Jamaah Palestina berkumpul di kompleks Masjid Al-Aqsa untuk shalat Jumat kedua selama bulan suci Ramadhan, di Kota Tua Yerusalem, 27 Februari 2026.
Kincai Media, JAKARTA-Pada 13 Ramadhan tahun 15 H, Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA tiba di Yerusalem, setelah pasukan kaum Muslimin terlibat dalam beragam pertempuran sengit melawan Romawi di daerah Syam, antara lain di Ajnadain dan Yarmuk.
Dengan pertolongan dan taufik Allah SWT, serta semangat jihad yang mereka miliki, kaum Muslimin berhasil membebaskan negeri-negeri yang penuh keberkahan di Palestina dan Syam dari dominasi Romawi. Mereka kemudian menerima kunci Kota Yerusalem.
Khalifah Umar al-Faruq kemudian menulis sebuah arsip yang masyhur dengan nama “Perjanjian Umar” (al-‘Ahdu al-‘Umariyyah) bagi penduduk Yerusalem—yang ketika itu disebut Iliya’. Di dalamnya, beliau memberikan garansi keamanan atas jiwa, harta, dan hayat mereka.
Perjanjian Umar dipandang sebagai bukti bahwa Islam adalah kepercayaan yang menjunjung toleransi, hidup berdampingan, dan kasih sayang, bukan kepercayaan yang memaksakan keyakinan.
Perjanjian tersebut juga menjadi kesaksian sejarah bahwa kaum Muslimin memperlakukan umat Nasrani yang tinggal di Yerusalem dengan metode yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Padahal, sebagai seorang penakluk dan pemenang, Umar sebenarnya memiliki dominasi untuk menetapkan apa saja yang dikehendakinya terhadap penduduk setempat.
Namun, beliau tidak berbuat hal itu. Sebab, beliau mewakili nilai-nilai Islam. Islam tidak memaksa seseorang untuk memeluk agama, dan keagamaan cuma diterima jika lahir dari kerelaan hati.
Iman kepada Allah SWT bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan kepada manusia, karena kepercayaan merupakan perkara hati, sedangkan tidak ada yang mengetahui rahasia hati manusia kecuali Allah SWT.
Penaklukan Umar atas Yerusalem pada tahun 15 H/636 M merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah penaklukan Islam yang tidak akan hilang ditelan zaman.
Hal itu tidak terlepas dari jabatan historis dan religius Masjid Al-Aqsa yang begitu tinggi dalam hati kaum Muslimin.