunnya (asbabun nuzul) kedua surah itu berangkaian dengan peristiwa ketika beliau menjadi sasaran sihir Labid bin A'sam.

Dari 'Aisyah, sang ummul mukminin itu berkata: “Rasulullah biasa membaca al-Mu’awwidzatain, kemudian meniupkan ke kedua telapak tangan beliau, lampau mengusapkannya ke tubuh yang bisa dijangkau, mulai dari kepala, wajah, dan badan” (HR Bukhari no 6319).

Surah al-Falaq dan an-Nas adalah dua surah terakhir dalam Alquran. Keduanya pun kerap disebut sebagai al-Mu‘awwidzatain. Sebab, masing-masing berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari segala corak kejahatan.

Selengkapnya