Review The Tokyo Zodiac Murders Karya Soji Shimada

Gramedia Official Blog oleh Waktu baca 12 menit 507x dilihat
Review The Tokyo Zodiac Murders Karya Soji Shimada

Bagikan Postingan

The Tokyo Zodiac Murders – Bagaimana jika sebuah kasus pembunuhan yang mengerikan tidak cuma meninggalkan korban, tetapi juga sebuah teka-teki yang sengaja dirancang untuk menantang siapa pun yang mencoba memecahkannya?

Terlebih lagi, ketika setiap instruksi seolah mengikuti pola tertentu dan misteri tersebut tidak kunjung menemukan balasan selama puluhan tahun. Semakin banyak hal yang terungkap, semakin sulit pula membedakan antara hajat yang matang, kebetulan, dan sebuah imajinasi yang sengaja diciptakan untuk mengecoh.

Nuansa misteri seperti inilah yang menjadi daya tarik The Tokyo Zodiac Murders. Kisahnya membawa pembaca pada sebuah kasus pembunuhan yang dimulai pada tahun 1936 di Tokyo dan meninggalkan rangkaian insiden mengerikan yang sulit dijelaskan.

Puluhan tahun kemudian, sebuah arsip balik membuka kasus tersebut dan mempertemukan pembaca dengan sosok detektif eksentrik yang berupaya mengurai misteri yang selama ini belum terpecahkan.

Dengan memadukan elemen detektif, astrologi, sulap, dan ilusi, The Tokyo Zodiac Murders menghadirkan sebuah teka-teki yang akan membujuk pembaca untuk mengikuti penyelidikan dan ikut mencurigai setiap instruksi yang diberikan. Seolah-olah pembaca sedang salingberhadapan langsung dengan sebuah pagelaran misteri yang perlahan membuka rahasianya.

Lantas, mampukah misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo akhirnya terpecahkan setelah puluhan tahun berlalu? Yuk, Grameds, kita simak ulasan buku The Tokyo Zodiac Murders!

Profil Soji Shimada – Penulis Novel The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo)

Soji Shimada merupakan salah satu penulis fiksi misteri paling populer dari Jepang. Ia dikenal luas melalui karya-karya dengan teka-teki kompleks dan pendekatan Honkaku mystery maupun misteri autentik. Ia lahir di Fukuyama, Prefektur Hiroshima, pada 12 Oktober 1948. Shimada menempuh pendidikan di Seishikan High School sebelum melanjutkan studinya di Musashino Art University dengan memungut bidang rancangan seni komersial.

Sebelum sepenuhnya dikenal sebagai penulis misteri, Shimada sempat menjalani beragam pekerjaan, mulai dari pengemudi truk hingga penulis lepas dan musisi. Perjalanan tersebut kemudian membawanya memasuki bumi sastra misteri.

Pada 1981, ia berbuat debut sebagai penulis melalui The Tokyo Zodiac Murders yang berhasil masuk sebagai salah satu karya yang dinominasikan untuk Edogawa Ranpo Prize. Novel tersebut kemudian menjadi salah satu karya yang paling dikenal dari Shimada dan memperkenalkan ciri khas khasnya dalam menghadirkan misteri yang penuh teka-teki logis.

Shimada dikenal sebagai salah satu figur krusial dalam evolusi aliran Shin-Honkaku, yaitu pendekatan baru dalam cerita misteri yang menekankan permainan logika, teka-teki, dan tantangan bagi pembaca untuk ikut memecahkan kasus. Karena pengaruhnya terhadap evolusi aliran tersebut, ia kerap disebut sebagai “Godfather of Shin-Honkaku” maupun “God of Mystery”.

Pengaruhnya juga tidak selesai pada karya-karyanya sendiri. Shimada turut memberikan inspirasi dan sokongan kepada generasi penulis misteri Jepang berikutnya, termasuk Yukito Ayatsuji, Rintaro Norizuki, dan Shogo Utano.

