Bukan hanya screen time anak, kenali 5 kebiasaan digital anak yang perlu diwaspadai orang tua, dari doomscrolling hingga oversharing.
Selama ini, batas utama yang kerap kita terapkan saat anak memegang gawai adalah durasi, ialah seberapa lama alias sejenak mereka enak-enak bermain gadget. Kita sering bernapas lega jika anak “hanya” bermain gadget selama satu jam sehari. Namun, pernahkah Mommies dan Daddies memperhatikan apa yang sebenarnya dilakukan anak dalam kurun waktu satu jam tersebut?
Realitas di era modern menunjukkan bahwa nomor lama layar (screen time) bukanlah satu-satunya tolok ukur. Kebiasaan digital anak juga memegang peranan sangat krusial. Memahami pola ini merupakan bagian krusial dari menjaga kesehatan digital anak secara menyeluruh.
Jadi, apakah screen time yang hanya satu jam sehari berfaedah aman? Belum tentu. Orang tua juga perlu memandang apa yang dilakukan anak selama menggunakan gadget, kapan mereka menggunakannya, konten apa yang dikonsumsi, dan apakah kebiasaan tersebut mulai mengganggu tidur, belajar, kegiatan fisik, maupun hubungan sosialnya.
BACA JUGA: Bukan Salah Anak! Ini 7 Kesalahan Orang Tua yang Bikin Screen Time Sulit Dikontrol
Memahami Kebiasaan Digital Anak dan Batasan Screen Time
Dilansir dari Psychology Today, kebiasaan digital anak merujuk pada seluruh pola perilaku, interaksi, serta rutinitas anak saat terhubung dengan teknologi dan media elektronik. Ini mencakup pilihan platform, respons emosional saat menggunakan gawai, hingga etika berkomunikasi di bumi maya.
Senada dengan perihal tersebut, Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., menekankan pentingnya orang tua memandang pola ini secara lebih utuh. “Kebiasaan digital adalah pola anak menggunakan gawai dan media digital: kapan digunakan, berapa lama, untuk tujuan apa, dan gimana pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari. Yang perlu diperhatikan bukan hanya durasi, tapi juga jenis konten, konteks penggunaan, serta dampaknya,” paparnya.
Penjelasan ini menegaskan bahwa screen time bukanlah satu-satunya masalah. Membatasi jam layar memang penting, tetapi jika dalam lama yang singkat itu anak terbiasa menyaksikan paparan kekerasan alias melakukan scrolling tanpa henti sebelum tidur, dampaknya bisa tetap merugikan.
Sebagaimana dijelaskan dalam pedoman kesehatan anak dari World Health Organization (WHO), untuk anak usia dini, perilaku sedentari dan penggunaan layar perlu diperhatikan sebagai bagian dari pola kegiatan anak secara keseluruhan.

Foto: kaboompics.com/Pexels
Apa yang Mendorong Anak Sering Scrolling Tanpa Henti?
“Scrolling terus-menerus dapat dipicu oleh kreasi aplikasi yang memang membikin pengguna mau memandang konten-konten berikutnya, rasa mau tahu, kebutuhan mengikuti pergaulan, kebosanan, alias sebagai langkah mengalihkan diri dari stres dan emosi yang tidak nyaman.
Sampai pemisah tertentu, perihal ini wajar, terutama pada remaja yang keahlian mengendalikan impulsnya tetap berkembang. Namun, kebiasaan tersebut perlu diwaspadai ketika anak mulai kehilangan kendali dan susah berakhir meski sudah mengetahui akibatnya,” terang Psikolog Vera.
BACA JUGA: Aturan Screen Time Anak dan Remaja, serta Dampak Jika Berlebihan
5 Kebiasaan Digital Buruk yang Sering Luput dari Perhatian Orang Tua
Mommies dan Daddies, yuk, amati bersama. Ada beberapa kebiasaan digital jelek saat anak bermain gawai yang sering kali luput dari pengawasan kita sehari-hari:
1. Doomscrolling dan Paparan Short-form Content Tanpa Henti
Pernahkah memandang anak terus menggeser layar ponsel, memandang video-video pendek tanpa jeda?
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir dan mengonsumsi konten, terutama konten negatif alias yang memicu emosi, meski sebenarnya kita sudah mau berhenti.
Perilaku scrolling sigap dan terus-menerus ini dapat memberikan stimulasi secara cepat. Kebiasaan scrolling sigap dan terus-menerus ini membikin anak terbiasa mendapatkan stimulasi secara cepat. Pada sebagian anak, pola konsumsi seperti ini dapat membikin mereka lebih mudah jenuh dan kesulitan mempertahankan konsentrasi saat beraktivitas di bumi nyata.
2. Menggunakan Gadget saat Makan dan Menjelang Tidur
Penggunaan gawai di meja makan dapat merusak kebiasaan makan sehat (mindful eating) lantaran anak tidak konsentrasi pada rasa kenyang. Sementara itu, membiasakan anak menatap layar sebelum tidur berakibat lebih serius.
Menurut riset dari Sleep Foundation, paparan sinar biru (blue light) dari perangkat elektronik pada malam hari dapat menekan produksi hormon melatonin yang berkedudukan dalam mengatur rasa kantuk. Penggunaan perangkat sebelum tidur pun dikaitkan dengan gangguan pola dan kualitas tidur anak.

Foto: Andrea Piacquadio/Pexels
3. Mengonsumsi Konten Tanpa Filter dan Pendampingan
Jenis tayangan yang diakses anak memegang kendali besar atas pembentukan karakternya. Mengutip ulasan dalam Psychology Today, paparan layar yang terlalu menstimulasi (overstimulating) dapat berangkaian dengan masalah perilaku, pembelajaran, dan izin emosi anak.
4. Terlalu Bebas Membagikan Informasi Pribadi (Oversharing)
Anak-anak, terutama usia prareremaja, kerap belum memahami konsep privasi di internet. Membagikan nama sekolah, letak rumah, hingga kegiatan harian di platform digital membuka akibat cyberbullying, pelanggaran privasi, hingga potensi ancaman dari kejahatan siber.
5. Multitasking Digital Saat Belajar alias Mengerjakan Tugas
Anak terbiasa membuka gawai alias aplikasi intermezo sembari mengerjakan tugas sekolah. Kebiasaan multitasking ini dapat membikin konsentrasi anak terpecah, sehingga materi pelajaran tidak terserap maksimal dan proses berpikir mendalam menjadi lebih susah dilakukan.
Mengapa Konten dan Waktu Akses Digital Begitu Menentukan?
Gawai pada dasarnya adalah alat, tetapi jenis konten, fitur platform, serta waktu penggunaan itulah yang memberikan warna pada pengalaman dan kebiasaan digital anak.
Jenis konten dan waktu penggunaan itulah yang memberikan warna pada perkembangan otak anak. Konten bernuansa provokatif alias hubungan yang memicu Fear of Missing Out (FoMO) berpotensi memicu kekhawatiran dan rasa rendah diri pada anak.
Di sisi lain, saat gawai digunakan sebagai “obat penenang” ketika anak sedang tantrum alias bosan, anak kehilangan kesempatan alami untuk belajar mengelola emosinya sendiri.
Jika terus menjadi satu-satunya langkah anak untuk mengatasi bosan, tantrum, alias emosi yang tidak nyaman, gadget dapat semakin terbentuk sebagai “pelarian” utama bagi anak ketika menghadapi emosi yang sulit.

Foto: Vitaly Gariev/Pexels
Tanda-tanda Kebiasaan Digital Anak Mulai Tidak Sehat
Mommies dan Daddies perlu mulai meningkatkan kewaspadaan andaikan anak alias remaja kalian menunjukkan beberapa indikasi berikut:
- Perubahan emosi yang drastis: Anak menjadi sangat mudah marah, cemas, alias frustrasi ketika gawai diambil dari tangannya.
- Pola tidur jadi terganggu: Kesulitan tidur malam, sering terbangun, alias terlihat capek di pagi hari.
- Menurunnya hubungan sosial: Anak menarik diri dari komunikasi langsung dengan family alias kawan sebaya dan lebih memilih mengurung diri berbareng gawainya.
- Aktivitas harian terabaikan: Tugas sekolah, kegemaran fisik, alias tanggungjawab individual dasar seperti mandi dan makan sering kali tertunda.
Riset dari American Psychological Association (APA) mengenai penggunaan media oleh remaja menunjukkan bahwa penggunaan media sosial perlu diperhatikan ketika mulai mengganggu tidur, kegiatan fisik, dan kegunaan sehari-hari. APA juga menekankan pentingnya memantau tanda-tanda penggunaan media sosial yang bermasalah.
BACA JUGA: 10 Ciri Screen Time Anak Sudah Berlebihan Selama Liburan Panjang
Langkah Praktis Membangun Kebiasaan Digital yang Sehat
Membimbing anak-anak, terutama remaja di era serba digital, memang butuh kesabaran ekstra. Berikut beberapa pedoman yang bisa orang tua terapkan di rumah:
- Tetapkan area bebas gawai: Buat kesepakatan berbareng bahwa meja makan dan bilik tidur adalah area bebas perangkat elektronik.
- Dampingi dan ajak anak berdiskusi: Luangkan waktu untuk menonton bersama. Tanyakan emosi mereka terhadap konten yang ditonton alih-alih hanya melarangnya.
- Jadilah teladan yang baik: Anak adalah peniru yang andal. Jika kita mau anak mengurangi scrolling, pastikan Mommies dan Daddies juga membatasi penggunaan ponsel saat berkumpul berbareng keluarga.
- Sediakan pengganti kegiatan fisik: Imbangi kehidupan digital anak dengan kegiatan luar ruangan, olahraga, kegemaran kreatif, alias membaca buku.
Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?
Psikolog Vera mengingatkan, orang tua perlu lebih serius jika penggunaan digital mulai mengganggu tidur, sekolah, makan, kebersihan diri, kegiatan fisik, maupun hubungan dengan family dan teman.
Cermati tanda-tanda lain berikut ini: anak menjadi marah berlebihan alias resah ketika gawai dibatasi, sering mendusta mengenai penggunaannya, menarik diri, kehilangan minat terhadap kegiatan lain, alias menggunakan gawai sebagai satu-satunya langkah menghadapi emosi.
Jika Mommies dan Daddies menemukan bahwa kebiasaan digital anak sudah memicu tantrum dahsyat yang berulang, penurunan prestasi belajar yang signifikan, alias depresi dan penarikan diri dari lingkungan sosial, jangan ragu untuk berkonsultasi. Bantuan dari psikolog anak alias tenaga ahli tumbuh kembang anak dapat membantu family memetakan akar masalah serta merancang tindakan yang tepat bagi anak.