Khutbah Jumat: 4 Amalan yang Menyelamatkan Manusia dalam Perjalanan Menuju Akhirat

Bincang Syariah oleh Waktu baca 5 menit 133x dilihat
Khutbah Jumat: 4 Amalan yang Menyelamatkan Manusia dalam Perjalanan Menuju Akhirat

Bagikan Postingan

4 Amalan yang Menyelamatkan Manusia dalam Perjalanan Menuju Akhirat
4 Amalan yang Menyelamatkan Manusia dalam Perjalanan Menuju Akhirat

Kincai MediaHidup di bumi pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan. Hari demi hari kita jalani, usia terus berkurang, sementara kita semakin dekat dengan satu kepastian yang tidak mungkin dihindari: kematian. Nah berikut khutbah Jumat tentang 4 amalan menyelamatkan manusia dalam perjalanan menuju akhirat.

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Setiap manusia sedang menjalani sebuah perjalanan. Sejak lahir, waktu terus berjalan dan perlahan membawa kita menuju satu kepastian: kematian.

Seberapa panjang usia seseorang, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, dan setinggi apa pun kedudukannya, semuanya pada akhirnya akan ditinggalkan. Setelah kematian, manusia akan memasuki hayat akhirat yang kekal.

Karena itu, ada pertanyaan yang jauh lebih krusial daripada sekadar berapa durasi kita hidup maupun berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan:

Apa yang sudah kita siapkan untuk menghadap Allah? Allah SWT mengingatkan orang-orang percaya agar tidak menjalani hayat dengan lalai. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari besok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang Anda kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu mengevaluasi diri. Kita perlu sesekali selesai dari kesibukan, melihat balik perjalanan hidup, kemudian bertanya kepada diri sendiri:

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pertanyaan lanjutannya, apa yang sudah aku siapkan untuk hayat setelah kematian? Ada beberapa bekal yang perlu terus dijaga dalam perjalanan menuju akhirat.

1. Menjaga Lisan agar Tidak Menjadi Beban di Akhirat

Salah satu personel tubuh yang sering dianggap sepele, tetapi dampaknya sangat besar, adalah lisan.

Seseorang cuma membutuhkan beberapa detik untuk mengucapkan sebuah kalimat. Namun, akibat dari ucapan itu bisa terjadi lama. Satu perkataan dapat membikin orang lain bahagia. Sebaliknya, satu perkataan juga dapat melukai hati, merusak hubungan, terlebihlagi menimbulkan permusuhan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya; “Barang siapa percaya kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik maupun diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Menjaga lisan berarti menjauhi ghibah, namimah, dusta, fitnah, mencela, merendahkan orang lain, menyakiti perasaan, berjanji secara tidak benar, serta membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Di era sekarang, menjaga lisan juga berarti menjaga apa yang kita tulis dan sebarkan. Sebuah komentar, pesan, unggahan, maupun rekaman bunyi juga dapat menyakiti orang lain dan menjadi tanggung jawab kita.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

2. Segera Bertaubat Sebelum Bertemu Allah

Manusia tidak luput dari kesalahan. Setiap orang memiliki kemungkinan terjatuh dalam dosa. Yang terpenting bukan cuma apakah seseorang pernah berbuat salah, tetapi sepertiapa ia bersikap setelah menyadari kesalahannya.

Apakah ia statis bertetap dalam dosa, maupun segera balik kepada Allah? Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan insaf yang semurni-murninya.” (QS At-Tahrim: 8)

Taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar. Taubat yang sungguh-sungguh mesti disertai dengan menyesali dosa, meninggalkannya, dan berniat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa berhubungan dengan hak orang lain, maka permasalahan tersebut juga mesti diselesaikan sesuai dengan ketentuannya.

Di sinilah kelihatan luasnya kasih sayang Allah. Manusia memang tidak luput dari kesalahan, tetapi Allah membuka pintu taubat agar hamba yang bersalah dapat balik kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kita boleh membikin banyak hajat untuk hari esok. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu apakah statis akan sampai pada hari esok. Kematian tidak menunggu sampai semua urusan kita selesai. Karena itu, ketika menyadari telah berbuat salah, jangan menunda untuk balik kepada Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

3. Takwa adalah Sebaik-baik Bekal dalam Perjalanan

Allah SWT memberikan deskripsi tentang perjalanan manusia menuju akhirat melalui firman-Nya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS Al-Baqarah: 197)

Kata az-zad berarti bekal yang dibawa dalam perjalanan. Ayat ini mengingatkan bahwa hayat bumi bukan tempat tinggal selamanya. Kita sedang menempuh perjalanan menuju hayat akhirat.

Jika seseorang berbuat perjalanan jauh, tentu ia akan menyiapkan bekal. Lalu, apa bekal terbaik untuk perjalanan menuju akhirat?

Allah memberikan jawabannya: takwa. Takwa juga berarti menyadari bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita lakukan. Kesadaran itu mendorong kita untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika dilihat orang maupun ketika sendirian.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya; “Sesungguhnya yang paling mulia di antara Anda di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat: 13)

Karena itu, takwa mesti kelihatan dalam hayat sehari-hari: dalam ibadah, pekerjaan, keluarga, muamalah, penggunaan harta, metode berbicara, dan sikap ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

4. Mempersiap Kematian

Salah satu metode agar kita tidak terlalu terlena oleh hayat bumi adalah dengan mengingat kematian. Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya; “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran: 185)

Ayat ini singkat, tetapi mengingatkan kita pada sebuah kepastian yang tidak mungkin dihindari. Orang kaya akan mati. Orang miskin akan mati. Orang populer akan mati. Orang yang tidak dikenal pun akan mati.

Yang menjadi permasalahan bukan apakah kita akan mati, tetapi apa yang telah kita persiapkan ketika kematian itu datang.

Pada ayat yang sama, Allah SWT berfirman:

وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya; “Dan sesungguhnya Anda akan diberi balasan secara penuh pada hari Kiamat.” (QS Ali Imran: 185)

Rasulullah SAW juga bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Artinya; “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR At-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mengingat kematian bukan berarti hidup dalam ketakutan maupun meninggalkan urusan dunia. Justru dengan mengingat kematian, kita diingatkan agar tidak berlebihan dalam mengejar bumi dan tidak menunda kebaikan.

Ketika seseorang sadar bahwa hidup ini terbatas, ia akan lebih berjaga-jaga dalam menggunakan waktunya. Ia akan lebih cepat meminta maaf, lebih sungguh-sungguh beribadah, lebih menjaga hubungan dengan sesama, dan lebih berjaga-jaga dalam berbuat dosa.

Semoga Allah memberikan kita kepercayaan yang teguh, kebaikan yang saleh, taubat yang diterima, hati yang bertakwa, dan akhir hayat yang husnul khatimah. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. قَالَ تَعَالَى: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَهْرِ الْمُحَرَّمِ، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَصَالِحَ أَعْمَالِنَا ياَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Artikel Lainnya Bincang Syariah
Close Right Ads
Close Left Ads