Surah Abasa adalah surah Makiyah, di dalamnya terdapat beragam berita berkenaan dengan iktikad dan risalah Nabi. Pada surah ini juga, Allah menceritakan tentang bukti kebesaran dan tauhid rububiyah berupa pembuatan manusia, tumbuhan, pepohonan, serta beragam makanan. Kemudian surah ini ditutup dengan kengerian yang terjadi di hari kiamat.
Sebab turunnya awal surah ini adalah pada suatu hari, Rasulullah sedang mendakwahi sebagian pembesar suku Quraisy agar masuk Islam. Nabi berambisi bahwa dengan masuk Islamnya mereka, maka pengikutnya juga bakal masuk Islam. Ibnu Juzay beranggapan bahwa pada saat itu, yang Nabi dakwahi adalah Walid bin Mughiroh, alias Utbah bin Rabiah, alias Ummayah bin Khalaf. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)
Pada saat beliau berceramah tersebut, datanglah sahabat berjulukan Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan. Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku pengetahuan yang telah Allah ajarkan kepada engkau.” Perkataan ini diulang oleh Abdullah bin Ummi Maktum dalam keadaan beliau tidak tahu apa yang Nabi sedang kerjakan, sehingga Nabi merasa kurang berkenan, bermuka masam, serta beralih darinya. Kemudian turunlah awal surah Abasa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ
“Dia (Nabi Muhammad) berparas masam dan berpaling, lantaran seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.” (QS. Abasa: 1-2)
Nabi bermuka masam, ialah “cemberut” serta beralih dari Abdulah bin Ummi Maktum lantaran merasa kurang nyaman. Hal ini lantaran Abdullah bin Ummi Maktum datang meminta nasihat berangkaian urusan Islam, padahal Nabi sedang sibuk mendakwahi pembesar Quraisy.
Allah menggunakan corak orang ketiga ialah “dia” ketika mengisyaratkan pada Nabi, sebagai bentuk teguran yang sangat lembut dan lembut untuk Nabi. Dalam bahasa Arab, perubahan kata tukar orang kedua (“kamu”) menuju kata tukar orang ketiga (“dia”) disebut dengan iltifat, yang salah satu tujuannya adalah melembutkan kalimat.
Pendapat yang menyebut bahwa teguran ini adalah teguran yang lembut adalah pendapat yang dikemukakan oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Athiyah dan Ibnu Juzay. Akan tetapi, ada pendapat bersebrangan yang disampaikan oleh Zamakhsyari, bahwa pengingkaran dalam corak kata tukar orang ketiga menunjukkan adanya pengingkaran yang lebih keras atas suatu kesalahan. (At-Tashil li Ulumit Tanzil, 2: 452)
Setelah Nabi mendapatkan teguran lantaran Abdullah bin Ummi Maktum ini, Nabi tidak lantas menjadi antipati dan acuh terhadapnya. Namun sebaliknya, Nabi menunjukkan rasa terimakasih yang besar kepadanya, serta mengatakan ketika dia datang. “Marhaban, selamat datang orang yang dengannya Allah menegurku dengan lembut.” Setelah itu, Nabi menggelar selendang beliau untuknya.
Nabi juga memberikan kemuliaan bagi Ibnu Ummi Maktum dengan memberikan tugas agung kepada beliau, ialah menjadi muazin salat Subuh di masjid Nabawi. Lebih jauh lagi, Nabi juga meminta Abdullah bin Ummi Maktum untuk menjadi pengganti Nabi ketika beliau sedang berjihad sebanyak dua kali, salah satunya ketika perang dengan Bani Nazhir pada tahun 4 Hijriah.
Ini adalah suatu contoh teladan patriotik, sikap kesatria, dan lapangnya hati Nabi dalam menerima teguran dari Allah. Suatu sikap yang saat ini sudah mulai hilang, lantaran kita jumpai seseorang, apalagi yang “berada di atas”, sangat antipati dalam menerima kritik dan masukan, apalagi melakukan persekusi untuk menjatuhkan kedudukan musuh mereka.
