Studi Ungkap Pengalaman Nyata Ibu Melahirkan dan Menyusui Masih Kerap Terabaikan

Aug 05, 2026 08:55 AM - 5 hari yang lalu 303

Jakarta -

Pengalaman saat hamil, melahirkan, hingga menyusui merupakan pengalaman nano-nano para Bunda di luar sana. Sayangnya, apa yang mereka alami sering kali  tak mendapat support positif dari circle terdekat.

Kesadaran orang tua untuk memberikan ASI pada bayinya seiring waktu semakin tinggi. Apalagi, kualitas ASI dapat membantu memberikan nutrisi terbaik pada bayi. 

Namun, terlepas dari apakah para ibu memilih untuk menyusui alias tidak menyusui, realitasnya banyak dari wanita yang mempunyai pengalaman tak mengenakkan mengenai sikap mereka terhadap menyusui. Ada yang melaporkan menerima pesan yang menghakimi, dan sebagainya.


Mengutip dari laman The Conversation, di bagian kedokteran reproduksi, sebenarnya terdapat kesadaran tinggi tentang kualitas ASI, parameter neonatal, dan profil risiko. Sayangnya, 20 persen wanita di provinsi Quebec menggambarkan adanya tekanan koersif, tindakan non konsensual, alias rasa sakit yang diabaikan saat menyusui alias melahirkan.

Sementara di satu sisi, master jarang mempertimbangkan pemahaman dari sisi pasien sendiri. Terutama dalam kaitannya tentang pengalaman mereka, kekhawatiran mereka, alias keahlian mereka untuk mengambil keputusan tentang perawatan mereka. Untuk itu, sudah saatnya kedokteran memperlakukan pengalaman hidup para ibu sebagai bukti berbobot berbareng pertimbangan ilmiah lainnya.

Dalam sebuah studi di Université du Quebec a Montreal yang meneliti pengalaman perempuan, temuan yang ada menunjukkan bahwa praktik medis dalam perawatan perinatal, yang bermaksud memastikan keselamatan ibu dan anak, terkadang merugikan otonomi pengambilan keputusan dan kesehatan mental mereka.

Adanya dua pengetahuan berbeda

Dalam kesehatan reproduksi, keputusan medis berjuntai pada beragam corak pengetahuan ilmiah, meskipun beberapa di antaranya lebih banyak perhatian daripada yang lain. 

Sementara dalam penelitian ini, sebagian besar berfokus pada apa yang diharapkan untuk didukung, dilindungi, alias dioptimalkan oleh tubuh perempuan. Misalnya mengenai perkembangan janin, kapabilitas reproduksi, dan pengelolaan akibat selama kehamilan dan persalinan.

Mengingat bidang-bidang tersebut telah menerima pendanaan penelitian dan perhatian klinis yang luas, bagian ini menjadi dasar bagi sebagian besar rekomendasi medis.

Namun corak pengetahuan lain berfokus pada wanita itu sendiri diantaranya meliputi kesehatan mental mereka, keahlian mereka membikin keputusan, dan pengalaman emosional mereka. Penelitian di bidang-bidang ini memang ada, tetapi kurang luas, jarang digunakan dalam pengambilan keputusan medis, dan jarang dianggap sebagai prioritas kesehatan masyarakat.

Dampaknya, meski ada banyak informasi tentang kualitas ASI, parameter kesehatan bayi baru lahir, dan akibat medis, pemahaman tentang gimana para wanita mengalami dan menavigasi rekomendasi ini jauh lebih sedikit.

Masalah muncul ketika kedua corak pengetahuan ini saling bertentangan. Dalam situasi seperti itu, pengetahuan yang memandang tubuh wanita sebagai sarana untuk tujuan lain condong lebih dominan. Pengetahuan yang berfokus pada pengalaman hidup wanita dan otonomi pengambilan keputusan mereka ditempatkan di latar belakang.

