Kincai Media– Berikut doa memohon terbebas dari utang dan memperoleh keluasan rezeki. Setiap manusia tentu mendambakan hayat yang berkecukupan. Bukan semata-mata agar memiliki banyak harta, tetapi agar dapat menjalani hayat dengan tenang, terbebas dari lilitan utang, serta tidak bersandar kepada sesama makhluk.
Islam mengajarkan bahwa kecukupan sejati pada hakikatnya berasal dari Allah SWT. Karena itu, kecuali berupaya mencari rezeki, seorang Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak doa kepada Allah agar diberikan kecukupan dan dijauhkan dari kefakiran.
Di antara doa yang memiliki kandungan arti yang sangat dalam adalah doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW berikut:
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai bumi, dan Tuhan yang menguasai Arasy yang agung. Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Yang membelah butir biji-bijian dan biji kurma. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (berkuasa penuh atasnya).
Ya Allah, Engkaulah Yang Pertama, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Terakhir, maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Zahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Dan Engkaulah Yang Batin, maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”
Memohon Kecukupan kepada Allah
Pada bagiankecil akhir doa tersebut terdapat permohonan yang sangat penting:
اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
“Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”
Doa ini memberitahu bahwa seorang Muslim tidak cuma memohon agar kebutuhan duniawinya terpenuhi, tetapi juga meminta pertolongan Allah agar terbebas dari beban utang dan keadaan yang membuatnya eksis dalam kekurangan.
Utang dalam hayat manusia bukan permasalahan yang ringan. Ia dapat menjadi beban pikiran dan mengganggu ketenangan hidup. Karena itu, memohon kepada Allah agar utang dilunasi merupakan bagiankecil krusial dari doa tersebut.
Menariknya, Imam An-Nawawi memberikan klarifikasi yang lebih luas mengenai kata ad-dain (الدَّيْن) dalam doa ini. Dalam buku Syarh Shahih Muslim, Jilid 17, halaman 199, Ia menerangkan bahwa ada kemungkinan yang dimaksud dengan ad-dain bukan cuma utang dalam pengertian materi, tetapi mencakup seluruh hak Allah SWT dan seluruh hak manusia dalam beragam bentuknya.
Dengan demikian, doa tersebut dapat dipahami secara lebih luas sebagai permohonan agar Allah membantu seorang hamba menunaikan beragam tanggung jawab dan tanggungan yang menjadi hak Allah maupun hak sesama manusia.