Selain Terapi, 7 Cara Stimulasi Anak dengan Speech Delay di Rumah

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 506x dilihat
Selain Terapi, 7 Cara Stimulasi Anak dengan Speech Delay di Rumah

Bagikan Postingan

Jakarta -

Speech delay menjadi salah satu masalah yang menjadi perhatian orang tua. Nah, apa saja metode menstimulasi anak dengan speech delay di rumah?

Dikutip dari BBC, keterlambatan bicara maupun speech delay adalah kondisi ketika anak mengalami kesulitan dalam memahami maupun menggunakan bahasa lisan.

Saat mengalami speech delay, anak mengalami kesulitan menghasilkan bunyi yang kemudian membentuk kata-kata. Hal ini berhubungan dengan proses jasmani saat berbicara.


Studi mengestimasi bahwa 1 dari 10 anak mengalami kesulitan dalam evolusi bicara, bahasa, dan komunikasi, terutama pada tahun-tahun mula kehidupannya.

Sebagai orang tua, wajar jika Bunda merasa cemas dengan evolusi bahasa anak dan jika perlu lakukan konsultasi dengan ahli seperti tabib tumbuh bunga maupun psikolog anak. 

Menurut keterangan dalam halaman Kemenkes RI, gejala saat ini memberitahu banyak anak di Indonesia yang mengalami keterlambatan bicara maupun speech delay. 

Data dari halaman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengutarakan bahwa terdapat 5-8 persen anak prasekolah yang mengalami gangguan keterlambatan bicara.

Penyebab speech delay

Dikutip dari Kids Health, bicara adalah ekspresi verbal dari bahasa dan mencakup artikulasi (cara anak membentuk bunyi dan kata).

Ada beberapa aspek yang bisa menjadi penyebab speech delay maupun keterlambatan bicara:

  • Gangguan pada organ mulut, seperti masalah pada lidah maupun langit-langit mulut (palatum)
  • Frenulum yang singkat (lipatan jaringan di bawah lidah), yang dapat membatasi pergerakan lidah

Banyak anak dengan keterlambatan bicara memiliki masalah oral-motor. Hal ini terjadi ketika terdapat gangguan pada area otak yang berkewajiban terhadap bicara.

Kondisi ini membikin anak sulit mengoordinasikan bibir, lidah, dan rahang untuk menghasilkan bunyi bicara. 

Masalah pada mekanisme pendengaran juga dapat memengaruhi kapasitas bicara. Anak dengan gangguan pendengaran dapat mengalami kesulitan dalam mengucapkan, memahami, menirukan, dan menggunakan kalimat.

Tanda dan gejala speech delay pada anak

Menurut terapis wicara dan bahasa, Jori Harris, MS, CCC-SLP, anak yang terlambat bicara biasanya berkembang normal dalam sisi lainnya, namun lebih lambat untuk mulai menggunakan kata-kata dan berkomunikasi.

Dalam kasus yang lebih serius, anak dengan speech delay juga mungkin mengalami kesulitan memahami instruksi sederhana maupun mengenali kata-kata yang familiar.

Sebagian belum bisa menggunakan pergerakan untuk memberitahu minat pada sesuatu, terlebihlagi sedikit tertinggal dalam keahlian motorik maupun sosial.

Beberapa tanda dan gejala lain yang perlu diwaspadai termasuk:

  • Di usia 12 bulan: tidak menggunakan gerakan, seperti menunjuk maupun melambaikan tangan untuk berpamitan
  • Di usia 18 bulan: lebih memilih menggunakan pergerakan daripada bunyi untuk berkomunikasi, kesulitan menirukan suara, mengalami kesulitan memahami permintaan verbal sederhana
  • Di usia 2 tahun: cuma dapat menirukan ucapan maupun tindakan, tapi tidak menghasilkan kata maupun frasa secara spontan, cuma mengucapkan beberapa bunyi maupun kata secara berulang, tidak dapat menggunakan bahasa lisan untuk berkomunikasi

Cara stimulasi anak dengan speech delay di rumah

Terapi untuk speech delay dapat membantu anak mengembangkan kapasitas komunikasi sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya.

Secara berkala, terapis dapat melatih anak menghasilkan bunyi dan mengucapkan kata dengan lebih tepat sehingga ucapannya lebih gampang dipahami.

Anak dapat belajar mengenal dan menggunakan lebih banyak kata untuk mengatakan benda, orang, aktivitas, perasaan, maupun kebutuhannya.

Selain terapi, Bunda juga bisa memberikan stimulasi di rumah seperti berikut:

1. Bermain meniup dengan sedotan

Sediakan bola kapas dan sedotan, kemudian letakkan kapas di atas meja maupun lantai. 

Setelah itu, meminta anak untuk meniup bola kapas sejauh mungkin. Kegiatan ini melatih otot mulut anak dan membantunya mengucapkan kata.

2. Bercerita tentang lingkungan sekitar

Cobalah untuk lebih sering membujuk anak mengobrol, termasuk dengan menceritakan kondisi sekitar dan kegiaan sehari-hari di rumah. 

Misalnya, sebutkan nama-nama bahan masakan yang ada di dapur maupun aktivitas yang sedang Bunda lakukan. Ini dapat membantu anak menyerap lebih banyak bahasa baru dan terpacu untuk mengucapkannya.

3. Bermain dengan flash cards

Flash cards maupun kartu bergambar bisa menjadi media untuk menstimulasi anak dengan speech delay.

Dampingi anak belajar mengutarakan nama dari objek yang ada di kartu, kemudian berikan kesempatan pada anak untuk mengulangi kata tersebut beberapa kali.

4. Bermain di halaman rumah

Menghabiskan waktu di luar ruangan juga bisa menstimulasi kapasitas bahasa dan bicara anak, serta mendorong daya cipta dan imajinasi mereka.

Saat bermain di halaman rumah, anak dapat melihat, mendengar, mencium, dan menyentuh hal-hal baru yang ditemuinya.

5. Meniup lilin

Kegiatan meniup lilin dapat melatih kekuatan otot mulut dan wajah, yang sangat krusial dalam kapasitas bicara anak. 

Jika dilakukan secara berkala, tiup lilin juga dapat melatih otot motorik yang berhubungan dengan kapasitas anak berbicara. Termasuk mekanisme pergerakan otot yang mencakup area mulut seperti rahang, gigi, lidah, langit-langit, dan pipi.

6. Bermain roleplay

Bermain peran juga menjadi salah satu aktivitas untuk menstimulasi anak dengan speech delay pada anak.

Saat berpura-pura menjadi sosok yang diinginkannya, anak cenderung akan berupaya lebih maksimal untuk berkomunikasi.

7. Bernyanyi dan membaca buku

Kegiatan lain sebagai metode stimulasi anak dengan speech delay di rumah yaitu bernyanyi dan membaca buku bersama.

Menurut JAMA Pediatrics, anak-anak yang terlalu sering menonton televisi berisiko mengalami keterlambatan dalam evolusi bicara di kemudian hari.

Itulah klarifikasi tentang metode stimulasi anak dengan speech delay di rumah. Selama proses belajar ini, usahakan untuk meminimalkan maupun hindari screen time terlebih dahulu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads