Jakarta -
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang berkedudukan krusial dalam perkembangan anak. Dalam lingkungan ini, orang tua menjadi figur yang terlibat secara langsung dalam proses pengasuhan, Bunda.
Pola asuh yang diterapkan orang tua rupanya dapat memengaruhi kondisi psikologis anak, termasuk tingkat stres yang dialaminya. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola asuh yang garang dapat memengaruhi keahlian anak dalam menghadapi dan mengelola stres.
Studi yang diterbitkan di jurnal Child Development ini menyelidiki teori 'ko-regulasi', di mana kondisi fisiologis orang tua yang tenang dapat membantu menstabilkan sistem saraf anak. Dalam studi, para peneliti melacak pasangan ibu-anak selama periode satu tahun menggunakan monitor debar jantung dan pernapasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil studi tentang akibat pola asuh agresif
Studi ini mengungkapkan bahwa meskipun pengaruh biologis orang tua secara alami menurun ketika anak mulai belajar mengatur diri sendiri, pola pengasuhan yang keras secara bentuk alias psikologis dapat membalikkan perihal tersebut.
Anak-anak yang mengalami pola pengasuhan agresif, seperti seperti dipukul alias orang tua suka berteriak, menunjukkan disregulasi fisiologis yang lebih besar dan respons stres yang kaku. Hal itu memaksa anak untuk menjadi lebih berjuntai pada pengaturan eksternal seiring bertambahnya usia.
Penelitian yang dipimpin oleh mahasiswa doktoral Jianing Sun and Professor Psikologi Erika Lunkenheimer ini, memvalidasi sebagian dari teori lama yang mengatakan bahwa orang tua bertindak sebagai pengatur fisiologis utama bagi anak-anak mereka yang tetap kecil.
Menurut teori tersebut, keadaan orang tua yang lebih tenang dan terkendali memungkinkan anak untuk mengatur respons tubuh mereka dengan lebih baik di saat-saat stres. Proses 'pengaturan bersama' ini menjadi lebih seimbang seiring bertambahnya usia anak.
"Anak-anak mini berjuntai pada respons orang tua mereka bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk mempelajari ritme yang tepat dalam mengatur kondisi bentuk dan emosional," kata Lunkenheime, dilansir laman Neuroscience News.
"Menurut teori, respons orang tua yang sensitif dan konsisten menumbuhkan rasa kondusif dan nyaman, sehingga sistem saraf anak dapat tenang. Di luar perilaku pengasuhan, penelitian kami menunjukkan bahwa kondisi bentuk orang tua yang lebih tenang dan terkendali saat mengasuh anak juga memainkan peran kunci, meletakkan dasar tentang gimana anak-anak mengatur stres dalam tubuh dari waktu ke waktu."
Ibu dengan riwayat pengasuhan garang dan dampaknya pada anak
Lunkenheimer mengatakan, para ibu berisiko mengasuh anak dengan lebih keras jika mereka sendiri pernah mengalami pengasuhan garang alias perlakuan jelek saat kecil. Risiko itu meningkat ketika mereka merasa kewalahan dan mempunyai lebih banyak aspek pemicu stres, seperti tantangan dalam mengasuh anak, bentrok keluarga, kesulitan finansial alias pekerjaan, alias indikasi kesehatan mental yang lebih berat.
"Kami menemukan bahwa ibu-ibu dengan akibat lebih rendah dan tidak terlalu keras bisa mengatur fisiologi anak-anak mereka yang tetap mini selama interaksi, dan pengaruh ibu melemah seiring perkembangan anak seiring bertambahnya usia," kata penulis utama studi Jianing Sun.
"Namun, pola sebaliknya ditemukan pada ibu yang lebih keras, yang menunjukkan peningkatan izin eksternal terhadap fisiologi stres anak-anak. Tak hanya itu, anak-anak juga menunjukkan lebih banyak kesulitan izin fisiologis seiring bertambahnya usia, yang mencerminkan akibat lebih besar untuk mengembangkan masalah regulasi," lanjutnya.
Dalam studi ini, para peneliti mengawasi 129 pasangan ibu-anak berisiko sebanyak dua kali. Pertama, ketika anak berumur tiga tahun. Kedua, di satu tahun kemudian.
Sebelum pengamatan, para ibu menjawab kuesioner tentang style pengasuhan mereka, melaporkan perilaku pengasuhan yang keras, seperti apakah dan seberapa sering mereka berteriak alias menggunakan balasan fisik. Selama observasi, anak-anak diberi tugas teka-teki yang menantang, dan para ibu diberitahu bahwa mereka dapat memberikan pengarahan verbal tetapi tidak boleh menyelesaikan teka-teki tersebut.
Selama studi ini, ibu dan anak juga diobservasi dengan monitor jantung dan pernapasan untuk melacak aritmia sinus pernapasan (RSA), ialah pengukuran fisiologis tentang gimana debar jantung bervariasi dengan pernapasan.
"Kami menemukan bahwa RSA ibu dalam satu interval dapat memprediksi RSA anak pada interval berikutnya, yang memberikan bukti bahwa ibu dapat mengatur kondisi fisiologis anaknya," kata Sun.
"Kami juga menemukan pada ibu yang tidak terlalu keras, pengaruh ini berkurang seiring bertambahnya usia anak dari tiga menjadi empat tahun, yang menunjukkan bahwa anak kurang berjuntai pada ibunya untuk pengaturan biologis ini. Namun, pengaruhnya meningkat pada ibu yang lebih keras dan anak-anak mereka."
Peningkatan ini menunjukkan bahwa anak-anak yang diasuh dengan keras oleh orang tua tidak mampu mengatur stres sebaik kawan sebaya mereka, yang menyebabkan mereka memerlukan lebih banyak support pengaturan eksternal seiring bertambahnya usia.
Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang kenapa anak-anak yang diasuh dengan keras alias mengalami penganiayaan, menunjukkan sistem respons stres yang kurang fungsional, dan itu mungkin sebagai akibat dari lingkungan yang penuh tekanan.
"Kami menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh keras juga menunjukkan inersia RSA yang lebih besar. Setelah dihadapkan pada tantangan, dibutuhkan waktu lebih lama bagi tingkat stres mereka yang tinggi untuk kembali ke tingkat normal," ungkap Lunkenheimer.
"Anak-anak ini mungkin tidak menerima masukan yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem pengaturan dengan benar, alias menjadi lebih kaku dan kurang responsif."
Demikian studi terbaru yang mengungkap kaitan pola asuh garang orang tua pada keahlian anak dalam mengatasi stres. Semoga info ini berfaedah ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·