Written by Adila Putri Anisya
1 Day Ago
Pernah merasa Spotify seperti tahu persis lagu yang sedang Anda butuhkan? Satu rekomendasi bisa tiba-tiba cocok dengan suasana hati, apalagi memperkenalkan musisi yang akhirnya masuk playlist-mu.
Ternyata, rekomendasi musik bukan tentang algoritma saja, lho. Ada proses kurasi, selera, konteks budaya, hingga cerita di kembali sebuah karya.
Lantas, gimana semua perihal tersebut bekerja berbareng untuk membantu kita menemukan musik baru? Yuk, baca selengkapnya di sini.
Baca juga: 69% Pekerja Indonesia Sudah Pakai AI, IdeaFest 2026 Soroti Peran Manusia
Rekomendasi Musik di Spotify Ternyata Tak Hanya Mengandalkan Algoritma
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi IdeaTalks “Curating Culture: The Human Side of Music Discovery” yang digelar Spotify di IdeaFest 2026, JICC Senayan.
Sesi ini mempertemukan Dimas Ario, Boon Ken Wong, Ferry Dermawan, dan Mentari Novel untuk membahas gimana proses kurasi membantu pendengar menemukan musik baru dan memperluas selera mereka.
Teknologi memang membantu menghadirkan rekomendasi yang sesuai dengan kebiasaan dan selera pendengar. Namun, ada peran manusia yang membikin proses tersebut enggak berakhir pada informasi saja.
Spotify Memadukan Data dengan Selera dan Konteks Budaya
Spotify Music Editors turut mempertimbangkan beragam perihal dalam proses kurasi. Mereka memadukan insight berbasis informasi dengan kepekaan terhadap musik, pemahaman budaya, serta konteks lokal.
Beberapa perihal yang menjadi bagian dari proses tersebut antara lain:
- Selera dan kebiasaan pendengar
- Tren serta konteks budaya
- Perkembangan skena musik lokal
- Cerita dan perjalanan seorang musisi
Boon Ken Wong, Head of Editorial Spotify Southeast Asia, menjelaskan bahwa perpaduan teknologi dan kurasi manusia menjadi bagian krusial dalam menciptakan pengalaman music discovery yang lebih personal.
“Selalu menakjubkan memandang pendengar memandang playlist alias rekomendasi yang kami berikan di Spotify dan berpikir ‘Wah, kok bisa pas banget rasanya’. Di sinilah momen di mana teknologi memungkinkan personalisasi dalam skala besar, tapi intuisi, selera, dan pemahaman terhadap konteks kultural hanya bisa didapatkan dari kurasi manusia. Ketika teknologi dan sentuhan manusia melangkah bersama, pengalaman music discovery jadi jauh lebih bermakna. That’s where the magic happens,”Kata Boon Ken Wong, Head of Editorial, Spotify Southeast Asia.
Tak Hanya “Rekomendasi Lagu dari Spotify” Festival Musik Juga Jadi Tempat untuk Menemukan Musisi Baru
Menurut Ferry Dermawan, Program Director Plainsong Live/Joyland, pagelaran enggak hanya menjadi tempat untuk menyaksikan nama-nama besar. Line-up juga dapat membuka kesempatan bagi penonton untuk mengenal musisi yang sebelumnya belum mereka dengarkan.
“Banyak orang datang ke pagelaran untuk memandang headliners, tapi pagelaran juga bisa jadi ruang untuk menemukan musisi baru. Dalam menentukan line-up, kami juga mengandalkan gut feeling: memandang potensi dari emerging artists maupun musisi yang lebih niche. Di situlah kurasi manusia berperan, membuka ruang untuk menemukan sesuatu yang enggak ditangkap oleh data,” Kata Ferry Dermawan, Program Director Plainsong Live / Joyland.
Karena itu, kurasi pagelaran perlu menyeimbangkan nama yang sudah familiar dengan artis baru yang punya potensi menarik perhatian audiens.
Cerita di Balik Musik Membuat Pendengar Lebih Terhubung
Menemukan sebuah lagu bakal terasa berbeda ketika pendengar juga mengetahui cerita di baliknya. Inilah argumen storytelling menjadi bagian krusial dalam proses music discovery.
Melalui Editorial Watch Feed, Spotify menghadirkan konteks mengenai musik dan perjalanan artis. Fitur seperti Song DNA juga membantu pendengar mengenal lebih jauh para pembuat dan orang-orang yang terlibat dalam proses pembuatan sebuah lagu.
Mentari Novel, Founder & Director Iramanesia sekaligus Inisiator Bimbingan Skena, memandang cerita sebagai langkah untuk membikin pendengar semakin dekat dengan musik dan musisinya.
“Musik bukan hanya tentang lagu, musisi, alias performance-nya saja. Ada banyak cerita di kembali industri musik yang juga menarik untuk diangkat. Dengan mengetahui perspektif dan cerita dari orang-orang di kembali layar, pendengar bisa lebih memahami dan menghargai proses di kembali sebuah karya dan penampilan. Pada akhirnya, perihal ini juga bisa membikin pendengar merasa lebih dekat dengan musisi dan semakin menghargai karya yang mereka hadirkan,”Kata Mentari Novel, Singer-songwriter, Founder & Director Iramanesia, dan Inisiator Bimbingan Skena.
Baca juga: 10 Playlist Lagu Ceria untuk Temani Perjalanan Pulang Mudik
Kadang, menemukan lagu favorit memang bisa dimulai dari satu rekomendasi. Dari situ, kita bisa lanjut kenal musisinya, menemukan cerita di kembali lagunya, sampai akhirnya datang ke konser alias festivalnya. Nah, rupanya ada perpaduan teknologi dan sentuhan manusia di kembali perjalanan tersebut. Gimana menurut kamu, apakah Anda salah satu yang terpapar “rekomendasi lagu” juga?
—
Gabung organisasi Girls Beyond Circle jika Anda mau tahu info menarik lainnya!