Didikan Hizbul Wathan Di Balik Keteguhan Jenderal Sudirman

Apr 16, 2026 07:50 AM - 20 jam yang lalu 931

Kincai Media , JAKARTA -- Dalam riwayat hidup resmi yang dirilis Pusat Sejarah TNI, ada pelbagai cerita mengenai besarnya pengaruh Hizbul Wathan (HW) dalam membentuk pribadi Jenderal Besar Sudirman. Tokoh militer Indonesia itu pada masa remajanya berasosiasi dengan kepanduan dalam lingkup Muhammadiyah tersebut.

“Melalui kegiatan Hizbul Wathan, talenta bakat kepemimpinan Sudirman terlihat. Ia menjadi pandu yang disiplin, dan bertanggung jawab, cinta terhadap alam,” demikian petikan narasi dalam kitab tersebut.

Secara umum, ada tiga kegiatan yang diikuti Sudirman muda sebagai seorang pandu HW, ialah pendidikan rohani, training jasmani, dan karya bakti.

Untuk yang terakhir itu, laki-laki kelahiran Purbalingga (Jawa Tengah) itu diharuskan aktif dalam Majelis Penolong Kesengsaraan Oemat (kini PKU) Muhammadiyah. Bersama rekan-rekannya, dia ikut mengumpulkan zakat, mempersiapkan penyelenggaraan shalat id, menyembelih hewan kurban dan membagikan daging kepada warga, serta pelbagai kegiatan positif lain-lainnya.

Ada pula satu kisah perkemahan pandu HW di Lereng Batur, daerah Dieng Wonosobo. Dlaam kegiatan itu, tampak karakter Sudirman remaja saat menghadapi situasi dan kondisi yang ekstrem.

Menjelang malam, turun hujan deras. Udara menjadi sangat dingin. Rekan-rekan Sudirman yang tak kuat dingin meminta izin untuk pindah tenda alias turun ke rumah penduduk.

Sementara, Sudirman tetap dalam tendanya. Seorang kawannya yang bekerja jaga malam sempat mendengar lantunan referensi ayat Kursi--Alquran surah al-Baqarah ayat ke-255--dari dalam tenda Sudirman. Setelah itu, dia terlihat mengenakan baju hangat dan menunaikan shalat malam.

Ikut berdakwah

Hizbul Wathan menjadi jalan awal bagi Sudirman muda untuk terjun ke lapangan dakwah sebagai seorang kader Muhammadiyah. Keaktifannya pun tercatat dalam Pemuda Muhammadiyah. Pada 1937, dia menjadi wakil Pemuda Muhammadiyah daerah Banyumas.

Di Pemuda Muhammadiyah pula, kecakapan Sudirman dalam berceramah kian terasah. Seorang kawan aktivis di organisasi, Hardjomartono, memberikan kesaksian, sebagaimana direkam Sardiman dalam bukunya. Menurut dia, Pak Dirman biasa berceramah di pelbagai daerah sekitar Banyumas, termasuk Rawalo.

Di sana, pernah Hardjomartono dan kawan-kawan berbincang dengan Sudirman. “Wahai para pemuda Muhammadiyah! Ada dua pilihan krusial dalam kehidupan yang kita jalani saat ini. Pertama, iskhariman, ialah hidup yang mulia. Yang kedua, musyahidan, ialah meninggal syahid. Kalian memilih yang mana?” kata Hardjomartono menirukan perkataan Sudirman waktu itu.

“Kalau memilih iskhariman, gimana syaratnya?” kata seorang kawan.

“Kamu kudu selalu beragama dan berjuang untuk kepercayaan Islam,” jawab Sudirman.

“Bagaimana jika musyahidan?” timpal Hardjomartono.

“Kamu kudu berjuang melawan setiap corak kebatilan dan berjuang untuk memajukan Islam.”

“Jadi, semua kudu berjuang?" sambung yang lain.

Selengkapnya