Stop Normalisasi Candaan Misoginis, Ini Dampaknya pada Perempuan

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 507x dilihat
Stop Normalisasi Candaan Misoginis, Ini Dampaknya pada Perempuan

Bagikan Postingan

Sebuah brand fashion lokal belakangan ini menjadi sorotan lantaran menjual busana dengan tulisan yang mengandung unsur seksual yang dianggap merendahkan perempuan. Tulisan tersebut sontak menuai kontroversi lantaran dinilai mengandung kata-kata yang kurang layak untuk dijadikan kreasi busana yang dikenakan di ruang publik.

Terlepas dari kontroversi tersebut, kejadian ini kembali membuka pembahasan mengenai candaan seksis dan misoginis yang tetap sering dianggap sebagai sesuatu yang lucu. Padahal, ketika perkataan yang merendahkan wanita terus dibungkus sebagai humor, ada efek-efek yang tidak bisa dianggap sepele.

Memang seperti apa, sih, akibat candaan seksis dan misoginis bagi perempuan? Lalu kenapa perihal ini tetap terus dinormalisasi? Yuk, kita telaah sama-sama!

Fenomena Candaan Misoginis di Dunia Fashion

Saat memasarkan produk, tentu setiap brand mau produknya dilirik sebanyak mungkin. Sayangnya, prinsip ini sering diterapkan berlebihan, salah satunya dengan penggunaan kalimat yang dianggap nyeleneh, vulgar, apalagi kontroversial sebagai bagian dari strategi marketing. Pasalnya, kalimat yang memancing reaksi dipercaya dapat membikin sebuah produk lebih mudah diperbincangkan dan berpotensi mendatangkan perhatian di media sosial.

Strategi tersebut bisa menjadi persoalan ketika lawakyang digunakan justru mengandung unsur seksisme alias misogini. Alih-alih sekadar membikin produk terlihat unik, penggunaan kalimat yang merendahkan wanita dapat ikut membikin perkataan semacam itu terasa wajar.

Melansir Very Well Mind, misogini sendiri merujuk pada sikap alias perilaku yang menunjukkan kebencian, penghinaan, alias prasangka terhadap perempuan. Sementara seksisme berangkaian dengan diskriminasi alias stereotip berasas gender.

Menurut Komnas HAM, seksisme dan misogini sama-sama menempatkan wanita dalam posisi yang lebih rendah dibandingkan pria. Namun, misogini mempunyai akibat yang lebih jauh lantaran mengandung unsur kebencian terhadap perempuan.

Masalahnya, bentuk-bentuk tersebut tidak selalu datang dalam pernyataan yang terang-terangan membenci perempuan. Bisa saja muncul melalui candaan, stereotip, komentar mengenai tubuh, alias kalimat yang dianggap “cuma lucu-lucuan”, termasuk tulisan-tulisan yang tercetak pada produk fashion.

Candaan Seksis-Misoginis Bisa Mengarah pada Pelecehan Verbal

Ilustrasi Candaan Misoginis/Foto: Magnific.com/rawpixel.com

Salah satu argumen candaan seksis perlu diperhatikan adalah lantaran pemisah antara lawakdan pelecehan dapat menjadi semakin kabur ketika ucapan yang merendahkan terus dianggap sebagai lelucon.

Pelecehan seksual verbal dijelaskan sebagai corak kekerasan yang dilakukan melalui ucapan, komentar, alias candaan bernuansa seksual. Bentuknya dapat berupa komentar mengenai tubuh, candaan cabul, catcalling, hingga ucapan seksual yang tidak diinginkan.

Sayangnya, perilaku tersebut tetap sering dianggap sepele lantaran pelakunya dapat berlindung di kembali argumen sedang bercanda. Padahal, ketika ucapan tersebut tidak diinginkan dan membikin orang lain merasa tidak nyaman, perihal itu tetap bisa melewati pemisah personal.

Dilansir dari detikSumut,psikolog Dr Meutia Nauly menjelaskan bahwa lawakseksis merupakan candaan yang merendahkan, menstereotipkan, alias mengobjektifikasi seseorang berasas gender, terutama perempuan.

Menurutnya, lawakseksis tidak lagi bisa dianggap sekadar candaan biasa. Bentuk lawaktersebut dapat menjadi kekerasan verbal seksual sekaligus kekerasan simbolik lantaran dilakukan secara lembut dan sering kali tidak disadari.

Ketika candaan seperti ini terus dibiarkan, pemisah antara berbual dan melecehkan pun menjadi semakin samar. Orang yang merasa tidak nyaman apalagi bisa dianggap terlalu sensitif hanya lantaran memilih untuk menyampaikan keberatannya.

Sepele Tapi Berdampak Besar

Ilustrasi korban

Ilustrasi/Foto: Ilustrasi dari LLLLixi

Bagi orang yang mengucapkannya, sebuah candaan misoginis mungkin terasa sebagai ucapan singkat yang bakal segera dilupakan. Namun, bagi wanita yang menjadi sasaran alias mendengarnya, dampaknya bisa lebih Panjang.

Dr Meutia Nauly menjelaskan bahwa lawakseksis dapat membikin wanita merasa tidak nyaman, tersinggung, apalagi terhina. Dalam jangka panjang, paparan terhadap perilaku semacam ini juga dapat memengaruhi rasa kondusif dan konsep diri perempuan.

Ketika komentar mengenai tubuh, seksualitas, alias keahlian wanita terus dijadikan bahan lelucon, wanita juga dapat semakin sering ditempatkan sebagai objek yang boleh dikomentari alias ditertawakan.

Di sinilah normalisasi menjadi persoalan. Sesuatu yang terus dilihat dan didengar sebagai perihal yang biasa lama-kelamaan dapat kehilangan kesan “tidak pantas”. Candaan yang awalnya membikin orang merasa risih bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah lantaran terlalu sering ditemui. Namun, rasa tidak nyaman yang muncul tetap tidak bisa diabaikan.

Pelecehan seksual verbal juga tidak selalu terjadi melalui percakapan langsung. Di era digital, ucapan bernuansa seksual dan candaan yang merendahkan dapat tersebar melalui media sosial maupun ruang percakapan dan menjangkau lebih banyak orang. Bentuk pelecehan seperti ini sering kali tidak disadari alias apalagi dinormalisasi.

Karena itu, persoalannya bukan hanya mengenai satu tulisan pada sebuah pakaian. Ketika bahasa yang merendahkan wanita terus direproduksi dan dikemas sebagai humor, kita perlu memandang gimana perihal tersebut perlahan memengaruhi langkah masyarakat memandang dan memperlakukan perempuan.

Pentingnya Memilih Humor yang Tepat

Saatnya Melawan Seksisme dan Misoginis/Foto: Unsplash.com/Markus Spiske

Hal yang perlu ditekankan, bukan berfaedah semua lawakkudu dilarang alias setiap lelucon kudu dianggap sebagai pelecehan. Humor tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan bisa menjadi langkah untuk menghibur maupun mengekspresikan diri. Namun, kita kudu lebih kritis terhadap jenis lawakyang digunakan, terutama jika lelucon tersebut menjadikan tubuh, seksualitas, gender, alias martabat seseorang sebagai bahan candaan.

Bercanda bukan berfaedah bebas mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kita tetap bisa menikmati lawaktanpa kudu menjadikan wanita sebagai objek penghinaan. Sebab, tidak semua perihal yang dianggap kocak kudu dinormalisasi, apalagi jika di baliknya ada pihak lain yang merasa direndahkan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads