Review A Little Life Karya Hanya Yanagihara

Gramedia Official Blog oleh Waktu baca 12 menit 33x dilihat
Review A Little Life Karya Hanya Yanagihara

Bagikan Postingan

A Little Life – Seberapa jauh persahabatan dapat bertetap ketika seseorang yang kita sayangi terus bergelut dengan luka masa lalu?

Terkadang, kasih sayang dan kedatangan orang-orang terdekat tidak serta-merta bisa menghapus penderitaan yang telah durasi mengakar.

Ada luka yang sulit diceritakan, ada kenangan yang terus menghantui, dan ada perjuangan batin yang terlebihlagi tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh orang-orang yang paling peduli kepada kita. Pergulatan emosional inilah yang menjadi inti novel A Little Life karya Hanya Yanagihara.

Mengusung kisah persahabatan, ambisi, dan trauma, novel ini mengikuti perjalanan hidup empat sahabat yang merantau ke New York setelah menyelesaikan pendidikan mereka di sebuah perguruan tinggi kecil di Massachusetts.

Mereka adalah Willem, seorang calon pemeran yang baik hati; JB, pelukis berbakat dengan kepribadian tajam; Malcolm, arsitek yang statis mencari kepuasan dalam kariernya; serta Jude, sosok cerdas dan misterius yang menyimpan masa kemudian kelam.

Seiring berjalannya waktu, hubungan keempat sahabat tersebut mengalami beragam perubahan. Kesuksesan, kebanggaan, dan pergulatan pribadi menguji kedekatan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. Di antara mereka, Jude menjadi sosok yang paling sulit dipahami. Meski tumbuh menjadi pengacara dengan kapasitas luar biasa, ia terus dihantui pengalaman traumatis dari masa kecilnya yang meninggalkan luka mendalam, baik secara jasmani maupun emosional.

Diterbitkan oleh Pan Macmillan pada 2 Oktober 2024 dengan ketebalan 816 halaman, A Little Life menghadirkan kisah tentang persahabatan, penderitaan, dan rumitnya perjalanan seseorang dalam menghadapi masa lalu.

Novel ini membujuk kita menyelami hayat para tokohnya sekaligus merenungkan arti kehadiran, kasih sayang, dan batas kapasitas seseorang untuk menolong orang yang dicintai.

Lantas, sepertiapa perjalanan persahabatan mereka ketika luka yang selama ini tersembunyi mulai memengaruhi hayat bersama? Yuk, Grameds, kita simak ulasan buku A Little Life berbareng Gramin!

Profil Hanya Yanagihara – Penulis Novel A Little Life

Hanya Yanagihara adalah novelis dan penulis perjalanan asal Amerika Serikat yang lahir pada 20 September 1974 di Los Angeles, California.

Ia tumbuh di Hawaii dan menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan sang ayah. Ayahnya, Richard Yanagihara, merupakan seorang tabib ahli hematologi dan onkologi, sedangkan ibunya berasal dari Seoul, Korea Selatan.

Pengalaman hidup di beragam tempat turut menjadi bagiankecil dari latar belakang kehidupannya sebelum menekuni bumi kepenulisan.

Yanagihara menempuh pendidikan di Punahou School, Hawaii, kemudian melanjutkan studi di Smith College dan lulus pada 1995. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia pindah ke New York dan bekerja sebagai jurnalis selama beberapa tahun.

Pada 2007, ia mulai berkontribusi untuk majalah Condé Nast Traveler dan kemudian menjabat sebagai redaktur. Setelah meninggalkan majalah tersebut pada 2015, ia melanjutkan karirnya di bumi penerbitan sebagai wakil redaktur T: The New York Times Style Magazine.

Dalam bumi sastra, Yanagihara memulai debut novelnya melalui The People in the Trees yang diterbitkan pada 2013. Namanya semakin dikenal melalui novel keduanya, A Little Life, yang terbit pada 2015 dan mendapat perhatian luas dari pembaca maupun kritikus sastra. Novel tersebut berhasil masuk nominasi Man Booker Prize 2015 dan menjadi finalis National Book Award untuk kategori fiksi pada tahun yang sama.

Melalui karya-karyanya, Yanagihara dikenal lewat penceritaan yang mengeksplorasi hayat manusia, hubungan antartokoh, serta permasalahan emosional yang kompleks.

Sinopsis A Little Life

A Little Life

Empat sahabat yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi kecil di Massachusetts memutuskan untuk merantau ke New York demi mengejar harapan masing-masing.

Dengan kondisi finansial yang terbendung dan masa depan yang belum pasti, mereka mengandalkan persahabatan serta ambisi untuk membangun hayat yang mereka inginkan.

Keempatnya memiliki kepribadian dan tujuan yang berbeda. Willem bercita-cita menjadi aktor, JB mau menembus bumi seni sebagai pelukis, Malcolm berkarir sebagai arsitek, sementara Jude adalah sosok cerdas, tertutup, dan penuh misteri yang menjadi pusat kedekatan mereka.

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka tumbuh semakin erat, tetapi juga semakin rumit. Kesuksesan, kecanduan, dan kebanggaan pribadi menghadirkan tantangan yang menguji hubungan mereka.

Di tengah beragam fluktuasi tersebut, perhatian mereka perlahan tertuju pada Jude, yang tumbuh menjadi pengacara dengan kapasitas luar biasa. Di balik pencapaian kariernya, Jude menyimpan luka mendalam akibat pengalaman traumatis pada masa kecilnya.

Pengalaman itu meninggalkan sisa pada kondisi jasmani dan batinnya, sekaligus membuatnya dihantui ketakutan bahwa penderitaan masa lalunya akan terus menentukan arah kehidupannya.

Kelebihan dan Kekurangan A Little Life

Pros & Cons

Pros

  • Gaya penulisan yang kuat dan menggugah emosi.
  • Penggambaran karakter yang kompleks.
  • Mengangkat permasalahan trauma secara mendalam.
  • Menampilkan sisi kemanusiaan melalui hubungan antartokoh.
  • Perkembangan cerita yang mencakup perjalanan hidup panjang.
  • Mengajak pembaca merenungkan arti kasih sayang dan penerimaan diri.

Cons

  • Penggambaran trauma yang sangat intens.
  • Representasi trauma dan identitas figur menuai perbedaan pendapat.

Kelebihan A Little Life

A Little Life karya Hanya Yanagihara memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menarik untuk dibaca.

  • Gaya penulisan yang kuat dan menggugah emosi

Salah satu kelebihan A Little Life terletak pada corak penulisan Hanya Yanagihara yang bisa menggambarkan emosi figur secara mendalam.

Melalui pilihan kata yang cermat dan penggambaran kondisi yang terperinci, pembaca dapat merasakan kesedihan, kebahagiaan, ketakutan, hingga pergulatan batin yang dialami para tokohnya.

Narasinya tidak cuma menyampaikan peristiwa, tetapi juga membawa pembaca memahami sepertiapa pengalaman tersebut memengaruhi hayat dan hubungan antarmanusia.

  • Penggambaran karakter yang kompleks

Novel ini menghadirkan tokoh-tokoh dengan kepribadian, ambisi, dan permasalahan pribadi yang beragam.

Willem, JB, Malcolm, dan Jude memiliki perjalanan hidup masing-masing yang turut membentuk hubungan mereka. Terutama Jude, yang menjadi pusat cerita dengan kecerdasan, pencapaian karir, dan masa kemudian yang sulit diungkapkan.

Kompleksitas karakter tersebut membikin pembaca dapat melihat bahwa seseorang tidak selalu dapat dipahami cuma melalui perilaku maupun pencapaiannya di depan orang lain.

  • Mengangkat permasalahan trauma secara mendalam

A Little Life membahas akibat pengalaman traumatis terhadap hayat seseorang dalam jangka panjang.

Melalui perjalanan Jude, pembaca diajak melihat sepertiapa pengalaman masa kemudian dapat mempengaruhi metode seseorang melihat dirinya sendiri, membangun hubungan, dan menerima kasih sayang. Penggambaran ini menjadi salah satu elemen paling kuat sekaligus paling bermutu dalam novel.

Meski demikian, pendekatan tersebut juga dapat memunculkan perbedaan gagasan mengenai metode trauma dan proses pemulihan direpresentasikan dalam cerita.

  • Menampilkan sisi kemanusiaan melalui hubungan antartokoh

Di tengah beragam penderitaan yang dialami para tokohnya, novel ini statis menghadirkan momen-momen penuh kepedulian dan kehangatan.

Hubungan Jude dengan Willem, Harold, Andy, serta orang-orang terdekat lainnya memperlihatkan beragam bentuk kasih sayang yang dapat datang dalam hayat seseorang.

Para tokohnya tidak digambarkan sebagai pribadi yang sempurna. Mereka memiliki kekurangan, berbuat kesalahan, dan terkadang kesulitan memahami satu sama lain.

Justru melalui ketidaksempurnaan tersebut, cerita memperlihatkan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui aksi sederhana dan kedatangan yang konsisten.

  • Perkembangan cerita yang mencakup perjalanan hidup panjang

Dengan mengikuti hayat para tokohnya selama puluhan tahun, A Little Life memberikan ruang untuk mengeksplorasi fluktuasi dalam persahabatan, karier, dan hayat pribadi mereka.

Cerita tidak selesai pada masa ketika mereka statis muda dan mengejar impian, tetapi berlanjut ketika mereka menghadapi akibat dari pilihan serta pengalaman masing-masing.

Perpindahan perspektif pandang dan waktu turut memperkaya pemahaman pembaca terhadap karakter, meskipun struktur penceritaan yang panjang menuntut perhatian dan kesabaran untuk mengikutinya.

  • Mengajak pembaca merenungkan arti kasih sayang dan penerimaan diri

Lebih dari sekadar kisah persahabatan, novel ini turut mengadopsi pertanyaan tentang sepertiapa seseorang melihat harga dirinya sendiri dan menerima perhatian dari orang lain.

Perjalanan Jude memperlihatkan bahwa kasih sayang dari lingkungan sekitar tidak selalu cukup untuk menghapus luka yang telah durasi tertanam.

Melalui perselisihan tersebut, pembaca diajak merenungkan batas kapasitas seseorang dalam membantu orang yang dicintainya, pentingnya empati, serta rumitnya proses menghadapi pengalaman masa lalu.

Tema-tema ini memberikan ruang bagi pembaca untuk merefleksikan hubungan mereka dengan diri sendiri maupun orang lain.

Kekurangan A Little Life

Meskipun novel karya Hanya Yanagihara ini menawarkan banyak kelebihan, novel ini statis tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi penilaian bagi pembaca. 

  • Penggambaran trauma yang sangat intens

Salah satu sisi yang menuai kritik adalah penggambaran kekerasan, pelecehan, dan aksi menyakiti diri sendiri yang sangat intens.

Sejumlah babak disampaikan secara terperinci sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan emosional, terlebihlagi terasa terlalu bermutu bagi sebagian pembaca.

Pendekatan ini memang mempertegas penderitaan yang dialami Jude, tetapi intensitasnya juga membikin pengalaman membaca menjadi sangat menguras emosi.

Oleh karena itu, novel ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai bahanbacaan ringan, terutama bagi pembaca yang sensitif terhadap tema-tema tersebut.

  • Representasi trauma dan identitas figur menuai perbedaan pendapat

Meskipun pendalaman karakter menjadi salah satu kekuatan novel, metode cerita menggambarkan hayat Jude juga mendapat kritik.

Sebagian pembaca menilai bahwa penderitaan figur tersebut terlalu mendominasi narasi, sementara evolusi menuju pemulihan dan kompleksitas pengalaman penyandang disabilitas kurang mendapatkan penanganan yang memadai. Ada pula kritik mengenai representasi identitas Jude sebagai lelaki gay dengan disabilitas.

Bagi pembaca yang mengharapkan penggambaran trauma dan identitas yang lebih berimbang, pendekatan Yanagihara mungkin terasa problematis. Dengan demikian, kekuatan emosional novel ini tidak serta-merta membikin seluruh sisi representasinya diterima oleh semua pembaca.

Apa Itu Self-Compassion? Belajar Menerima dan Menyayangi Diri Sendiri

Grameds, pernahkah kalian merasa sulit memaafkan diri sendiri setelah berbuat kesalahan? Terkadang, kita bisa memberikan pengertian kepada orang lain yang sedang mengalami kegagalan, tetapi justru bersikap keras ketika menghadapi kesalahan sendiri.

