Kisah Wafat Ibrahim, Putra Rasulullah

Bincang Syariah oleh Waktu baca 4 menit 85x dilihat
Kisah Wafat Ibrahim, Putra Rasulullah

Bagikan Postingan

Kisah Wafatnya Ibrahim, Putra Rasulullah
Kisah Wafatnya Ibrahim, Putra Rasulullah

Kincai Media– Di antara peristiwa paling mengharukan dalam hayat Rasulullah  adalah wafatnya Ibrahim, putra beliau dari Mariyah Qibtiyah. Ibrahim merupakan putra Rasulullah yang terakhir lahir. Kehadirannya sempat membawa kebahagiaan besar bagi Rasulullah, tetapi kebahagiaan itu tidak terjadi lama.

Ibrahim wafat ketika usianya statis sangat kecil. Kepergiannya menjadi salah satu cobaan bermutu yang mesti dihadapi Rasulullah sebagai seorang bapak sekaligus sebagai seorang rasul. Sejarawan dan sastrawan Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, dalam Hayāt Muhammad, menggambarkan bahwa wafatnya Ibrahim merupakan kesedihan yang sangat mendalam bagi Rasulullah.

Nabi menyaksikan sendiri saat-saat terakhir putranya. Kesedihan itu tidak beliau sembunyikan. Air mata mengalir dari kedua mata beliau ketika Ibrahim mengembuskan napas terakhir.

Haekal menuturkan bahwa pada saat itu Rasulullah berkata:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يُرْضِي رَبَّنَا

Artinya; “Sesungguhnya mata meneteskan air mata, hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridai Tuhan kami.”

Ungkapan tersebut memperlihatkan sepertiapa Rasulullah menghadapi kehilangan. Beliau tidak mengingkari kesedihan. Beliau menangis sebagai seorang bapak yang kehilangan anak yang dicintainya. Namun kesedihan itu tidak membikin beliau keluar dari batas yang diridai Allah.

Nabi Menangis karena Ibrahim Wafat

Dalam histori sahih yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, Anas bin Malik SAW menceritakan bahwa ketika Ibrahim eksis dalam keadaan sekarat, Rasulullah datang menjenguknya.

Beliau kemudian menggendong Ibrahim dan meletakkannya di pangkuan. Tidak durasi kemudian Ibrahim wafat dunia.

Air mata Rasulullah  pun mengalir.

Abdurrahman bin Auf yang melihat hal itu bertanya dengan penuh keheranan, “Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?”

Nabi  menjawab:

يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ

“Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat.”

Kemudian beliau menerangkan bahwa mata menangis dan hati bersedih, tetapi seorang mukmin tidak boleh mengucapkan sesuatu kecuali yang diridai Allah.

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat penting. Menangis bukan tanda bahwa seseorang tidak sabar. Kesabaran bukan berarti tidak memiliki kesedihan. Kesabaran adalah kapasitas menjaga hati, lisan, dan perbuatan agar statis eksis dalam kepatuhan kepada Allah ketika bencana datang.

Gerhana Matahari pada Hari Wafat Ibrahim

Wafatnya Ibrahim juga bertepatan dengan terjadinya eklips matahari. Sebagian penduduk ketika itu mengira bahwa eklips tersebut terjadi karena wafatnya putra Rasulullah. Namun Nabi  segera meluruskan anggapan tersebut.

Beliau bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ

Artinya; “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami eklips karena kematian maupun hayat seseorang.”

Rasulullah  kemudian mengarahkan kaum Muslimin untuk melaksanakan salat, berdoa, dan mengingat Allah ketika terjadi gerhana.

Sikap Nabi  ini memberitahu bahwa kesedihan pribadi tidak boleh membikin seseorang membiarkan kepercayaan yang keliru berkembang di tengah masyarakat.

Ibrahim Pergi, Dakwah Tetap Berjalan

Wafatnya Ibrahim tentu meninggalkan luka mendalam dalam hati Rasulullah . Namun hayat dakwah tidak berhenti. Rasulullah statis menjalankan tugas kerasulan, membimbing umat, menerima para tamu dan delegasi, serta menjalankan beragam amanah yang Allah berikan kepada beliau.

Di sinilah kita melihat keteguhan Rasulullah. Beliau menangis sebagai seorang ayah, tetapi statis teguh sebagai seorang rasul.

Kesedihan tidak membikin beliau melupakan Allah. Kehilangan tidak membikin beliau meninggalkan tugas. Air mata mengalir, tetapi kepercayaan statis kokoh.

Dalam konteks sejarah, wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun ke-10 Hijriah, menjelang masa akhir hayat Rasulullah . Pada tahun tersebut pula Rasulullah  melaksanakan Haji Wada‘.

Adapun istilah ‘Ām al-Wufūd (عام الوفود) maupun “Tahun Delegasi” lebih tepat dikaitkan dengan tahun ke-9 Hijriah, ketika banyak delegasi dari beragam kabilah datang kepada Rasulullah .

Kisah wafatnya Ibrahim bukan sekadar cerita tentang meninggalnya seorang anak Rasulullah . Di dalamnya terdapat pelajaran besar bagi setiap orang yang pernah kehilangan orang yang dicintainya.

Pertama, Islam tidak melarang seseorang menangis karena kehilangan. Rasulullah  sendiri menangis ketika Ibrahim wafat. Kedua, kesedihan tidak bertentangan dengan kesabaran. Seseorang boleh merasa sangat sedih, tetapi ia statis menjaga ucapan dan tindakannya.

Ketiga, bencana tidak boleh menjauhkan manusia dari Allah. Justru pada saat kehilangan, seorang mukmin semakin membutuhkan pertolongan dan keteguhan dari-Nya.

Dan keempat, hayat mesti terus dijalani. Rasulullah  kehilangan putranya, tetapi beliau statis melanjutkan amanah dakwah hingga akhir hayat.

Ibrahim memang pergi dalam usia yang sangat muda. Namun kepergiannya meninggalkan sebuah pelajaran yang akan terus hidup sepanjang zaman:

Mata boleh menangis, hati boleh bersedih, tetapi seorang hamba statis menerima ketetapan Allah dengan kepercayaan dan kesabaran. Itulah keteladanan Rasulullah ketika menghadapi wafatnya putra tercinta, Ibrahim.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
Close Right Ads
Close Left Ads