Sultan Muhammad Al Fatih kala mengepalai pasukannya membebaskan Konstantinopel (Istanbul).
Kincai Media, JAKARTA— Kaum Muslimin menanti selama lebih dari delapan abad hingga berita ceria Nabi tentang penaklukan Konstantinopel akhirnya terwujud.
Penaklukan tersebut merupakan harapan yang sangat bermutu dan harapan yang begitu didambakan oleh para khalifah, pemimpin, dan penakluk sepanjang sejarah Islam yang gemilang.
Impian itu tidak pernah padam oleh berlalunya hari dan pergantian tahun. Ia statis menjadi tujuan yang membara, membangkitkan keinginan besar dalam batin untuk mewujudkannya, agar orang yang berhasil menaklukkannya menjadi sosok yang mendapatkan pujian Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:
لتفتحن القسطنطينية، فلنعم الأمير أميرها، ولنعم الجيش ذلك الجيش
“Sungguh, Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Sebaik-baik imam adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.”
Penaklukan Konstantinopel terjadi pada 21 Jumadal Ula 857 H / 29 Mei 1453 M. Barangkali hal yang menjadi ciri khas khusus pada tahun tersebut adalah pemilihan presiden Turki yang tahapan-tahapannya bertepatan dengan peringatan penaklukan besar tersebut.
Kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Parti) di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, menurut penulis, akan menjadi—dengan persetujuan Allah Ta‘ala—kemenangan baru bagi umat ini dalam sejarah modernnya.
Sebelum ditaklukkan, Konstantinopel merupakan penghalang besar bagi penyebaran Islam di Eropa.
Oleh karena itu, jatuhnya Konstantinopel berarti terbukanya jalan bagi Islam untuk memasuki Eropa dengan lebih kuat dan memberikan ruang yang lebih luas bagi orang-orang yang mau memeluknya.
Penaklukan Konstantinopel dianggap sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah dunia, khususnya dalam sejarah Eropa dan hubungannya dengan Islam.