Penyebutan kata “buta” untuk menyebut Ibnu Ummi Maktum juga mempunyai rahasia keelokan bahasa Al-Qur’an, ialah adanya isyarat untuk memberikan uzur kepada beliau lantaran tidak mengetahui apa yang sedang Nabi kerjakan lantaran butanya. Karena seandainya Ibnu Ummi Maktum tidak buta, pasti tidak bakal menyela pembicaraan Nabi. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 430)
Ayat ini juga menjadi dalil bolehnya penyebutan “buta” alias karakter unik lain yang dimiliki oleh seseorang, dengan syarat memang ada faedah dari penyebutan tersebut. Hal ini lumrah digunakan oleh mahir sabda ketika menyebut rawi sabda dengan karakter mereka seperti Sulaiman Al-A’masy yang rabun penglihatannya alias Abdurrahman Al-A’raj yang pincang kakinya. (Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 8: 431)
Pada masa itu, penggunaan sifat bentuk (seperti pincang, buta, alias rabun) sebagai julukan merupakan perihal yang sangat umum digunakan oleh para ustadz sabda untuk membedakan identitas seorang perawi agar tidak tertukar dengan orang lain yang mempunyai nama serupa. Julukan ini murni berfaedah sebagai identifikasi pengenal, bukan untuk menghina alias merendahkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ , اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
“Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia mau menyucikan dirinya (dari dosa), alias dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu berfaedah baginya?” (QS. Abasa: 3-4)
Allah melanjutkan teguran kepada Nabi, wahai Rasulullah, siapakah yang membuatmu tahu serta memberitahumu, barangkali Abdullah bin Ummi Maktum yang engkau bermuka masam di hadapannya, bakal menyucikan diri dari dosa-dosanya melalui pengetahuan yang dia terima darimu.
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa orang buta yang datang dengan tulus tersebut justru jauh lebih siap menerima kebenaran dan menyucikan jiwanya daripada para pembesar Quraisy yang sombong. Menunjukkan bahwa kemuliaan sesungguhnya didapatkan dari sucinya jiwa dengan pengetahuan dan amal, bukan dengan kekayaan yang melalaikan.
Pada ayat ini, Allah melakukan iltifat kembali, mengembalikan kata tukar orang ketiga menjadi kata tukar orang kedua dengan menyebut Nabi secara langsung, dengan tujuan agar Nabi memberikan perhatian penuh kepada Ibnu Ummi Maktum.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ , فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ , وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ
“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy), engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya. Padahal, tidak ada (cela) atasmu jika dia tidak menyucikan diri (beriman).” (QS. Abasa: 5-7)
Allah melanjutkan tegurannya kepada Rasulullah. Orang-orang musyrik Quraisy yang merasa tidak memerlukan Allah dan iman, lantaran mereka telah merasa kaya dan cukup dengan kekayaan kekayaan benda, engkau menghadapkan dirimu pada mereka, mendengarkan perkataan, serta memberi perhatian kepada mereka, agar dirimu dapat menyampaikan dakwah kepada mereka.
Padahal engkau, wahai Rasulullah, hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan risalah, adapun hasil akhir apakah diterima alias tidak, maka itu semua ada di tangan Allah, dan bukan di tanganmu. Maka tidak ada dosa bagimu, jika engkau telah berceramah dengan sekuat tenaga dan penuh hikmah, bakal tetapi mereka tetap tidak mau beriman.
Di samping itu, ayat ini juga dalil tentang perhatian Nabi terhadap seluruh umat dan kemauan kuat beliau agar semua orang masuk Islam, apalagi termasuk orang yang beralih dan merasa tidak butuh, sebagai corak kasih sayang yang ada pada diri Nabi untuk menyelamatkan mereka di bumi dan di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ, وَهُوَ يَخْشٰىۙ , فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ
“Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan dia takut (kepada Allah), malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.” (QS. Abasa: 8–10)
Ayat ini tetap sambungan teguran dan pengajaran dari Allah kepada Nabi, ialah adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas demi meraih petunjuk, mendambakan pengarahan menuju kebaikan, serta mengharapkan nasihat-nasihat Islam, sementara hatinya dipenuhi rasa takut kepada Allah, justru engkau beralih dan mengabaikannya (pada kasus Ibnu Ummi Maktum).
Oleh lantaran itu, Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah agar tidak mengkhususkan dakwah kepada orang tertentu saja. Sebaliknya, beliau wajib menyamakan kedudukan manusia dalam penyampaian dakwah kepada mereka, baik antara orang terpandang alias orang yang lemah, yang kaya alias yang miskin, baik kepada pembesar manusia alias orang biasa, laki-laki alias perempuan, hingga anak-anak dan orang dewasa.
Sebagian ulama, seperti As-Suyuthi, menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dorongan kuat untuk menyambut kaum yang kekurangan dengan penuh kehangatan dan memberikan perhatian tulus kepada mereka di majelis pengetahuan dan pada kehidupan sehari-hari. Bahkan diriwayatkan bahwa kedudukan orang-orang yang kekurangan dalam majelis Sufyan Ats-Tsauri seperti kedudukan para pemimpin yang berkuasa dihormati.
[Bersambung]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
English (US) ·
Indonesian (ID) ·