Mengenal Nama Allah “al-jaliil”

Apr 16, 2026 11:00 AM - 16 jam yang lalu 856

Semakin dalam seorang hamba mengenal Rabb-nya, maka semakin tumbuh rasa pengagungan di dalam hatinya, semakin tunduk dia kepada-Nya, dan semakin mini bumi di hadapannya. Di antara nama Allah yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan-Nya adalah Al-Jaliil —Yang Maha Agung lagi Maha Mulia— yang mengandung makna kebesaran, keagungan, dan kemuliaan yang sempurna.

Dalam tulisan ini, kita bakal mengulas tiga perihal utama: dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Al-Jaliil merupakan nama Allah, penjelasan kandungan maknanya menurut para ulama, serta akibat krusial yang berangkaian dengan setiap hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Dalil nama Allah “Al-Jaliil”

Nama Al-Jaliil tidak disebutkan secara definitif dalam Al-Qur’an dalam corak nama, namun asal katanya (الجلال) disebutkan dalam beberapa ayat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)

Dan firman-Nya,

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Maha Suci nama Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 78)

Demikian pula dalam sunah yang sahih, nama ini tidak disebutkan secara tegas. [1]

Hanya saja, ada beberapa riwayat dalam sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Di antaranya adalah dalam Sunan At-Tirmidzi,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ المَلِكُ … الحَسِيبُ الجَلِيلُ الكَرِيمُ …

“Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menghafal, memahami, dan mengamalkannya), maka dia bakal masuk surga. Dialah Allah, tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Raja … Yang Maha Menghisab, Yang Maha Agung (Al-Jaliil), lagi Maha Mulia (Al-Kariim) …” (HR. At-Tirmidzi, 5: 530, dinilai lemah oleh Al-Albani rahimahullah) [2]

Terdapat perbedaan di kalangan para ulama, tentang apakah Al-Jaliil termasuk Al-Asmaaul Husnaa alias tidak. Di antara ustadz yang memasukkan Al-Jaliil ke dalam Al-Asmaul Husna adalah Al-Baihaqi, Ibnul ‘Arabi, Al-Khaththabi, Ibnus Sa‘di, dan Al-Lajnah Ad-Da’imah rahimahumullah. [3]

Kandungan makna nama Allah “Al-Jaliil”

Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dulu makna kata “Al-Jaliil” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari “Al-Jaliil”

Kata Al-Jaliil berasal dari akar kata (ج ل ل) yang menunjukkan makna besar dan agung.

Ibnu Fāris berkata,

(جَلَّ) الْجِيمُ وَاللَّامُ أُصُولٌ ثَلَاثَةٌ: جَلَّ الشَّيْءُ: عَظُمَ، وَجُلُّ الشَّيْءِ مُعْظَمُهُ، وَجَلَالُ اللَّهِ: عَظَمَتُهُ

“Akar kata jīm–lām–lām mempunyai tiga makna dasar:

  1. sesuatu itu menjadi besar (agung). ‘Jull asy-syai’ berfaedah sebagian besar dari sesuatu. Dan ‘jalālullāh’ berfaedah keagungan Allah.
  2. sesuatu yang meliputi alias menutupi sesuatu yang lain. Seperti ‘jull al-faras’ (penutup tubuh kuda), dan seperti hujan yang menyelimuti bumi dengan air dan tumbuhan.
  3. berkaitan dengan suara; dikatakan ‘sahābun mujaljil’ (awan yang bergemuruh) andaikan dia mengeluarkan suara.” [4]

Dalam al-Miṣbāḥ al-Munīr, Al-Fayyumiy mengatakan,

(جَلَّ الشَّيْءُ) يَجِلُّ: عَظُمَ

“Sesuatu dikatakan jalla andaikan dia menjadi besar (agung).” [5]

Makna “Al-Jaliil” dalam konteks Allah

Ketika disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka Al-Jaliil menunjukkan bahwa Dia adalah Dzat yang mempunyai keagungan dan kebesaran yang sempurna.