Kita menyalahkan diri, meragukan kapasitas yang dimiliki, terlebihlagi merasa tidak layak mendapatkan kebahagiaan. Padahal, setiap orang memiliki kekurangan dan pernah melewati masa-masa sulit.

Dalam situasi seperti ini, kita perlu mengenal konsep self-compassion maupun belas kasih terhadap diri sendiri.

Apa Itu Self-Compassion?

Secara sederhana, self-compassion merupakan kapasitas untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, pengertian, dan kepedulian ketika menghadapi kesulitan.

Konsep ini dipopulerkan dalam riset ilmu jiwa oleh Dr. Kristin Neff. Intinya, kita belajar menghadapi kegagalan tanpa terus-menerus merendahkan diri maupun menganggap bahwa satu kesalahan menentukan seluruh harga diri kita.

Bersikap baik kepada diri sendiri bukan berarti menghindari tanggung jawab maupun membenarkan setiap kesalahan. Sebaliknya, kita statis dapat mengakui kekurangan, memperbaiki tindakan, dan belajar dari pengalaman tanpa mesti menyakiti diri melalui kritik yang berlebihan.

Dengan begitu, kegagalan dapat dipandang sebagai bagiankecil dari proses belajar, bukan sebagai karena untuk membenci diri sendiri.

Mengenal Tiga Unsur Utama Self-Compassion

Dalam konsep yang dikembangkan Kristin Neff, self-compassion memiliki tiga elemen utama yang saling berkaitan.

  • Self-kindness (kebaikan terhadap diri sendiri)

Unsur ini membujuk kita untuk bersikap lebih halus kepada diri sendiri ketika mengalami kegagalan maupun kesulitan. Alih-alih terus menyalahkan diri, kita berupaya memahami apa yang sedang dirasakan dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar serta bertumbuh.

  • Common humanity (kemanusiaan bersama)

Ketika menghadapi masalah, kita terkadang merasa bahwa cuma diri sendiri yang mengalami penderitaan tersebut. Padahal, kegagalan, kehilangan, dan ketidaksempurnaan merupakan bagiankecil dari pengalaman manusia.

Memahami hal ini dapat membantu kita menyadari bahwa mengalami kesulitan bukan berarti kita berbeda maupun lebih buruk daripada orang lain.

  • Mindfulness (kesadaran penuh)

Unsur ini berhubungan dengan kapasitas untuk menyadari pikiran dan emosi tanpa langsung menghakimi diri sendiri.

Kita belajar mengakui kesedihan, ketakutan, maupun frustrasi sebagaimana adanya, tanpa menyangkal emosi tersebut maupun membiarkannya sepenuhnya menguasai metode kita melihat kehidupan.

Bagaimana Cara Melatih Self-Compassion?

Membangun kebiasaan menyayangi diri sendiri membutuhkan waktu dan latihan.

Salah satu cara mula yang dapat dilakukan adalah memperhatikan metode kita berbicara kepada diri sendiri. Ketika berbuat kesalahan, cobalah bertanya apakah kita akan mengatakan hal yang sama kepada sahabat yang sedang mengalami situasi serupa.

Selain itu, kita dapat belajar menerima ketidaksempurnaan, selesai membandingkan seluruh hayat kita dengan pencapaian orang lain, serta memberikan waktu untuk beristirahat ketika merasa kewalahan.

Menuliskan emosi maupun mencoba melihat suatu masalah dari perspektif pandang yang lebih penuh pengertian juga dapat membantu kita memahami diri sendiri.

Namun, krusial untuk diingat bahwa menyayangi diri sendiri bukan berarti kita mesti selalu bisa mengatasi semuanya sendirian. Ketika beban emosional terasa terlalu berat, mencari sokongan dari orang terpercaya maupun tenaga ahli merupakan cara yang patut dipertimbangkan.

Self-Compassion dan Pergulatan Batin Jude dalam A Little Life

Konsep self-compassion memiliki kaitan erat dengan perjalanan Jude dalam novel A Little Life karya Hanya Yanagihara. Di balik kecerdasan dan keberhasilan kariernya sebagai pengacara, Jude menyimpan pengalaman traumatis yang memengaruhi metode ia melihat dirinya sendiri.

Luka masa kemudian tersebut bukan cuma menjadi kenangan yang menyakitkan, tetapi juga berhubungan dengan kesulitannya menerima perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekat.

