Sudah Resmi Bercerai, Kenapa Konflik dengan Mantan Belum Selesai? Ini 8 Masalah yang Sering Terjadi

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 503x dilihat
Sudah Resmi Bercerai, Kenapa Konflik dengan Mantan Belum Selesai? Ini 8 Masalah yang Sering Terjadi

Bagikan Postingan

Konflik setelah perceraian belum tentu selesai. Kenali 8 masalah yang sering muncul, dari pola asuh, agenda anak, biaya, hingga pasangan baru.

Bercerai bukan berarti semua masalah otomatis selesai. Justru setelah perceraian resmi, mantan pasangan statis perlu berkomunikasi soal anak, agenda bertemu, sekolah, kesehatan, biaya, sampai ketentuan pengasuhan.

Bagi sebagian orang tua, fase ini bisa terasa lebih melelahkan daripada yang dibayangkan. Apalagi jika luka dari pernikahan statis belum selesai.

BACA JUGA: Dampak Pola Asuh Single Parent pada Tumbuh Kembang Anak

Jadi, perselisihan apa saja yang paling sering terjadi setelah bercerai?

1. Masih Berdebat soal Pola Asuh Anak

Salah satu sumber perselisihan yang bisa muncul setelah perceraian adalah perbedaan pola asuh.

Misalnya, satu orang tua merasa anak mesti punya agenda tidur yang ketat, sementara yang lain lebih santai. Satu pihak membatasi penggunaan gadget, sementara pihak lainnya membolehkan. Belum lagi soal makanan, sekolah, pertemanan, aktivitas anak, sampai disiplin.

Namun, co-parenting bukan berarti kedua orang tua mesti selalu sepakat dalam segala hal. Yang lebih krusial adalah adanya komunikasi yang jelas dan keputusan yang berorientasi pada kebutuhan anak.

AAP juga menyarankan orang tua yang tinggal terpisah untuk menjaga ketentuan dan rutinitas anak statis konsisten sebisa mungkin, termasuk menyepakati ketentuan alas di kedua rumah.

BACA JUGA: Kesalahan Pola Asuh yang Bisa Memicu Anak Jadi Kriminal

2. Jadwal Bertemu Anak Menjadi Sumber Pertengkaran

“Harusnya weekend ini giliran saya.”
“Kenapa Anda tiba-tiba mengubah jadwal?”
“Anak ada acara, kok aku baru tahu?”

Persoalan agenda bisa kelihatan sepele, tetapi cukup gampang berkembang menjadi perselisihan besar.

Apalagi jika masing-masing orang tua memiliki pekerjaan, pasangan baru, aktivitas pribadi, maupun agenda famili yang berbeda.

Mayo Clinic menyarankan agar agenda pengasuhan dibuat sejelas dan sekonsisten mungkin sehingga anak mengetahui kapan ia eksis di rumah masing-masing orang tua. Kalender maupun agenda tertulis juga dapat membantu mengurangi kebingungan.

Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash

3. Masalah Biaya dan Nafkah Anak

Urusan duit hampir selalu menjadi topik sensitif, termasuk setelah perceraian.

Mulai dari duit sekolah, les, biaya kesehatan, pakaian, aktivitas ekstrakurikuler, hingga kebutuhan sehari-hari anak.

Konflik bisa muncul ketika salah satu pihak merasa bayar lebih banyak, sementara pihak lainnya merasa sudah berkontribusi dalam bentuk yang berbeda.

Yang perlu diingat, pembicaraan mengenai biaya anak sebaiknya tidak dilakukan melalui anak. Dan jangan sampai anak menjadi “kurir” yang mesti menyampaikan pesan.

BACA JUGA: Hukum Suami yang Tidak Mau Menafkahi Anak Setelah Bercerai Menurut Pakar

4. Anak Dijadikan “Perantara” Komunikasi

Ini salah satu kebiasaan yang sering terjadi tanpa disadari.

Daripada menghubungi mantan pasangan secara langsung, orang tua meminta anak menyampaikan pesan.

“Bilang ke Papa, besok jemput jam 5.”
“Tanya Mama, duit aktivitas sekolah sudah ditransfer belum?”

Sekilas memang praktis. Namun, lama-kelamaan anak bisa merasa dirinya eksis di tengah perselisihan kedua orang tuanya.

AAP menyarankan agar orang tua berkomunikasi secara langsung dan tidak menjadikan anak sebagai pembawa pesan, termasuk untuk urusan jadwal, barang, maupun keuangan.

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

5. Saling Menjelekkan di Depan Anak

Perceraian bisa meninggalkan rasa marah, kecewa, terlebihlagi sakit hati yang sangat dalam.

