Sang Penjaga Api Muhammadiyah

Jan 14, 2026 03:31 PM - 5 bulan yang lalu 169058

Kincai Media , JAKARTA -- Sebelum wafat, KH Ahmad Dahlan sempat berpesan kepada para sahabatnya. Sang pendiri Muhammadiyah berwasiat agar tongkat kepemimpinan organisasi ini, sepeninggalnya kelak, diserahkan kepada KH Ibrahim. Mereka yang menyimak pesan ini setuju. Sebab, reputasi adik ipar Kiai Ahmad Dahlan itu tak perlu diragukan lagi.

Mendengar berita demikian, mula-mula KH Ibrahim menyatakan tidak sanggup memikul beban yang demikian berat. Namun, atas dorongan sahabat-sahabatnya agar petunjuk sang pendiri Muhammadiyah bisa dipenuhi, akhirnya dia bisa menerima wasiat tersebut.

Pada Maret 1923, kepemimpinan KH Ibrahim dikukuhkan dalam rapat tahunan personil Muhammadiyah. Kedudukannya sebagai Voorzitter Hoofdbestuur Moehammadijah Hindia Timur (kini disebut Pimpinan Pusat Muhammadiyah).

Merujuk pada kitab 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi, KH Ibrahim lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 7 Mei 1874. Ia adalah putra KH Fadlil Rachma­ningrat, penghulu pengadil Kesul­tanan Yogyakarta pada era Sri Sultan Hamengku­buwono VII. Secara nasab, dirinya merupakan adik kandung Nyai Ahmad Dahlan.

Pernikahan pertamanya berjalan pada 1904 dengan Siti Moechidah binti Abdulrahman. Namun, wanita tersebut tak berumur panjang. Selang beberapa waktu kemudian, Ibrahim menikah dengan Moesinah, ialah adik kandung dari almarhumah istri pertamanya. Nyai Ibrahim yang kedua itu dikaruniai usia yang cukup panjang, sampai 108 tahun. Moesinah doyan mendirikan shalat malam dan menyambung silaturahim.

Ketokohan KH Ibrahim ditunjang oleh ketekunan dan kealiman yang dipupuknya sejak dini. Ia menjalani masa mini sebagai seorang penuntut ilmu. Sebelum akil balig, dirinya sudah menjadi penghafal Alquran.

Saat berumur 17 tahun, Ibrahim berangkat ke Tanah Suci. Bukan hanya untuk menunaikan ibadah haji, tetapi juga menuntut pengetahuan di sana. Setelah kira-kira delapan tahun, barulah dia kembali ke Tanah Air. Kepulangannya sekaligus untuk merawat ayahanda yang sudah sepuh.

Memimpin Muhammadiyah

Selama 10 tahun berturut turut, KH Ibrahim selalu terpilih kembali dalam setiap Kongres Muhammadiyah. Dalam kepemimpinannya, dia lebih banyak memberi kebebasan mobilitas terhadap angkatan muda. Aisyiyah juga terbimbing semakin maju, tertib dan kuat.

Pengelolaan masjid (takmirul masajid) juga sukses ditingkatkan kualitasnya. Tidak hanya itu, Kiai Ibrahim juga sukses mendorong berdirinya koperasi Adz-Dzakirat, untuk menopang kegiatan Muhammadiyah. Ia adalah seorang ustadz yang sungguh-sungguh melanjutkan kepemimpinan KH Ahmad Dahlan. Semangatnya pantang surut dalam menjaga "api" Muhammadiyah.

Dalam kepemimpinan Kiai Ibrahim, Muhammadiyah mengembangkan sayapnya ke beragam daerah. Kongres tahunan (sekarang disebut muktamar) Muhammadiyah diselenggarakan bergantian di beragam kota. Sejak kongres ke-15 hingga 22, letak penyelenggaraan tersebar berturut-turut di Surabaya, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Bukittinggi, Yogyakarta, Makassar, dan Semarang.

Kiai Ibrahim mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap angkatan muda dan perempuan. Ia turun tangan langsung dalam membenkan pengarahan dan pengawasan terhadap 'Aisyiyah dan Hizbul Wathan, organisasi kepanduan Muhammadiyah. Keberadaan Nasyiatul ‘Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah juga mulai dirintis pada masa kepemimpinannya.

Selain itu, Kiai Ibrahim juga memimpin sebuah golongan pengajian yang diberi nama Adz-Dyakirat. Melalui Adz-Dzakirat pula, upaya penggalangan biaya untuk kegiatan Aiysiyah, PKO, Bagian Tabligh, dan Taman Pustaka dilakukan.

Pada masa kepemimpinan Kiai Ibrahim, Majelis Tarjih mulai terbentuk. Ini menjadi bagian dari Muhammadiyah yang bekerja mengkaji masalah keagamaan. Visinya untuk mempersatukan umat Islam, perihal yang juga selalu menjadi pemikiran KH Ahmad Dahlan. 

Selengkapnya