Selain The Tokyo Zodiac Murders, Shimada juga dikenal melalui Detective Mitarai Series dan Detective Yoshiki Series. Karya-karyanya tidak selalu terpaku pada misteri yang serius. Beberapa di antaranya juga memadukan teka-teki rumit dengan humor, satire, serta beragam elemen lain yang membikin cerita terasa lebih beragam.

Sepanjang kariernya, Shimada telah menerima beragam nominasi penghargaan sastra dan misteri. Meskipun sempat dikenal sebagai “uncrowned king” karena berkali-kali masuk nominasi tanpa memenangkan penghargaan utama, pencapaiannya akhirnya mendapat pengakuan ketika ia meraih Japan Mystery Literature Grand Prize ke-12 pada 2008.

Hingga kini, Soji Shimada statis dikenal sebagai salah satu nama krusial yang memberikan efek besar terhadap evolusi misteri logika di Jepang.

Sinopsis The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo)

The Tokyo Zodiac Murders

Pada musim dingin tahun 1936, Tokyo digemparkan oleh kematian seorang budayawan yang ditemukan tewas di dalam studionya yang terkunci. Sebuah surat wasiat yang ditinggalkannya justru membikin kasus tersebut semakin mengerikan. Di dalamnya terdapat hajat untuk menciptakan sosok perempuan sempurna disebut Azoth dengan menggunakan bagiankecil tubuh sejumlah perempuan muda dari keluarganya.

Tidak durasi kemudian, putri sulung sang budayawan ditemukan tewas, disusul hilangnya putri-putri dan keponakan perempuannya yang lain.

Satu demi satu jasad para korban kemudian ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan dikuburkan mengikuti pola astrologis yang telah dijelaskan dalam surat tersebut. Kasus yang dikenal sebagai Pembunuhan Zodiak Tokyo ini menjadi misteri besar yang menyita perhatian penduduk dan pihak berwenang.

Namun, meskipun beragam upaya dilakukan, identitas pelaku dan rangkaian insiden di balik pembunuhan tersebut statis menjadi teka-teki selama lebih dari empat puluh tahun.

Pada 1979, sebuah arsip yang berhubungan dengan kasus durasi tersebut sampai ke tangan Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib, sekaligus detektif eksentrik.

Bersama Kazumi Ishioka, seorang ilustrator dan peminat cerita detektif yang menjadi rekannya dalam penyelidikan, Mitarai berupaya mengungkap fakta di balik Pembunuhan Zodiak Tokyo serta mencari sosok yang eksis di balik pembuatan Azoth.

Kelebihan dan Kekurangan The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo)

Pros & Cons

Pros

  • Teka-teki misteri yang kuat.
  • Mengajak pembaca ikut menjadi detektif.
  • Memadukan astrologi dengan misteri secara menarik.
  • Karakter detektif yang menarik untuk diikuti.
  • Menghadirkan gradasi klasik misteri yang kuat.

Cons

  • Unsur astrologi dan teknisnya bisa terasa cukup khusus.

Kelebihan The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo)

The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo) karya Soji Shimada memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menarik untuk dibaca.

  • Teka-teki misteri yang kuat 

Salah satu daya tarik terbesar The Tokyo Zodiac Murders terletak pada misterinya yang dibangun seperti sebuah teka-teki besar.

Kasus yang menjadi pusat cerita tidak cuma menghadirkan pertanyaan mengenai siapa pelakunya, tetapi juga membikin pembaca memperhatikan beragam instruksi yang tersebar sepanjang cerita. Shimada menyusun misterinya dengan serius sehingga pembaca memiliki kesempatan untuk ikut berpikir dan mencoba menemukan jawabannya sendiri. 

  • Mengajak pembaca ikut menjadi detektif 

Novel ini tidak menempatkan pembaca cuma sebagai pemirsa yang menunggu penyelidikan berakhir.