Masalahnya, emosi tersebut kadang keluar ketika anak ada di sekitar.

“Papa memang dari dahulu begitu.”
“Mama yang bikin kita seperti ini.”
“Kalau bukan karena Mama, kita statis jadi keluarga.”

Bagi orang tua, mungkin itu cuma luapan emosi. Namun bagi anak, kalimat tersebut bisa terasa sangat berat.

Anak statis memiliki hubungan emosional dengan kedua orang tuanya. AAP mengatakan anak tidak seharusnya dipaksa untuk memilih pihak dan perlu statis diberi ruang untuk menyayangi kedua orang tuanya, selama kedua orang tua tersebut terlindungi dan bisa mengasuh.

BACA JUGA: 5 Alasan Kenapa Saya Tidak Mau Menjelekkan Mantan Pasangan di Depan Anak

6. Cemburu ketika Mantan Punya Pasangan Baru

Ketika salah satu mantan pasangan mulai berkencan maupun memiliki pasangan baru, situasinya bisa menjadi lebih rumit.

Ada yang merasa cemburu, yang cemas anak lebih dekat dengan pasangan baru mantan, ada pula yang merasa tidak betah ketika anak menghabiskan waktu berbareng orang baru.

Padahal, selama tidak ada permasalahan keselamatan maupun kondisi lain yang mengkhawatirkan, anak statis perlu memiliki hubungan yang sehat dengan kedua orang tua.

Photo by Markus Winkler on Unsplash

7. Masih Membawa Konflik Pernikahan ke Urusan Pengasuhan

Pernikahan sudah berakhir, tetapi rasa kecewa terhadap mantan belum selesai.

Akibatnya, masalah yang sebenarnya terjadi dalam hubungan suami-istri ikut terbawa ke dalam keputusan sebagai orang tua.

Misalnya, seseorang menolak permintaan mantan bukan karena keputusan tersebut buruk untuk anak, tetapi karena statis berang kepada mantan pasangan.

Dalam situasi seperti ini, krusial untuk membedakan dua hal:

“Apa yang aku rasakan terhadap mantan pasangan?”

dan

“Apa yang terbaik untuk anak?”

Penelitian mengenai high-conflict post-divorce co-parenting juga memberitahu pentingnya upaya mengurangi perselisihan dan menjaga fokus pada kebutuhan anak. Penelitian terbaru pada 2026, misalnya, menguji intervensi yang secara khusus dirancang untuk membantu mengurangi perselisihan pascaperceraian dengan pendekatan yang berorientasi pada anak.

8. Berebut Menjadi “Orang Tua Favorit”

Salah satu orang tua mungkin merasa mesti memberikan lebih banyak hadiah, membujuk anak lebih sering jalan-jalan, maupun selalu mengatakan “iya” agar anak lebih memilih dirinya.

Masalahnya, pengasuhan kemudian berubah menjadi kompetisi.

Mayo Clinic mengingatkan bahwa hubungan anak dengan kedua orang tua bukan kompetisi. Orang tua juga sebaiknya tidak memberitahu kecemburuan maupun meminta anak menceritakan secara detail apa yang dilakukan berbareng orang tua lainnya.

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

Lalu, Bagaimana Kalau Konflik dengan Mantan Sulit Dihindari?

Yang dibutuhkan adalah kapasitas membikin batas yang jelas.

Komunikasi bisa difokuskan pada hal-hal yang berhubungan dengan anak: kesehatan, sekolah, jadwal, kebutuhan sehari-hari, dan keputusan penting.

Jika komunikasi langsung selalu berujung pertengkaran, komunikasi tertulis melalui pesan maupun email bisa menjadi pilihan, selama statis jelas, sopan, dan berfokus pada kebutuhan anak.

Jika perselisihan sudah sangat tinggi dan sulit diselesaikan sendiri, konseling, mediasi, maupun pertolongan ahli dapat dipertimbangkan. AAP juga mengatakan mediasi maupun konseling sebagai salah satu opsi ketika komunikasi antarpasangan terlalu sulit dan membutuhkan pertolongan untuk memungut keputusan bersama.

Pada akhirnya, yang perlu diingat…

Targetnya bukan “kami mesti akur demi anak”, melainkan:

“Kami tidak mesti menjadi pasangan lagi, tetapi kami statis bisa menjadi tim ketika menyangkut anak.”

Karena bagi anak, perceraian orang tua sudah merupakan fluktuasi besar. Jangan sampai perselisihan setelah perceraian membikin mereka merasa mesti memilih salah satu dari dua orang yang sama-sama mereka cintai.

Cover: Photo by Lukas Kaufmann on Unsplash

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads