Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar alias “sesuatu yang terbelah” lantaran dibuka dengan ayat pertama yang menyebut langit yang terbelah pada hari kiamat. Surah ini adalah surah nomor 82 dalam urutan mushaf. Adapun dalam urutan turunnya, maka surah ini turun sebelum surah An-Naziat dan setelah surah Al-Insyiqaq.
Surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang kejadian-kejadian luar biasa nan mengerikan yang terjadi di langit dan bumi pada hari kiamat. Setelah itu, Allah menjelaskan tentang kedurhakaan dan kekufuran manusia kepada nikmat yang telah Allah anugerahkan. Kemudian Allah jelaskan tentang karena kenapa manusia menentang Rabb mereka, ialah lantaran mengingkari adanya hari pembalasan.
Allah juga menjelaskan bahwa catatan kebaikan manusia senantiasa terjaga oleh malaikat sampai pada hari dilaksanakannya persidangan, ialah hari kiamat. Kemudian Allah berbincang tentang manusia yang terbagi menjadi dua golongan pada hari kiamat, ialah yang selamat dan yang binasa. Terakhir, Allah menutup surah ini dengan peringatan atas datangnya kiamat, serta manusia bakal dihisab satu persatu, sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala.
Di antara keistimewaan surah Al-Infithar adalah Nabi pernah menjelaskan bahwa barangsiapa mau memandang gambaran hariakhir seakan-akan perihal itu terjadi di depan matanya, maka bacalah surah ini. Keutamaan yang lain adalah surah ini menjadi salah satu surah yang Nabi ajarkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal untuk dibaca saat salat Isya jika mau memanjangkan berdirinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ
“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infiṭār: 1)
Allah memulai surah ini dengan menjelaskan apa yang terjadi pada langit ketika hari hariakhir tiba. Pada hari itu, hari hariakhir yang hanya Allah yang tahu kapan terjadinya, langit bakal hancur dan terbelah. Terbelahnya langit ini agar para malaikat bisa turun menuju bumi, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 25,
وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاۤءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ تَنْزِيْلًا
“(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ
“Apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infiṭār: 2)
Pada hari kiamat, bintang-bintang yang berada di langit jatuh berserakan, saling berjatuhan, satu saling menabrak yang lain, berhamburan, semua lantaran Allah telah mencabut garis edarnya yang stabil selama jutaan tahun. Mereka lepas dari garis edarnya kemudian berjatuhan.
Pada ayat ini, terdapat style bahasa isti’arah makniyyah (استعارة مكنية), ialah corak metafora yang tersirat. Di sini, lafal al-kawakib alias bintang-bintang diserupakan dengan kalung permata yang untaian benangnya putus sehingga rontok tercerai-berai dan berceceran ke beragam arah. Akan tetapi, obyek penyerupaan -yaitu kalung mutiara- dihapus dari redaksi kalimat, hanya disisakan qarinah alias suatu sifat intrinsik yang hanya dapat melekat pada kalung mutiara, ialah انْتَثَرَتْۙ alias berserakan.
Maka, bintang-bintang yang kita lihat berada dengan sangat rapi pada garis edar dan gugusannya, bakal bertumbangan tercerai-berai kemudian berserakan, seperti berserakannya kalung mutiara yang ditarik kemudian putuslah benangnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ
“Apabila lautan diluapkan.” (QS. Al-Infiṭār: 3)
Kejadian mengerikan juga terjadi di bumi ketika hariakhir datang, di antaranya adalah lautan diluapkan. Artinya, satu laut digabungkan dengan laut yang lain, serta air tawar digabungkan dengan air asin, sehingga melebur dan jadilah hanya ada satu lautan besar. Setelah lautan bersatu, kemudian dinyalakan api dari dalam, sehingga berkobar, meluap-luap, mendidih, seakan hamparan api yang menghanguskan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ
“Dan andaikan kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infiṭār: 4)
Pada hari itu, Allah membalikkan tanah yang ada di bumi, bagian atasnya menjadi bagian bawah, bagian bawahnya menjadi bagian atas. Setelah itu, dikeluarkanlah jenazah dari kubur mereka, lampau dimasukkan kembali ruh pada jasadnya agar bisa dilakukan pertanggungjawaban amal.
Kemudian setelah disebutkan empat perihal yang terjadi di hari hariakhir dengan corak syarat atau dengan redaksi “apabila terjadi perihal ini dan perihal itu”, maka setelah ini Allah memberikan keterangan tentang apa yang bakal terjadi setelahnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ
“Setiap jiwa bakal mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).” (QS. Al-Infiṭār: 5)
Pada hari itu manusia tesadar, teringat, dan mengakui segala perihal yang telah dilakukannya di dunia. Dirinya ingat perbuatan dan kebaikan yang dilakukan semasa di dunia, baik amal-amal yang dirinya bersegera melakukannya, alias terlambat dia kerjakan lantaran malas, alias apalagi yang lengah (lalai) sehingga tidak dia kerjakan. Semua itu bakal dimintai pertanggungjawabannya.
