Sakit Perut saat Hamil Dikira Cuma Masuk Angin, Ternyata Tanda Kondisi Langka dan Berbahaya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 506x dilihat
Sakit Perut saat Hamil Dikira Cuma Masuk Angin, Ternyata Tanda Kondisi Langka dan Berbahaya

Bagikan Postingan

Jakarta -

Sakit perut menjadi indikasi ringan yang sebenarnya tak perlu dikhawatirkan. Tapi ada juga lho, Bunda, kondisi sakit perut saat mengandung dikira hanya masuk angin, rupanya tanda kondisi langka dan berbahaya.

Siapa pernah menyangka jika berasal dari sakit perut yang dianggap biasa justru menjadi kondisi serius yang mengerikan saat kehamilannya. Ya, seorang wanita berjulukan Tracey Harrington McCoy mengalami kehamilan heterotopik, dengan satu embrio ditanamkan di rahim dan satu lagi di ovarium, yang menyebabkan operasi darurat setelah perdarahan internal.

Kisah kehamilan yang rumit

Dikutip dari Parents, dua tahun sebelumnya, setelah setahun mencoba hamil, dan dua bulan menjalani perawatan kesuburan intrauterin, akhirnya Tracey hamil. Karena dirinya menjalani perawatan kesuburan, kehamilannya pun dipantau dengan ketat melalui USG internal. Pada usia empat, lima, dan enam minggu, master mengonfirmasi dirinya bahwa satu embrio sehat berkembang sesuai harapan.


Sehari setelah USG enam minggu, dirinya merasakan nyeri tajam di sisi kanannya, sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya. Karena khawatir, dirinya menelpon master kandungan dan berbincang dengan seorang perawat.

"Kedengarannya seperti gas," katanya. Kemudian, Tracey meyakinkan master bahwa dirinya tahu gimana rasanya gas, tapi master bersikeras bahwa kehamilan bisa menyebabkan gas parah. Karena USG internal Tracey normal sehari sebelumnya, master pun tidak khawatir.

Meski dikatakan tak perlu khawatir, rupanya rasa sakit yang dirasakan Tracey tidak menghilang. Justru, rasanya makin parah, dan berganti antara debaran tumpul dan sensasi tajam yang menusuk. Dengan gemetar, Tracey menelepon master lagi.

USG lain menunjukkan bahwa bayinya baik-baik saja, sehat, debar jantung kuat. Dokter menginfokan bahwa mungkin informasinya susah dipercaya, tapi itu memang hanya gas. "Saya tidak bisa menghitung berapa banyak wanita yang datang lantaran takut keguguran, dan itu hanya gas!" master meyakinkan dirinya.

Namun, saat Tracey mengemudi di perjalanan pulang, dia membungkuk kesakitan. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya.

Diagnosis yang terlambat

Tiga jam kemudian, suami Tracey mendapati dirinya meringkuk, nyaris tidak bisa bergerak alias berbicara. Dalam kepanikan, suaminya menggendong Tracey ke mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.

Para master tidak membuang waktu. Setelah berjanji obat itu tidak bakal membahayakan bayi, mereka memberikan morfin untuk mengatasi rasa sakitnya. Lalu, mereka berupaya keras mencari tahu apa yang salah.

Selama 45 menit yang menyiksa, seorang radiolog melakukan USG internal lagi. Akhirnya, mereka menemukan masalahnya. "Saya mengalami perdarahan di dalam. Saat itu, saya sudah kehilangan banyak darah. Setiap aktivitas mengirimkan rasa sakit yang membakar dan menusuk tubuh,"ujar Tracey.

Pada pukul 1 pagi, Tracey pun segera dibawa ke ruang operasi darurat untuk mencari sumber perdarahan dan melakukan tindakan agar perdarahan berhenti. Beberapa jam kemudian, ketika dirinya terbangun, suaminya tampak sangat lelah, begitu juga dengan dokter. Dengan bunyi lambat dan hati-hati, sang suami menjelaskan apa yang terjadi.

Dalam angan Tracey, dirinya hanya menjalani operasi dan kemudian master menemukan kista ovarium pecah. Namun kenyataannya, master menemukan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan ialah adanya embrio kedua, yang ditanamkan di ovarium dirinya. Saluran itu rupanya pecah dan menyebabkan perdarahan internal yang parah. Diagnosisnya adalah terjadi kehamilan heterotopik.

Kenali kehamilan heterotopik

Kehamilan heterotopik terjadi pada sekitar 1 dari 30 ribu kehamilan yang dikandung secara alami, tetapi jauh lebih umum pada orang yang menjalani perawatan kesuburan, dengan perkiraan berkisar antara 1 dari 100 hingga 1 dari 10 ribu kehamilan.

Kehamilan ini merupakan kondisi yang sangat langka dan rawan di mana kedua kehamilan berkembang secara bersamaan, satu di dalam rahim dan satu lagi di luar rahim. Dalam kebanyakan kasus, kehamilan ektopik menempel di tuba fallopi, tetapi dalam kasus yang jarang, dapat menempel pada serviks, ovarium, alias apalagi perut. 

Tantangan terbesar dalam kehamilan heterotopik adalah sungguh sulitnya diagnosis. Gejala seperti bercak alias nyeri perut sering diabaikan sebagai pengaruh samping yang diharapkan dari kehamilan terutama ketika USG mengonfirmasi kehamilan yang sehat di rahim. Karena perihal ini, lebih dari separuh kehamilan heterotopik tetap tidak terdeteksi hingga operasi darurat seperti dikutip dari laman Parents.

Komplikasi seperti ini tidak hanya menakut-nakuti jiwa bagi ibu mengandung tetapi juga membahayakan kehamilan. Itulah kenapa krusial untuk mengetahui indikasi dari indikasi, terutama bagi mereka yang menjalani perawatan kesuburan. Meskipun kehamilan heterotopik dapat terjadi secara alami, kehamilan ini jauh lebih umum setelah perawatan kesuburan.

Gejala kehamilan heterotopik

Mengenali indikasi kehamilan heterotopik menjadi langkah krusial agar ibu mengandung bisa mendeteksi lebih awal kondisi yang mungkin dialaminya. Adapun indikasi utama dari kehamilan heterotopik meliputi sebagai berikut:

1. Nyeri perut yang terus-menerus dan satu sisi
2. Pusing
3. Pingsan
4. Perdarahan abnormal
5. Mual
6. Muntah

Jika pengobatan kesuburan digunakan, sangat krusial untuk mempertimbangkan kondisi ini terutama saat salah satu indikasi muncul selama trimester pertama. Meskipun tetap jarang, kehamilan heterotopik semakin umum seiring meningkatnya penggunaan teknologi reproduksi berbantuan.

Untuk itu, ada baiknya, konsultasikan dengan master jika memang merasakan gejala-gejala di atas sehingga dapat terdeteksi lebih awal kondisi tersebut. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads