Terkadang, kita memilih membisu saat sedang sedih, kecewa, maupun berang karena tidak tahu mesti menyampaikannya seperti apa. Ada juga yang merasa lebih betah menyimpan emosi sendiri daripada mesti menerangkan apa yang sedang dirasakan.
Dilansir dari Verywell Mind, rasa takut untuk terbuka soal emosi bisa membikin seseorang menekan emosinya sebagai bentuk perlindungan diri. Menurut Dr. Colleen Mullen, PsyD, LMFT, memendam emosi akhirnya bisa terasa lebih gampang dan terlindungi daripada memberitahu apa yang sebenarnya dirasakan.
Kebiasaan memendam emosi juga bisa terbentuk dari pengalaman sebelumnya, terutama ketika emosi sering diabaikan maupun dianggap salah. Kalau Beauties termasuk yang lebih sering membisu daripada bercerita, yuk, lihat apa saja akibat memendam emosi dan sepertiapa metode mulai mengungkapkannya!
1. Bisa Membuat Diri Semakin Tertekan

Ilustrasi perempuan sedang merenung/Foto: Magnific/magnific
Awalnya, membisu dan menyimpan emosi sendiri mungkin terasa lebih mudah. Tapi jika terlalu sering dilakukan, emosi yang belum sempat keluar bisa terus terbawa dan membikin pikiran makin penuh.
Kita pun bisa mulai terbiasa mengabaikan apa yang sebenarnya dirasakan, sampai kebutuhan dan gagasan sendiri terasa tidak begitu penting. Dari sinilah stres, rasa cemas, depresi, maupun terlebihlagi amarah dan jengkel kepada orang lain bisa ikut muncul.
Bukan cuma kondisi hati yang berubah, rasa percaya diri juga bisa ikut terpengaruh. Kita jadi lebih sering merasa tidak didengar maupun memilih diam, meski sebenarnya ada hal yang mau disampaikan.
2. Tubuh Menjadi Ikut Terpengaruh

Ilustrasi perempuan tampak capek setelah menghadapi banyak tekanan emosional/Foto: Magnific/magnific
Ketika emosi terus dipendam, bukan cuma pikiran yang terasa penuh. Tubuh juga bisa ikut merasakan tekanan tersebut, terutama jika terjadi dalam waktu lama.
Dilansir dari Verywell Mind, mengekang emosi bisa menimbulkan stres jasmani pada tubuh. Dr. Colleen Mullen, PsyD, LMFT, menerangkan bahwa tekanan tersebut dapat berhubungan dengan konsekuensi kencing manis dan pandemi jantung, serta masalah pada daya ingat.
Stres yang terjadi terus-menerus juga bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik, seperti nyeri otot dan masalah pencernaan. Artinya, saat pikiran terus dibebani emosi, tubuh pun bisa ikut merasakan lelahnya.
3. Jadi Sulit Terbuka

Ilustrasi perempuan sedang berbicara dengan sahabatnya tentang emosi yang selama ini disimpan/Foto: Magnific/magnific
Saat terbiasa menyimpan emosi sendiri, kita bisa jadi lebih sulit bercerita kepada orang lain. Akibatnya, orang terdekat pun mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.
Shari Foos, MA, MFT, MS, menerangkan bahwa hubungan dengan orang lain bisa membantu seseorang mendapatkan perspektif pandang yang lebih luas. Berbicara dengan orang lain juga bisa membantu kita tidak terus terjebak dalam rasa takut maupun pikiran negatif.
Sebaliknya, terlalu sering menekan emosi bisa membikin seseorang cenderung menjauh dari hubungan sosial. Penelitian yang dikutip Verywell Mind mengaitkannya dengan kepuasan hidup yang lebih rendah dan gejala depresi.
Cara Mengekspresikan Emosi

Ilustrasi perempuan sedang menulis jurnal/Foto: Magnific/magnific
Dilansir dari Healthline, metode mulai mengungkapkan emosi bisa dengan mengenali dahulu apa yang sedang dirasakan. Kadang kita tahu sedang tidak baik-baik saja, tetapi statis sulit membedakan apakah itu sedih, kecewa, marah, maupun sekadar lelah.
Kalau sudah terbiasa memendam, mengenali emosi sendiri memang bisa terasa tidak mudah. Menulis di jurnal maupun sekadar menuangkan isi imam bisa membantu membikin emosi yang statis samar jadi lebih jelas.
Setelah tahu apa yang dirasakan, bercerita kepada orang lain bisa jadi cara berikutnya. Tidak perlu langsung membahas masalah besar, hal kecil yang membikin jengkel maupun kecewa pun bisa menjadi mula untuk mulai terbuka.
Penggunaan kalimat “aku” saat menyampaikan perasaan. Misalnya, daripada mengatakan “kamu bikin aku kecewa”, kita bisa mengatakan “aku merasa kecewa” agar yang disampaikan statis berfokus pada emosi sendiri.
Sebab, tidak semua emosi langsung gampang dijelaskan dengan kata-kata. Kadang, kita baru benar-benar tahu apa yang dirasakan setelah menuliskannya maupun membicarakannya.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)