Robot Untuk Periksa Ibu Hamil, Kebijakan Ini Tuai Kontroversi

May 05, 2026 11:35 AM - 1 minggu yang lalu 12403

Jakarta -

Kemajuan teknologi sudah merambah bumi medis, Bunda. Baru-baru ini, negara bagian Amerika Serikat (AS), Alabama, berencana menggunakan robot untuk periksa ibu hamil.

Dilansir New York Post, para pejabat Alabama berencana menggunakan robot guna meningkatkan perawatan bagi ibu mengandung di daerah pedesaan. Selama pertemuan di Gedung Putih pada bulan Januari, hibah pertama dipromosikan kepada negara bagian di bawah biaya kesehatan pedesaan. Hibah ini diketahui berbobot 50 miliar dollar AS.

"Alabama tidak mempunyai master kandungan di banyak wilayahnya," kata perwakilan Centers for Medicare & Medicaid Services Administrator, Mehmet Oz, saat duduk berbareng Presiden Donald Trump dan personil Kabinet.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menurut Oz, kurangnya jasa kesehatan di daerah tersebut mendorong usulan untuk menggunakan robot yang bisa melakukan pemeriksaan USG pada ibu hamil. Namun, pendapat berbeda disampaikan oleh Senator Bernie Sanders.

Senator independen dari Vermont ini mengatakan bahwa perihal itu sama sekali tidak keren. Selain Sanders, master kandungan serta beberapa pihak ikut berkomentar di media sosial dan menyatakan kekhawatiran mereka.

Respons yang beragam ini menyoroti gimana antusiasme terhadap ide-ide berbasis teknologi canggih muncul dari negara bagian dalam permohonan untuk Rural Health Transformation Program. Sayangnya, buahpikiran ini bertentangan dengan realita bahwa tidak cukup tenaga kesehatan untuk melayani pasien di banyak organisasi pedesaan.

Meskipun USG robotik adalah teknologi yang sangat canggih, teknologi tersebut belum digunakan di negara bagian Alabama. Meski sangat krusial untuk perawatan pasien, teknologi ini bukanlah pengganti tenaga kerja yang terlatih, sistem perawatan, serta informasi yang terkoordinasi.

Hampir semua dari 50 negara bagian yang mengusulkan permohonan untuk Rural Health Transformation Program menyatakan kekurangan tenaga kerja dan kebutuhan mengenai kesehatan ibu sebagai prioritas. Hanya negara bagian Alabama yang mengusulkan penggunaan robot untuk mengisi kesenjangan tersebut.

Juru bicara Departemen Urusan Ekonomi dan Komunitas Alabama, Mike Presley, mengawasi rencana tersebut. Ia mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang bersedia diwawancarai tentang USG telerobotik.

Sementara menurut ahli kebidanan dan ginekologi di daerah pedesaan Alabama barat laut Birmingham, LoRissia Autery, penggunaan robot tidak bakal mengurangi nomor kematian ibu dan bayi.

Banyak pasiennya mempunyai kehamilan berisiko tinggi dengan diabetes, tekanan darah tinggi, dan hepatitis C. Bila robot digunakan, Autery mengaku cemas tentang jenis perawatan yang bakal diberikan kepada pasiennya, banyak di antaranya berkendara selama satu jam alias lebih untuk berkonsultasi.

"Hal itu justru mengurangi perawatan yang sangat kita butuhkan untuk para perempuan," ujar Autery.

Negara yang sudah gunakan robot untuk periksa ibu hamil

Setidaknya, ada satu negara di AS yang sudah menggunakan robot untuk memeriksa ibu hamil. Robot ini digunakan oleh pekerja terlatih untuk mengurangi nomor kematian.

Di desa terpencil La Loche, Kanada, Julie Fontaine mengoperasikan robot USG di sebuah klinik dengan dua perawat praktik dan master yang bekerja secara bergantian. Dia mengatakan bahwa pasien menyukai robot tersebut lantaran menghemat waktu dan biaya perjalanan mereka ke akomodasi perawatan kesehatan regional lebih besar yang berjarak enam hingga tujuh jam.

"Ketika orang-orang datang, mereka seperti, 'Wow, teknologi era sekarang sungguh luar biasa'," kata Fontaine.

"Ini adalah sesuatu yang belum pernah mereka lihat alias gunakan sebelumnya."

Saat menangani pasien, Fontaine menghubungkan mesin USG robotik ke tele-sonografer di stasiun kontrol di Saskatoon. Sonografer kemudian mengoperasikan lengan robot pada mesin tersebut dari jarak jauh. Seorang mahir radiologi, yang dapat berada di mana saja, bisa membaca laporan hasil pemindaian dan mengirimkannya kembali ke master family di La Loche.

"Yang terpenting adalah mengidentifikasi kehamilan berisiko tinggi cukup awal sehingga kita dapat melakukan intervensi," kata mahir bedah Ivar Mendez.

Menurut Mendez, USG robotik ini sama baiknya dengan USG biasa. Namun, USG canggih ini tidak dapat digunakan ketika pasien memerlukan USG memek yang lebih invasif.

Dalam sebuah makalah tahun 2022, Mendez dan timnya di University of Saskatchewan meneliti 87 ultrasonografi telerobotik dan menemukan bahwa 70 persen dari waktu tersebut, USG robotik membikin perjalanan untuk perawatan menjadi tidak perlu. Hampir semua pasien mengatakan mereka bakal kembali menggunakan robot untuk pemeriksaan.

Demikian cerita tentang negara yang berencana menggunakan robot untuk memeriksa ibu hamil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Selengkapnya