Melalui karakter Jude, Grameds dapat merenungkan benar-benar rumitnya hubungan seseorang dengan dirinya sendiri setelah melewati pengalaman yang menyakitkan.

Perhatian dari orang lain mungkin memberikan dukungan, tetapi tidak selalu langsung mengubah metode seseorang melihat dirinya maupun menghilangkan akibat pengalaman masa lalu.

Perjalanan Jude juga mengingatkan kita bahwa proses menghadapi trauma tidak selalu terjadi secara sederhana maupun memiliki jalan yang sama bagi setiap orang.

Self-compassion mengajarkan kita bahwa seseorang statis layak diperlakukan dengan kebaikan, termasuk oleh dirinya sendiri, terutama ketika hidup sedang eksis dalam keadaan paling rapuh.

Kita tidak mesti menyangkal luka untuk melanjutkan hidup, tetapi juga tidak perlu menjadikan luka sebagai satu-satunya ukuran harga diri.

Melalui kisah Jude, A Little Life membujuk kita merenungkan arti penerimaan diri, pentingnya empati, dan benar-benar berharganya memperlakukan manusia lain dengan kepedulian, terutama ketika kita tidak sepenuhnya memahami perjuangan yang sedang mereka hadapi.

Penutup

Novel A Little Life karya Hanya Yanagihara bisa menjadi pilihan bahanbacaan bagi Grameds yang mau menyelami kisah tentang persahabatan, kasih sayang, dan pergulatan manusia dalam menghadapi luka masa lalu.

Melalui perjalanan Jude dan orang-orang terdekatnya, novel ini akan memperlihatkan bahwa hayat tidak akan selalu berjalan seiring dengan harapan, terlebihlagi ketika seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang peduli kepadanya. 

Pada akhirnya, A Little Life akan membujuk kita untuk merenungkan bahwa memahami penderitaan orang lain tidak selalu berarti bisa menghilangkannya.

Terkadang, kepedulian justru datang melalui kesediaan untuk mendengarkan, menemani, dan menerima seseorang tanpa menghakimi perjalanan hidupnya. Namun, krusial pula untuk diingat bahwa kasih sayang dari orang terdekat bukan alternatif pertolongan ahli ketika seseorang membutuhkannya.

Dengan mempertimbangkan tema dan peringatan kontennya, novel ini dapat menjadi bahan refleksi bagi pembaca yang siap menghadapi kisah emosional yang intens.

Semoga ulasan dari Gramin membantu Grameds mengenal lebih dekat novel A Little Life dan mempertimbangkannya sebagai bahanbacaan berikutnya. Selamat membaca!

A Little Life karya Hanya Yanagihara ini bisa Anda dapatkan cuma di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan keterangan dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

The Mountain Is You

The Mountain is You

GUNUNG PENGHALANG ITU ADALAH DIRIMU SENDIRI.

Jika Anda memiliki impian, tetapi dirimu sendiri yang menjadi hambatan. Jika Anda mau berubah, tetapi dirimu sendiri yang enggan berbenah. Jika Anda mau tumbuh, tetapi dirimu sendiri yang membuatnya rubuh.

Itu semua adalah tanda bahwa Anda sedang terjebak dalam kubangan sabotase diri.

Edinburgh & The New Beginning

Edinburgh

Bagi Rindi, satu-satunya metode untuk menyelamatkan diri dari bumi gelap Airenzo adalah dengan meninggalkan segalanya diam-diam dan pergi ke negara lain, tempat ibu kandungnya tinggal.

Ia mengharapkan rentang bisa memutus bayang-bayang Airenzo yang membuatnya terkekang dan berbahaya, sampai ia merelakan mimpinya menjadi seorang dokter.

Namun, Airenzo statis menemukan keberadaannya sejauh apa pun ia pergi.

The Rainshadow Orphans (Anak-Anak Rainshadow)

The Rainbow Orphans

Hidup terasa bermutu bagi para penduduk Rainshadow City, tempat kemiskinan serta korupsi merajalela. Mereka juga dikuasai organisasikriminal Lucky Crows. Toshiko, Jun, dan Mei Kawakami kakak-beradik yang mau membalas dendam atas terbunuhnya “bibi”tersayang mereka.

Artikel Lainnya Gramedia Official Blog
↑
Close Right Ads
Close Left Ads