Kebebasan memilih bagi para perempuan

Dalam sebuah studi Quebec tahun 2024 terhadap 944 perempuan, tim studi berupaya memahami gimana kebijakan insentif menyusui berinteraksi dengan pilihan para perempuan. Hasilnya menunjukkan bahwa, terlepas dari pilihan menyusui dan sikap wanita terhadap menyusui, 20 persen responden melaporkan menerima pesan yang menghakimi, memaksa, mengganggu, alias tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Beberapa responden survei menggambarkan kurangnya perhatian total terhadap kesehatan mental mereka. "Pesan tersebut tidak pernah mempertimbangkan kebutuhan ibu, baik bentuk maupun psikologis. Sementara yang lain menggambarkan tindakan tanpa persetujuan, tekanan berulang untuk terus menyusui meskipun merasakan sakit, alias kurangnya info tentang alternatif."

Dalam studi tersebut juga menunjukkan bahwa adanya temuan kesulitan yang dialami perempuan, kemunculan rasa sakit, stres, kecemasan perasaan gagal, sering diremehkan alias dikaitkan dengan kurangnya usaha. Dan, ketika wanita memilih untuk tidak menyusui secara eksklusif, sejumlah besar melaporkan tidak menerima support alias menghadapi penilaian negatif dari staf medis.

Pengalaman terabaikan wanita di sela-sela persalinan

Penelitian tentang kekerasan obstetri, kekerasan alias perlakuan jelek selama persalinan dan proses persalinan di mana menawarkan jalan lain yang sangat mencerahkan untuk mengawasi ketegangan antara beragam corak pengetahuan. 

Dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan di Quebec terhadap 271 wanita yang telah melahirkan dalam dua tahun sebelumnya, tim mendokumentasikan corak kekerasan ini, serta akibat emosionalnya.

Tiga jenis pengalaman utama menonjol yang ada adalah hubungan yang tidak mendukung dengan tenaga kesehatan, kurangnya persetujuan untuk prosedur medis tertentu, dan kegagalan organisasi dalam penyampaian layanan. Secara lebih luas, 78 persen peserta melaporkan pernah mengalami setidaknya satu kejadian tidak menyenangkan selama melahirkan, yang sering dikaitkan dengan gimana langkah perawatan diberikan.

Namun, praktik-praktik ini jarang digambarkan sebagai kekerasan. Sebaliknya, perihal tersebut adalah bagian dari budaya protokol standar dan keselamatan lantaran dapat mempercepat proses persalinan, mencegah komplikasi, dan mengoptimalkan hasil perinatal. Dengan kata lain, mereka didasarkan pada kumpulan pengetahuan biomedis yang berpusat pada pengelolaan akibat obstetri dan perlindungan janin.

Ketika memandang dampaknya dari perspektif perempuan, kemudian bakal muncul pemahaman yang berbeda. Para peserta menggambarkan emosi tidak berdaya, penghinaan, dan kehilangan kepemilikan atas pengalaman kelahiran mereka, dengan beberapa apalagi mengatakan mereka merasa seperti penelitian laboratorium.

Rasa sakit diremehkan, prosedur dilakukan tanpa persetujuan, alias rencana persalinan diabaikan, menunjukkan pengabaian yang berulang terhadap otonomi tubuh wanita sendiri.

Wawasan dari pengalaman hidup

Dari studi yang ada menunjukkan bahwa orang yang tubuhnya diperlakukan sebagai objek tidak kekurangan info alias keahlian untuk berpikir kritis tentang pengalaman mereka. Yang tetap kurang adalah pengakuan bakal nilai pengetahuan mereka.

Ketika wawasan yang diambil dari pengalaman hidup, kesehatan mental, alias keadaan pribadi bertentangan dengan prioritas biomedis yang berfokus pada kegunaan tubuh seperti mengandung anak, melahirkan, menyusui, alias menjaga kesuburan Itulah kenapa krusial untuk menyadari bahwa bukti ilmiah tidak pernah netral. Adanya bukti diproduksi, dipilih, dan diinterpretasikan dalam seperangkat nilai dan dugaan tertentu.

Ketika tubuh dilihat terutama melalui kegunaan reproduksinya, pengetahuan yang mengenai dengan fungsi-fungsi tersebut condong mendominasi pengambilan keputusan medis.

Meragukan jenjang ini berfaedah memperluas kerangka kerja yang digunakan untuk membikin keputusan tersebut. Dengan begitu, artinya kondisi ini mengharuskan mempertimbangkan praktik medis tidak hanya untuk hasil biomedisnya, tetapi juga untuk dampaknya terhadap pengalaman hidup pasien, kesehatan mental, dan keahlian membikin pilihan yang tepat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya