Sebab-sebab Lapang Dada (bag. 5)

Apr 16, 2026 11:00 AM - 16 jam yang lalu 803

Sebab ketujuh: Keberanian

Keberanian mempunyai akibat luar biasa bagi tenangnya jiwa dan tenteramnya hati. Berbeda dengan sikap pengecut, yang menyeret pemiliknya pada gangguan (kesulitan) dalam kehidupan, sebagaimana hatinya diliputi rasa lemah, takut gagal, dan khayalan-khayalan yang masuk pada diri seseorang, padahal sebenarnya tidak terlihat bentuk aslinya.

Keberanian juga merupakan salah satu akibat dari kuatnya ketaatan serta baiknya hubungan (antara dia) dengan Allah. Karena setiap kali ketaatan dan hubungan seorang hamba kepada Allah bertambah, maka keberaniannya pun bakal bertambah dan hatinya bakal lebih kuat, serta dia bakal diberi pahala atas rasa senang dan kelapangan pada dadanya.

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh lantaran itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika Anda orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imran: 175)

Donasi Kincai Media

Dalam sabda sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dikatakan bahwasanya sungguh banyak orang yang berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari jubn (sifat lemah) dan bukhl (kikir). Karena jika keduanya berasosiasi di dalam hati, maka bakal berakibat pada hatinya, ialah dia bakal sangat merasa sempit, kurang, dan susah. (HR. Bukhari no. 2893 dan Muslim no. 2706)

Sebab kedelapan: Peringatan tentang penyakit-penyakit hati dan gangguan-gangguannya

Penyakit-penyakit hati, gangguan-gangguannya, dan kerusakan-kerusakan (pada hati) ada banyak; hati bisa merasa sakit seperti badan, apalagi penyakit-penyakit hati mempunyai akibat lebih besar bagi yang merasakannya; seperti hasad, ghil (dendam, dengki), hiqd (dendam, dengki, permusuhan), dan penyakit hati yang lain. Tabiat yang jelek dan penyakit yang memalukan ini, jika dia masuk ke dalam hati, maka bakal membikin hati menjadi rusak. Dan andaikan dia sampai di dada, penyakit itu bakal menggelapkan dada, mempersempit dada, membikin murung (depresi), serta bakal berakibat jelek baginya dan hartanya. [1]

Adapun yang hatinya bisa selamat dari penyakit-penyakit ini, serta dia bisa mengisi hatinya dengan lawan-lawan penyakit hati, seperti amanah, ikhlas, jujur, dan itsar (mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri), maka bakal membalikkan keadaan orang tersebut, ialah dia merasa dadanya lapang, hatinya tenang, dan jiwanya tenteram.

Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya ‘Amradhul Qulub wa Syifauha’, “Dan Al-Qur’an adalah obat bagi apa saja penyakit yang ada di dalam dada. Dan barang siapa yang di dalam hatinya ada penyakit-penyakit hati, (yaitu) syubhat dan syahwat, maka di dalamnya terdapat bukti-bukti yang jelas, yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Ia (seharusnya) menghilangkan penyakit-penyakit syubhat yang merusak pengetahuan dan pemahaman, sehingga orang tersebut memandang sesuatu sebagaimana adanya.”

Dan di dalam kitab tersebut ada hikmah serta pelajaran yang baik tentang rayuan untuk membikin hati menjadi bersih. Kisah-kisah yang di dalamnya pun terdapat teladan mengenai wajibnya memperbaiki hati. Hati bakal merasa senang dengan sesuatu yang berfaedah baginya, dan membenci apa yang membahayakannya. Sehingga hati bisa tetap cinta terhadap petunjuk (kebenaran), membenci kesesatan, setelah awalnya dia menginginkan kesesatan dan tidak menghendaki sebuah petunjuk.

Al-Qur’an bisa menghilangkan beragam penyakit berupa kemauan yang berkarakter merusak, hingga hati menjadi lebih baik; ialah keinginannya menjadi baik, serta kembali pada fitrahnya yang sudah ditetapkan (oleh Allah), sebagaimana badan kembali pada kondisi yang biasanya (kembali pada fitrah). Hati bakal “makan” dari ketaatan dan Al-Qur’an. Sebagaimana Al-Qur’an bakal menyucikannya. Begitupula seperti badan yang mengkonsumsi sesuatu yang membuatnya bisa bertumbuh dan bertambah kuat. Maka sebenarnya, kesucian hati itu seperti pertumbuhan badan.

Zakaatun (kesucian) menurut bahasa artinya an–namau wa az–ziadah fi ash–shalaah (pertumbuhan dan pertambahan kebaikan). Dikatakan bahwasanya: zakaa asy–syai, idza naama fi ash–shalaah (sesuatu yang suci: maksudnya andaikan dia bertumbuh kebaikannya). Oleh karenanya, hati butuh dirawat; agar bisa tumbuh dan berkembang, sampai dia bisa sempurna dan menjadi baik. Sebagaimana badan butuh dirawat dengan makanan-makanan yang baik untuknya.

Selain dirawat, haruslah dibersamai dengan pencegahan dari hal-hal yang membayakannya; lantaran badan tidak bertumbuh selain dengan diberikan sesuatu yang berfaedah untuknya dan menghindari yang rawan baginya. Seperti itulah perihal hati. Ia tidak bakal bertumbuh dan berkembang hingga bisa sempurna alias komplit kebaikannya, selain jika dia mendapati segala sesuatu yang berfaedah bagi hati tersebut dan menolak hal-hal yang membahayakan bagi hati.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 4

***

Penerjemah: Evi Noor Azizah

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

[1] Ibnu Faris mengatakan di dalam kitabnya, Maqayisil Lughah, bahwa perbedaan antara ghil dengan hiqd adalah, ghil lebih dalam rasa benci, dengki, alias dendamnya.

[2] Diterjemahkan dari kitab ‘Asyratu Asbabi Linsyirahi ash-Shadri, karya Syekh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr, hal. 30-34.

Selengkapnya