ِAl-Khaththabi rahimahullah mengatakan,

الجَلِيل: هُوَ مِنَ الجَلَالِ، والعَظَمَةِ، وَمَعْنَاهُ مُنْصَرِفٌ إِلَى جَلَالِ القُدْرَةِ وَعِظَمِ الشَّأْنِ، فَهُوَ الجَلِيلُ الَّذِي يَصْغُرُ لَدَيْهِ كُلُّ جَلِيلٍ، وَيَتَضَاءَلُ مَعَهُ كُلُّ عَظِيمٍ

“Al-Jaliil adalah Dzat yang mempunyai keagungan dan kebesaran. Maknanya kembali kepada keagungan kekuasaan dan besarnya kedudukan-Nya. Dialah Yang di hadapan-Nya segala yang besar menjadi kecil, dan segala yang agung menjadi hina.” [6]

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata,

المجيد، الكبير، العظيم، الجليل وهو الموصوف بصفات المجد، والكبرياء، والعظمة، والجلال، الذي هو أكبر من كل شيء، وأعظم من كل شيء، وأجل وأعلى

“Al-Majiid, Al-Kabiir, Al-‘Azhiim, Al-Jaliil adalah nama-nama yang menunjukkan sifat kemuliaan, kebesaran, dan keagungan. Dia lebih besar dari segala sesuatu, lebih agung dari segala sesuatu, dan lebih tinggi dari segala sesuatu.” [7]

Konsekuensi dari nama Allah “Al-Jaliil” bagi hamba

Penetapan nama “Al-Jaliil” bagi Allah Ta’ala mempunyai banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:

Beriman dan menetapkan nama ini bagi Allah

Telah berlalu pembahasan tentang dalil dari Al-Quran dan hadis, atas penetapan nama Allah Al-Jaliil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husnaa, dimana terdapat silang pendapat tentang perihal ini. Bagi yang menganggap kuatnya dalil-dalil tersebut, maka konsekuensinya adalah menetapkan nama Al-Jaliil bagi Allah Ta’ala. [8]

Menetapkan sifat keagungan bagi Allah

Seorang hamba hendaknya meyakini bahwa Allah mempunyai sifat jalāl (keagungan) dan berkuasa disifati dengan sifat tersebut, sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya,

ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

أَيْ: هُوَ أَهْلٌ أَنْ يُجَلَّ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُطَاعَ فَلَا يُخَالَفُ

“Artinya: Dia adalah Dzat yang layak untuk diagungkan, sehingga tidak boleh didurhakai, dan layak ditaati sehingga tidak boleh diselisihi.” [9]

Beradab dalam penggunaan nama ini

Nama Al-Jaliil termasuk nama yang menunjukkan kesempurnaan sifat. Oleh lantaran itu:

  • tidak digunakan untuk selain Allah dalam corak ma‘rifah (dengan “Al”);
  • adapun tanpa “Al” (seperti “Jalil”), maka diperbolehkan jika hanya sebagai nama tanpa maksud penyifatan sempurna.

Selain itu, diperbolehkan penggunaan nama Abdul Jalil, baik bagi yang menganggap Al-Jalil sebagai bagian dari Al-Asmaaul Husna, maupun yang tidak. [10]

Selain itu, di antara akibat mengenal nama Al-Jaliil adalah: intens dalam ibadah, tunduk dalam ketaatan, merasa mini di hadapan Allah; sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir di atas. Wallaahu a’lam.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan, tunduk kepada-Nya, dan hidup dalam naungan keagungan-Nya. Aamiin.

***

Rumdin PPIA Sragen, 11 Syawal 1447

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel Kincai Media

Referensi utama

  • Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.
  • Al-Fayyumi, Ahmad bin Muhammad. al-Mishbāḥ al-Munīr fi Gharib as-Syarhil Kabir. Cetakan Pertama. Damaskus: Darul Faihaa, 2016.
  • Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.

Catatan kaki:

[1] Lihat: Nabulsi.com

[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, hal. 73-77 dan Ifrad Ahadits Asma’ Allah wa Shifatih fi al-Kutub as-Sittah, hal. 44-57.

[3] Asma’ullah al-Husna, karya Abdullah bin Shalih al-Ghushn, hal. 335.

[4] Maqāyīs al-Lughah, hal. 152.

[5] al-Mishbāḥ al-Munīr, hal. 111.

[6] Sya’n ad-Du‘ā’ karya Al-Khaththabi, 1: 70.

[7] Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, hal. 946.

[8] Lihat Asma’ Allah al-Husna, hal. 335.

[9] Tafsir Ibnu Katsir, 7: 494.

[10] Lihat: Islamqa.info

Selengkapnya