Momen manusia mengetahui kebaikan apa yang telah dia kerjakan dan telah dia lalaikan adalah ketika lembaran catatan kebaikan dibagikan dan dibuka oleh masing-masing orang. Pada saat ini, seorang hamba mengetahui dengan pengetahuan yang rinci atas semua amalnya. Adapun pengetahuannya secara dunia alias garis besar apakah dia selamat alias tidak, sebenarnya sudah didapatkannya sejak masa pembangkitan dari kubur. Sebab pada masa ini, manusia yang saleh telah mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan, sedangkan manusia yang jelek amalnya telah memandang tanda-tanda kesengsaraannya. Akan tetapi, pengetahuan terperinci tentang amalnya baru bakal dia peroleh ketika catatan kebaikan dibagikan.
Pendapat dalam tafsir yang lain mengatakan bahwa makna قَدَّمَتْ adalah amal-amal yang membuatnya maju menuju surga berupa amal-amal ketaatan, dan makna وَاَخَّرَتْۗ adalah amal-amal yang membuatnya mundur dari surga menuju neraka, berupa amal-amal maksiat. Karena sejatinya, manusia sedang melangkah pulang; jika dirinya beramal saleh, maka dirinya sedang melangkah maju ke surga, lantaran memang itu adalah kampung laman kita. Adapun jika dirinya beramal maksiat, maka dia bakal mundur menuju neraka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ
“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia.” (QS. Al-Infiṭār: 6)
Setelah manusia dibangkitkan dari kubu mereka, serta mereka telah mengetahui gimana catatan kebaikan mereka, tanda-tanda kebahagiaan alias kesengsaraan juga telah jelas terlihat, maka pada ayat ini Allah mencela orang-orang yang durhaka kepada-Nya, lalai dari alim kepada-Nya, tidak berterima kasih atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Rabb semesta alam.
Pendapat yang kuat menyatakan bahwa ayat ini tidak tertuju unik kepada orang-orang yang kafir dan musyrik saja, bakal tetapi apalagi tertuju kepada semua orang yang melakukan maksiat, baik itu seorang muslim yang tidak menjalankan ketaatan dengan baik alias menerjang larangannya lantaran menuruti hawa nafsu.
Bentuk kalimat pertanyaan di sini bukanlah corak kalimat yang memerlukan jawaban, bakal tetapi corak tahdid atau ancaman. Fudhail bin Iyadh rahimahullah memberikan perenungan, “Bayangkan, jika Allah menghadirkan hari hariakhir tepat di depan wajahmu, kemudian bertanya apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Rabb yang Maha mulia? Maka, apa yang bakal engkau jawab?”
Dalam ayat yang bagus sekaligus mencekam ini, Allah mendahulukan penyebutan namanya, ialah Ar-Rabb, kemudian baru disusulkan dengan nama Al-Karim (Yang Maha mulia). Lalu, apa rahasianya?
Allah pertama menyebut kata Rabb, yang artinya tuhan alias pembuat dan pengatur alam raya untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah makhluk yang diciptakan dan dimulai dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan makna pembuatan dan penjagaan manusia. Kemudian disusul dengan Al-Karim (Yang Maha mulia dan Maha dermawan), sebagai corak pengingat terhadap beragam nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yang seyogyanya manusia mensyukurinya dengan corak kepatuhan yang tulus kepada Allah, bukan malah menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ
“Yang telah menciptakanmu, lampau menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?” (QS. Al-Infiṭār: 7)
Allah Ta’ala kemudian menyebut beberapa kenikmatan yang semestinya disadari oleh manusia. Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan, lampau menjadikan mereka sebagai makhluk yang sempurna serta proporsional, yang mempunyai personil tubuh yang sehat dan berfaedah baik, sehingga manusia dapat mendengar, melihat, serta berpikir.
Allah Ta’ala juga membikin manusia berkembang dan hidup dalam corak yang seimbang, mempunyai postur tubuh terbaik dan terindah dari semua makhluk. Manusia hidup dengan tegak, seimbang, simetris, tidak berat alias panjang sebelah, serta mempunyai kegunaan tubuh paling ideal untuk menjadi khalifah dan pengelola muka bumi ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ
“Dalam corak apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infiṭār: 8)
Allah membentuk manusia dan menyusun anatomi tubuh mereka sesuai dengan kehendak-Nya, berupa susunan tubuh yang bagus dan mengangumkan, kompleks dan berfaedah dengan sempurna. Sampai sebagian cerdas pandai mengatakan bahwa manusia adalah semesta mikroskopis lantaran sangat kompleksnya anatomi serta kegunaan tubuh mereka. Allah juga tidak membikin manusia berbentuk seperti hewan dengan melangkah menggunakan empat kaki alias apalagi melata seperti ular.
Seandainya manusia mau merenungi nikmat yang luar biasa ini, kemudian sadar sungguh besar kasih sayang Allah kepada mereka, pastilah manusia bakal mengerahkan semua daya dan upayanya untuk tunduk patuh, bersyukur, menyembah kepada-Nya, Rabb semesta alam.
[Bersambung]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/