Sejak awal, pembaca justru ditantang untuk memperhatikan keterangan yang diberikan dan mencoba menyusun kemungkinan sendiri. Cara tersebut membikin pengalaman membaca terasa lebih interaktif, terutama bagi Grameds yang bahagia menebak pelaku dan memecahkan teka-teki sebelum detektif menemukan jawabannya. 

  • Memadukan astrologi dengan misteri secara menarik 

Unsur astrologi menjadi salah satu ciri khas khas yang membikin The Tokyo Zodiac Murders terasa berbeda dari cerita misteri pada umumnya. Dalam kisah ini, astrologi tidak cuma digunakan sebagai dekorasi dalam cerita, tetapi memiliki keterkaitan dengan pembangunan misterinya.

Perpaduan tersebut menciptakan kondisi yang unik, sedikit ganjil, sekaligus membikin kasus yang diselidiki terasa semakin kompleks. 

  • Karakter detektif yang menarik untuk diikuti 

Kiyoshi Mitarai menjadi salah satu kekuatan dalam novel ini. Sebagai sosok yang cerdas, memiliki rasa mau tahu tinggi, dan memiliki metode berpikir yang tidak biasa, Mitarai bisa membikin proses penyelidikan terasa menarik.

Hubungan ia dengan Kazumi Ishioka juga memberikan dinamika tersendiri karena pembaca dapat mengikuti sepertiapa keduanya mengamati beragam keterangan dan berupaya memahami kasus yang telah durasi menjadi misteri. 

  • Menghadirkan gradasi klasik misteri yang kuat 

The Tokyo Zodiac Murders memiliki ciri khas misteri klasik, terutama melalui kasus yang tampak mustahil, instruksi yang tersebar, serta tantangan logika yang diberikan kepada pembaca.

Penyajiannya juga dibuat menyerupai sebuah pagelaran dengan pembagian bagiankecil cerita yang membikin kisah terasa teatrikal. Bagi peminat locked-room mystery dan cerita detektif yang menuntut perhatian penuh, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang khas. 

Kekurangan The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo)

Meskipun buku karya Soji Shimada ini menawarkan banyak kelebihan, buku ini statis tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi penilaian bagi pembaca. 

  • Unsur astrologi dan teknisnya bisa terasa cukup khusus 

Pembaca yang tidak terlalu familiar dengan astrologi maupun kurang menikmati bahasan yang membutuhkan perhatian terhadap detail mungkin akan membutuhkan fokus lebih ketika mengikuti cerita.

Beberapa keterangan yang berhubungan dengan kasus disampaikan secara cukup terperinci, sehingga pengalaman membaca bisa terasa lebih menantang dibandingkan novel misteri yang alurnya lebih ringan dan sederhana. 

Apa itu Zodiak?

Grameds, istilah zodiak tentu sudah tidak luar lagi. Banyak orang mengenalnya sebagai rasi bintang yang mengacu berdasarkan tanggal lahir seseorang, seperti Aries, Taurus, Gemini, hingga Pisces.

Namun, di balik penggunaan zodiak dalam hayat sehari-hari, sebenarnya terdapat sejarah panjang mengenai pengamatan langit yang kemudian berkembang menjadi bagiankecil dari astronomi dan astrologi.

Menariknya, konsep tersebut juga memiliki kaitan erat dengan Pembunuhan Zodiak Tokyo, yang menjadikan simbol dan hakikat astrologi sebagai salah satu elemen krusial dalam misterinya.

Zodiak berasal dari pengamatan terhadap langit

Secara astronomi, zodiak mengacu pada daerah berbentuk sabuk angan-angan di langit yang dilalui oleh jalur semu Matahari, Bulan, dan planet-planet ketika diamati dari Bumi. Wilayah ini berhubungan dengan lingkaran ekliptika dan mencakup sejumlah rasi bintang yang kemudian dikenal sebagai rasi-rasi zodiak.

Konsep mengenai daerah langit tersebut telah dikenal sejak peradaban kuno. Pengamatan terhadap posisi benda-benda langit menjadi bagiankecil krusial dari evolusi ilmu manusia tentang langit sekaligus menjadi alas bagi beragam mekanisme perbintangan yang berkembang di kemudian hari.

Ada perbedaan antara zodiak dalam astronomi dan astrologi 

Meskipun menggunakan istilah yang sama, zodiak dalam astronomi dan astrologi memiliki pengertian yang berbeda.

Dalam astronomi, zodiak berhubungan dengan daerah dan rasi bintang yang eksis di sepanjang jalur ekliptika. Sementara itu, astrologi menggunakan posisi benda-benda langit dan pembagian zodiak untuk membikin interpretasi mengenai karakter maupun hayat manusia.

Astrologi merupakan mekanisme kepercayaan dan praktik yang menghubungkan posisi benda-benda langit dengan hayat manusia. Karena itu, bahasan mengenai astrologi perlu dibedakan dari astronomi sebagai ilmu yang mempelajari barang dan gejala di luar atmosfer Bumi berdasarkan metode ilmiah.

Mengapa ada 12 zodiak yang populer? 

Dua belas tanda zodiak yang populer saat ini berkembang dari tradisi perbintangan antik dan kemudian menjadi semakin dikenal melalui kebudayaan Yunani serta Romawi.

Tanda-tanda tersebut antara lain Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces.

Dalam astrologi Barat, seseorang biasanya mendapatkan tanda zodiaknya berdasarkan posisi Matahari pada saat kelahirannya. Inilah yang kemudian membikin tanggal lahir menjadi alas untuk menentukan tanda zodiak yang sering digunakan dalam horoskop.

Zodiak tidak selalu berarti cuma 12 rasi 

Menariknya, pembagian zodiak menjadi 12 tanda yang populer dalam astrologi tidak sepenuhnya sama dengan pembagian rasi berdasarkan batas-batas astronomi modern.

Secara astronomis, jalur ekliptika juga melewati daerah rasi Ophiuchus maupun Ofiukus, sehingga bahasan mengenai rasi yang eksis di sepanjang ekliptika dapat mencakup 13 rasi.

Perbedaan tersebut memberitahu bahwa istilah zodiak dapat digunakan dalam konteks yang berbeda. Sistem astrologi dan batas daerah rasi dalam astronomi memiliki sejarah, tujuan, serta metode pembagian yang tidak selalu sama.

Zodiak memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan manusia 

Pengamatan terhadap benda-benda langit telah dilakukan sejak peradaban kuno. Konsep mengenai zodiak kemudian berkembang melalui beragam kebudayaan dan tradisi perbintangan. Dari sana, mekanisme yang berhubungan dengan tanda-tanda zodiak menghamburkan dan mengalami evolusi hingga dikenal luas di beragam bagian dunia.

Selain tradisi astrologi Barat, beragam kebudayaan juga memiliki mekanisme perbintangan dan astrologinya sendiri. Astrologi Babilonia, astrologi Hindu, hingga astrologi Tionghoa memberitahu bahwa hubungan antara manusia dan pengamatan terhadap langit telah menjadi bagiankecil dari beragam tradisi masyarakat.

Zodiak menjadi bagiankecil krusial dalam Pembunuhan Zodiak Tokyo 

Pengetahuan mengenai zodiak menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan Pembunuhan Zodiak Tokyo.

Dalam novel ini, astrologi bukan sekadar latar belakang maupun simbol yang ditempatkan untuk membangun kondisi misterius. Prinsip-prinsip yang berhubungan dengan astrologi justru menjadi bagiankecil dari teka-teki yang mesti diperhatikan oleh tokoh-tokohnya.

Hal inilah yang membikin penggunaan zodiak dalam novel terasa berbeda. Pembaca tidak cuma diajak mengenal sebuah kasus misterius, tetapi juga diperkenalkan pada sepertiapa simbol, angka, posisi, dan konsep astrologi dapat ditempatkan dalam sebuah pembangunan cerita detektif.

Bagi Grameds yang tertarik dengan teka-teki logika, elemen zodiak tersebut memberikan lapisan tambahan yang membikin proses membaca The Tokyo Zodiac Murders terasa semakin menantang.

Penutup

Buku The Tokyo Zodiac Murders menjadi pilihan bahanbacaan yang tepat bagi Grameds yang menyukai cerita misteri dengan teka-teki rumit dan menantang.

Perpaduan antara kasus pembunuhan, astrologi, permainan logika, serta sosok detektif yang eksentrik membikin novel ini menawarkan pengalaman membaca yang berbeda dari cerita misteri pada umumnya. Setiap instruksi yang diberikan terasa seperti bagiankecil dari sebuah puzzle besar yang membujuk pembaca untuk ikut berpikir dan mencoba menemukan jawabannya sebelum misteri tersebut terungkap.

Bagi Grameds yang menyukai cerita detektif klasik, kasus pembunuhan yang sulit dipecahkan, serta tantangan untuk menebak pelaku dan metode kejahatan dilakukan, The Tokyo Zodiac Murders layak masuk dalam daftar bacaan.

Lalu, apakah Grameds bisa memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo sebelum sang detektif menemukan jawabannya? Semoga ulasan dari Gramin dapat membantu Grameds mengenal lebih jauh daya tarik novel ini dan semakin tertarik untuk membacanya. Selamat membaca!

The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo) karya Soji Shimada ini bisa Anda dapatkan cuma di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan keterangan dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Sang Alkemis (The Alchemist)

Sang Alkemis

Setiap beberapa puluh tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya. Novel Paulo Coelho yang memikat ini telah memberikan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia. Kisah yang sangat sederhana, namun menyimpan kebijaksanaan penuh makna, tentang anak gembala disebut Santiago yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di Piramida-Piramida.

Di perjalanan dia berjumpa seorang perempuan Gipsi, seorang lelaki yang mengaku dirinya Raja, dan seorang alkemis––semuanya memberitahu jalan kepada Santiago untuk menuju harta karunnya.

Disorder

Disorder

Indonesia tidak sedang berperang, tetapi ia tidak mungkin terhindar dari tegangan geopolitik dunia. Ketika Selat Hormuz ditutup,harga daya melonjak, pengiriman bahan baku tersendat, harga ganti tertekan, dan antrean BBM mengular di beragam daerah. Ketegangan geopolitik karenanya dengan cepat menjelma menjadi permasalahan bisnis.

Itulah bumi yang mesti dihadapi para imam hari ini: konflik, perang dagang, blokade, sanksi, disrupsi teknologi, dan perebutan sumber daya menjalar cepat ke urusan supply chain, arus kas, tenaga kerja, pasar, hingga keberlangsungan operasi. Lantas, sudah siapkah kita menghadapinya?

Penasaran: Cinta, Dendam, dan Obsesi di Zaman AI

Penasaran

Penasaran adalah kumpulan cerpen pertama dari Henry Manampiring. Imajinasinya membawa kita ke masa yang tidak jauh dari hari ini, di mana hidup berbareng artificial intelligence (AI). Ketika pekerjaan diserobot robot, asmara dibantu algoritma, pembunuhan dilakukan manusia buatan, dan dendam menolak mendekam.

Dua belas cerita di buku ini akan membuatmu berpikir ulang mengenai relationship, kesepian, ambisi, keadilan, kematian, dan Tuhan—ketika kecerdasan buatan tak terpisahkan dari keseharian manusia.

Artikel Lainnya Gramedia Official Blog
↑
Close Right Ads
Close Left Ads